Tuesday, December 27, 2011

5:45 AM - No comments

Yang Kau Sebut Dengan Keyakinan

Sedikit kaget, ketika aku telah melewati perkembangan kehidupannya selama beberapa bulan. Aku memang terlalu sibuk di hari kerja. Terlalu lelah di akhir pekan. Sehingga, aku sungguh- sungguh tak menyadari, bahwa sudah banyak hal terjadi padanya. Aku memang lama tak pernah menanyakan hidupnya lagi. Makanya, kurelakan Sabtu siangku yang kemarin itu untuk mendengar ratapannya. Dalam isakannya, yang kurasa, dia berusaha menahannya sekuat tenaga di hadapanku. Dan aku yang setengah sadar, setengah mengantuk harus menormalkan kondisi siang itu.

Aku tak banyak berkomentar. Mungkin akibat mengantuk. Mungkin akibat aku terlalu terkejut mendengar kisahnya ini. Tapi. Yang aku ingat, aku menyampaikan hal ini kepadanya.

“Siapa sih ia? Orang asing yang baru saja kita kenal. Yang baru hari kemarin, membuat kita melayang- layang. Mengangkasa. Hari-hari indah seriang mentari di pagi yang ceria. Dan serasa kita harus melakukan keputusan penting untuk hidupnya. Menyatukannya bersama hidup kita. Secepatnya. Tanpa mempedulikan, siapa dan apa yang telah menjadikan kita serupa sekarang? Siapa ia? Ia tak akan pernah menyaingi apa yang sudah mendarah dalam diri kita. Ia tak akan mampu mengalahkan jatuh bangun, tenaga, duka tawa orang tua kita dalam berjuang membesarkan kita. Ia hanya selingan. Orang tua kita adalah abadi. Kasih sayang orang tua tak pernah mati. Benarkah kita harus mengorbankan orang-orang berharga yang begitu tulusnya mencintai kita sejak masih bayi, dengan rasa picisan bernama cinta? Ke-ego- an sesaat, kesenangan yang sifatnya singkat ini…? Tak akan sebanding dengan penyesalan yang akan kita dapat nanti. Perbedaan sangat beresiko ini takkan bisa ditoleransi oleh orang tua kita. Bahkan hingga mereka meninggalkan kita di dunia. Aku tak akan membawa- bawa nama Tuhan, karena pastinya Tuhan takkan tinggal diam. Aku pun merasa tak pantas untuk menyalahkan. Tapi. Aku pikir kau sudah dewasa. Tentu kau pasti mengerti. Apa itu konsekuensi dari salah ataupun benar.."

Kututup siang itu, yang juga bersamanya, dengan lelap beserta nyenyaknya dibuai peraduan dan rintikan hujan. Be tough gurl, ya L. Coz I ♥ you swity.. Trust! We can make everythings gonna be better! :)

Thursday, December 22, 2011

7:58 AM - No comments

Naluri Ibu. Yang Dipertanyakan.

Hari Ibu. Ya. Hari ini tanggal 22 Desember, bertepatan dengan hari Ibu. Kali ini, saya tidak ingin menulis tentang segala kebaikan Ibu kandung saya. Karena kebaikan dan ketulusan beliau, tidak bisa sekedar diungkap melalui tulisan. Beliau me-le-bi-hi se-ga-la-nya, walau saya bukan jenis orang yang bisa romantis kepada beliau. Yah, di usia segini rasa malu memang jauh lebih mendominasi, daripada kasih sayang saya kepada beliau.

Tadi, di pagi buta sehabis bangun tidur saya ucapkan selamat hari Ibu kepada mama saya. Nggak ada sweet-sweetnya sama sekali. Soalnya saya masih ngucek-ngucek mata, dan tempatnya di depan kamar mandi pula. Mama malah ngasih ucapan balik ke saya.
“Selamat hari ibu juga, selamat hari Ibu ya calon Ibu. Ibu Dina, hehehe”
Haikss..pagi yang agak membingungkan ya?? :D

Lalu. Saya teringat satu kicauan dari om Alvin Adam hari ini, bunyinya begini: “Setiap perempuan tentu punya naluri keibuan…dgn gaya dan ciri masing..&mau tidak meng-explore nya…#mother’sday” Huksss..! Ngerasa ketonjok saja! Iyah! Saya meragukan sense of mommy dalam diri saya, teman.. How could it be?

Di waktu masih berumur belasan, sekitar masa saya yang masih dibilang abege muda, bukan abege tua seperti sekarang. Saya sangat tidak suka anak kecil! Sangat tidak suka. Bagi saya, anak kecil itu rewel, menjengkelkan dan merepotkan!! Tapi. Rupanya Tuhan senang sekali mempermainkan saya.. Beberapa bulan sebelum lulus dari sekolah, saya ditakdirkan selalu menangani dan mengajari anak kecil. Dari mulai studi lapangan, KKN singkat selama seminggu. Bahkan, setelah lulus dan mengabdi. Saya dipertemukan lagi dengan celotehan riang dan wajah-waja polos mereka. Saya masih ingat, tiap siang saya harus berteriak-teriak melafalkan nushus di hadapan mereka supaya mereka bisa cepat menghafalnya. Terkadang saya mengajak mereka keluar, ke sawah, belajar secara outdoor sambil mendiskusikan benda-benda di sekitar mereka dengan bahasa Inggris. Sebelum pulang, saya memeluk mereka satu persatu di kelas. Sederhana. :) Tapi, itu kenangan yang manis sekali. Saya tidak berani untuk menghapus mereka dalam ingatan.

Lantas. Apakah benar, jika indikasi dari naluri keibuan seorang perempuan itu berdasarkan caranya menghadapi anak kecil? Saya berusaha mencoba untuk meyakininya. Setaun lalu, saya sempet menemani tante saya merawat dan menjaga bayinya yang baru berumur dua bulan. Kemampuan saya memang benar-benar minim. Selain saya tidak bisa menyusuinya (yaiyyaaaalaaaah! :p), saya selalu panik ketika dede’ mungil ini menangis. Bukannya panik sih, tepatnya, jika ia menangis sulit sekali ,meredakannya walau saya sudah menggendong dan menimang-nimangnya. Entah, apa karena dede’ kecil jengkel kepada saya yang jelas-jelas tidak bisa menyusuinya. Ato mungkin memang ada hal tak nyaman yang tak bisa ia ungkapkan selain menangis? Ahh, saya tidak tau.. :(

Saya ingin sekali punya sifat-sifat keibuan loh..pengeeeen banget! Apakah saya harus perlu menjalani masa kehamilan yang melelahkan itu? Melewati detik-detik menyakitkannya persalinan? Dan, betapa nyamannya bisa menyusui malaikat kecil itu nanti? Kebingungan yang tak berhenti. Apa naluri keibuan itu bisa didapat “begitu saja”? Benarkah itu berasal dari bawaan? Atau bisa “direkayasa” dengan lingkungan? Pengalaman? Banyaknya pembelajaran?

Hmm…. Yang pasti. Saya pernah merasakan perasaan luar biasa itu. Ketika berhasil menidurkan sepupu kecil saya itu. Saat ia terlelap dalam dekapan saya dengan wajah penuh kedamaian. :) Perasaan menyenangkan! Walau bahu sedikit pegal gara-gara menggendongnya. :D Wuiih..itu bener-bener perasaan yang berbeda! Tak tergantikan! Kapan yah bisa merasakannya lagi? Hehehehehe

Yang menjadi perenungan saya saat ini. Bisakah suatu saat nanti, saya menjadi figur super mommah bagi anak-anak saya? Yang mana, suatu waktu nanti ia tak canggung membanggakan saya di depan teman-temannya. Perlu berapa taun lagi untuk saya, agar mendapat ucapan tulus selamat hari Ibu dari seorang anak yang mencintai saya sebagai Ibu? Hohohohohoho.. Lol! :D Menjadi seorang Ibu yaaaaang…oke! Katakanlah “hebat”. Memang sangaaaaaaaaatlah jauh dari sosok saya sekarang ini. Saya akui itu. Tapi. Saya akan tetap selalu berupaya, walau bukanlah Ibu hebat yang tepat, setidaknya mendekati kata “hebat” itu sendiri suatu hari nanti. :)

Tulisan ini akan ditutup dengan kicauan ambigu dari Obsat, yang dikutip dari Unilubis. Seperti ini » “Bagi perempuan, untuk menjadi Ibu atau tidak adalah pilihan. Patut dihargai..” #obsat #trimsIbu.

Wednesday, December 21, 2011

2:24 AM - No comments

Ketika Panik Menghantui Wanita

Ketika atasan meminta Anda menyusun proposal untuk ditawarkan kepada klien penting. Sering kali Anda panik karena hanya punya waktu sehari untuk menyiapkannya. Dan, Anda sendiri yang harus mempresentasikan proposal itu besok pagi di depan sejumlah klien penting. Apa yang terjadi pada Anda, dialami juga oleh banyak wanita bekerja lain. Baru-baru ini, www.anxietypanic .com, salah satu situs penyedia informasi seputar gangguan kecemasan, menyebutkan, tiga dari empat penderita gangguan panik adalah wanita. Menurut Sylvina Savitri, konsultan senior Experd, dibanding pria, wanita memang lebih sering terserang panik. Panik sebenarnya adalah kondisi alami pada setiap orang. Panik dalam kadar ringan yang datang hanya sesekali, adalah hal biasa. Tapi, jika cemas atau panik datang berulang dalam kadar tinggi, sehingga aktivitas kerja Anda terganggu, sebaiknya Anda waspada. Pasalnya, ada kemungkinan, panik Anda sudah menjadi gangguan klinis. Kalau hal itu yang terjadi, Anda bisa mengalami gangguan fisik. Antara lain, mual, tubuh gemetar, pusing, diare, serta konsentrasi dan daya penglihatan menurun. Gangguan panik yang parah bisa berujung pada agoraphobia (fobia berada di tengah banyak orang). Penderita agoraphobia sering takut tanpa alasan jelas, bila dirinya berada di tempat terbuka atau harus keluar dari rumah. Seseorang mengalami kepanikan karena dirinya mempersepsikan sesuatu secara berlebihan. Persepsi berlebihan itu bisa muncul akibat trauma kegagalan di masa lalu. Kepribadian seseorang juga turut menentukan muncul atau tidaknya rasa panik. Mereka yang senang berimajinasi berlebihan, berkepribadian perfeksionis atau berpendirian kaku, biasanya lebih rentan terserang panik. Demikian pula mereka yang selalu ingin memegang kontrol terhadap segala sesuatu. Selain itu, faktor-faktor fisik seperti genetis dan kesehatan fisik ikut berperan. Mereka yang punya riwayat depresi atau panic disorder dalam keluarga memiliki kemungkinan lebih besar mengalami serangan panik. Pada mereka ini, serangan panik bisa muncul tiba-tiba, sekalipun ketika kondisi fisik baru sedikit menurun. Jangan sampai rasa panik menguasai diri Anda, sehingga mengganggu aktivitas, kinerja dan hubungan dengan rekan kerja. (f)

Tuesday, December 20, 2011

11:17 PM - No comments

Techno Strees Part II

Lalu, apakah sekarang ini saya termasuk pengidap techno stress? Perkenalan dengan telpon puinter ini disebabkan saya nyandu sekali dengan tumblr. Kecanduannya sudah berbulan-bulan, dan sampai sekarang. Waktu di awal-awal senengnya utek-utek tumblr, tersebutlah beberapa telpon puinter yang memiliki aplikasi tumblr secara mobile. Di antaranya, I-phone, Blackberry dan Android. Maka, terbayang-bayanglah dalam mimpi, ngiler-ngiler, dan mupeng nggak jelas gitu. Kebayang nggak sih? Betapa kerennya kita! Kalo bisa sharing ini itu, posting sana sini, ngasih tau ke dunia berupa video, foto ato tulisan kita secara mobile??? Yak! Secara mobile broooo.. Posting apapuuuuuun. Posting kapanpuuuuun. Dan bisa posting di manapuuuuuuun! :D Terpilihlah andro sebagai inceran hape puinter buat saya! Mengapa andro? Karena, saya nilai hape andro emang paling “membumi” di antara hape canggih lainnya. Iphone? Wah, sebenerrnya pengen banget. Tapi nggak ada duit saya-nya loooh.. :( Kenapa kok nggak milih Blackberry?? Hadeeuh, hadeeuuh..maap deh yaaa. Saya emang orang indo, tapi saya bukan orang yang suka ngekor kalo nggak ngerti tujuan dari apa yang saya ikutin. Hehehehe. Berapa banyak orang beli BB yang sekedar cuman ikutaaaaan treeeen. Halah! Basiiiik.. :p Apalagi kualitas BB memang meragukan! Terutama kameranya. Maap deh, saya ndak suka. :p So, andro emang jadi pilihan ideal buat jadi gadget pinter. Selain harganya masih bisa dikompromi, aplikasinya ribuan, flexibel dan kameranya juga oke! Hingga, pada suatu hari di pertengahan bulan September, impian saya buat dapetin hape ini terjawablah sudah.. :) Indikator awal yang saya cari dari jenis hape andro, yang pasti OS-nya setidaknya sudah lumayan tinggi. Minimal 2.2 lah..yang froyo. Kamera pun juga walo nggak hebat-hebat banget, tapi kalo ukurannya 3,2 mp sudah lumayan kan ya? Selain itu, karena saya orangnya ndeso bin kuatrok poll masalah “sentuh menyentuh” (mayoritas ato bahkan semuanya hape andro pada touchscreen semua). Jadi, saya pilih hape yang memiliki papan tombol ato ketik. Istilah kerennya sih text+touch/hybrid. Pilihannya pada vendor yang berasal dari Korea Selatan itu loh.. Stop untuk menyebutkan merk yaph! :D Fungsi papan ketik juga dimaksudkan, agar saya lebih mudah menulis ini itu. Ingeeet, ceting juga masuk dalam kategori ketik mengetik loh yaaaa..hahahahaahaha. Saya seneng bangeeeet nulis soalnya. Mari kita mulai introspeksi tentang techno stress ini. Berapa akun yang sudah saya miliki hingga kini? Hmm, lumayan sih.. Tapi, alhamdulillah saya tidak sampai memiliki akun ganda dalam satu media sosial. Mungkin karena saya bukanlah orang yang menggunakan media sosial sebagai kebutuhan bisnis, hanya sebagai kebutuhan pribadi saja itu sudah cukup.Banyaknya gadget yang saya miliki? Untuk pribadi, saya memang hanya punya satu “piaraan andro” ini saja kok. Kalopun laptop dan komputer, biasanya dipake untuk umum, untuk semua keluarga. Begitupun modemnya. Kami masih belum memiliki tablet, walopun kemarin ibu saya sempat terpikir untuk membelinya. Tapi, ibu lebih memilih membeli note book untuk dirinya sendiri.Email yang saya install di hape? Ada 3 memang. Tapi, yang benar-benar saya fokuskan hanya satu saja kok. Yang lain hanya sesekali saya cek, karena memang jarang saya gunakan.Pernah panik gara-gara baterei ponsel habis? Pernah lah..apalagi kalo lagi ada yang penting banget buat saya obrolin di ceting, eh nyaris keputus gara-gara hape jerit-jerit mau lobet. Kalo dalam keadaan di rumah dan ada kabel charger, mungkin nggak masalah. Ceting bisa saya lanjutkan sambil men-charge-nya. Tapi kalo seandainya di luar ruangan dan nggak bawa kabel charger ato malah nggak ada sesuatu yang bisa dicolok buat men-charge hape. Ini yang memusingkan. Alhamdulillah sih, sampai detik ini nggak pernah ada kejadian yang memusingkan kayak gitu. Kalo hape memang butuh dicharge, dan saya merasa obrolan ceting masih bisa dipending, biasanya saya matikan dulu hape sambil dicharge. Saya memang mengupayakan sebisa mungkin, ketika men-chargenya, hape benar-benar dalam keadaan mati. Kecuali ada hal lain yang mendesak. Terusss.. Saya juga nggak pernah lupa tiap hari bawa kabel charger ke kantor loh.. :))Kesal setengah mati dengan koneksi internet yang putus nyambung? Alhamdulillah, nggak pernah tuh! ^_^ Sejauh ini, provider yang saya gunakan sangat memuaskan! Saya juga sudah mendaftar internet unlimited per-bulan. Jadi, belum pernah mengalami emosi tingkat tinggi dengan koneksi internet. Tapi, pernah saya melakukan perjalanan ke rumah temen yang sangat jauh di pedalaman, daerah Magetan sana. Jaringan provider yang saya gunakan bener-bener kosong! Tapi saya tak terlalu ambil pusing sih..karena hape satunya, hape yang menghubungkan saya dengan banyak orang tidak mengalami kasus seperti hape andro. Oia, saya memang punya 2 hape. Hape andro memang saya khususkan hanya untuk ber-internet ria saja dan koneksi dunia maya lainnya. Sedangkan, hape satunya berisi nomer provider yang memang dari dulu saya gunakan untuk telpon ato sms. Jadi, waktu itu memang bukan masalah banget buat saya. Semuanya tergantikan dengan pemandangan cantik nan eksotik di pegunungan Lawu dan Tawangmangu. See? Exactly, I’m not addicted with many people worried about. :)Durasi yang digunakan untuk eksis di dunia maya? Saya tidak tau jika harus mengakalkulasinya hingga berapa jam. Yang pasti, sesudah bangun tidur dan melakukan ritual subuh, saya gunakan untuk “cek sound” sebentar. Hehehehe. Yaaah, barangkali ada hal inspiratif yang saya temukan di pagi itu yang bisa membangkitkan mood saya, ato memberikan paling tidak secuil semangat untuk ngantor pada hari itu. Sekitar jam 6, gentayangan di dunia maya saya sudahi karena saya harus siap-siap ngantor. Kalo di kantor, aktivitas eksis di dunia maya juga terbatas. Palingan usai makan siang, jika ada sedikit waktu saya cek sound lagi. Ngintip tumblr ato sesekali reblog hal menarik. Biasanya dilanjutkan setelah pulang kantor kalo masih ada sisa batere. Lalu biasanya, saya matikan dan charge. Malamnya kalo baterenya sudah penuh, kadang saya cek sound lagi. Hahahahaha.. Maklum, saya jadikan aktivitas gentayangan ini untuk hiburan setelah seharian kerja. Yaaah, walo hanya hiburan dengan saling sapa bersama teman, yang tidak memungkinkan bagi saya untuk menemui mereka satu persatu dalam waktu yang bersamaan. :) Enjoy aja sih..saya kan memang butuh penyeimbang kegiatan, setelah menghadapi kejenuhan bekerja setiap harinya. :)Berapa aplikasi yang saya miliki? Wuaaah..berapa yah?? Jadi malu saya untuk menyebutkan berapanya. :’) Tapi saya punya kesimpulan begini. Aplikasi yang dimiliki seseorang di dalam hapenya, biasanya menunjukkan minat dan ketertarikannya terhadap suatu hal. :) Yipppiiih! Agreeeee!! Hehehehe.. Saya punya bermacam-macam aplikasi. Karena saya sangat menggilai tumblr, saya sampai punya dua aplikasi tumblr. Tumblr for Android dan Tumblelog. Dua aplikasi ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi saya nggak bisa untuk mencopot salah satunya. Karena dua-duanya bener-bener saya butuhkan. Selain aplikasi yang sewajarnya dimiliki hape andro berupa Youtube, Gmail, Gtalk, Google maps,Latitude de-es-be. Saya memang menambahkan aplikasi tambahan. Berita ato informasi populer seperti kesehatan, tips dan lain-lain, seperti detik.com dan majalah Intisari Online. Minat saya terhadap masak, seperti aplikasi Masak Apa. Ada Instan Heart Rate untuk menghitung detak jantung. Disqus, untuk mendukung aktivitas tumblr saya. Juga Blog It, aplikasi untuk memposting tulisan dan semacamnya ke blogspot. Media sosial, seperti Uber social, Whatsapp, Foursquare, Twitter for Android, E-buddy, Skype, YM, Yahoo Email. Dulu saya pernah pasang Fring, tapi saya copot. Juga ada Piclyf, tapi karena kecewa, saya ganti Piclyf dengan Picplz. Picplz ini berfungsi mengedit foto dan membackupnya, yang ketika dishare juga langsung tersambung dengan beberapa akun semisal Twitter, Facebook, Tumblr, Flickr, Foursquare dan Dropbox. Saya juga masih punya dua aplikasi khusus untuk mengedit foto selain menggunakan picplz tadi. Untuk gaya hidup, ada aplikasi Makan Di Mana, Fourshared untuk donlot (tapi nggak pernah saya pake), Opera Mini untuk browser, aplikasi Al-Quran lengkap dengan terjemahan beserta keterangan tajwidnya, aplikasi Yoga, Antivirus de-es-be. Sama sekali nggak ada aplikasi permainan di hape ini. Dulu pernah ada sih, tapi saya copot, saya ganti dengan aplikasi yang lebih berguna untuk kebutuhan saya saja. :) Jadi, apakah saya ini seorang pengidap techno stress? Saya sih nggak akan membenarkan ato menyalahkan. Tapi yang pasti, jika kita memang memiliki gadget pintar berupa hape dan semacamnya. Diupayakan supaya kita bisa l”ebih pintar” lagi mengoptimalkannya. Jangan hanya menuruti tren yang sedang terjadi. Karena perkembangan teknologi itu seperti perkembangan fashion. Dia tak pernah berhenti pada suatu ketetapan pasti. Dia akan selalu menyesuaikan dengan selera dan kebutuhan orang setiap harinya. Dan memang nggak akan ada ma

11:14 PM - No comments

Techno Stress Part I

Notif whatsapp di hapeku mulai rajin kedap-kedip sambil bunyi. Lebih dari dua mingguan ini ada temen yang berisik di situ. Sekedar sapaan plus salam yang nggak jelas. Orangnya emang nggak jelas parraaaah! Hahahaha.. Maklumlaaaah, dia sekarang lagi megang peliharaan elektronik anyar, jadi asik ngutek-ngutek dan suka iseeeeeng. Aku sempet sewot gara-gara dia keseringan ngusilin gitu. Eh, anaknya bilang: “Iya, nih..kan temennya masih dikit di sini (whatsapp)” jeddeeeer suara petir Dari aplikasi twitnya itulah, aku tau dia make telpon puinter. Makin menjadi aku godain dia, sambil nodong traktiran juga. Hehehehe :D Dia sempet tanya-tanya tentang aplikasi apa aja yang uda aku pasang. Aku pun sharing tentang seluk beluk telpon puinter ini sedikit. Nggak bannyaaaak, soale aku yo gaptek pisan! Hehehehehe.. kami juga ngobrolin os tingkat apa yang uda dipake. Dan aku kalah start! Padahal level ajaib hapenya masih di bawahku. Eh, dia malah uda OS 2.3, si aku masih betah di OS 2.2. :( tapi pake froyo aja belum abis ginih kok.. :p Kemaren ada obrolan hot di artikel tentang techno stress. Techno stress ini dikenal dengan nama technology stress. Seperti yang dikatakan oleh Dosen Fakultas Psikologi Ubaya, Listyo Yuwono, sebetulnya ada dua pandangan tentang definisi istilah ini. Pertama, techno stress karena ketidaknyamanan psikologis yang disebabkan tidak menguasai atau mengikuti perkembangan teknologi. Kedua, techno stress sebagai bentuk ketergantungan pada teknologi yang berdampak pada ketidaknyamanan secara fisik dan psikis. Istilah ini diperkenalkan oleh Craig Brod pada tahun 1984, menggambarkan individu yang mengalami stress karena penggunaan komputer. Karena saat ini perkembangan teknologi tidak hanya berhubungan dengan komputer saja, maka gejala stres ini semakin kompleks. Seperti koneksi internet yang lamban, tinta printer habis, jaringan ponsel sibuk, SMS yang terus-menerus muncul, atau bahkan melihat status twitter di time line bisa jadi pemicu stres. Sebanyak 1200 dari 3000 responden orang dewasa yang diteliti, masalah teknologi seperti ini dianggap lebih stressfull daripada kehidupan asmara, konflik rumah tangga, atau bahkan problem keuangan. Mengerikaaaaaaan bukaaaaaan?????? Bentuk techno stress yang lain, menurut Listyo adalah ketergantungan dalam bentuk internet addict, mobile phone addict, game addict, dan perilaku soliter (menyendiri) yang berlebihan! Nah! Tak jarang kecanduan teknologi juga berakibat berkurangnya waktu dan hilangnya produktivitas akibat terlalu sibuk berkutat menggunakan teknologi tersebut. Makin canggih gadget yang kita pegang, secara tidak sadar, pekerjaan kita sebenarnya bertambah. Kalau dulu, kita cukup menerima SMS dan telepon, sekarang ada e-mail, internet messenger dan media sosial, yang juga butuh perhatian kita. Sementara, di sisi lain. Kita merasa paling takut jika dicap gaptek. Tapi, bukan berarti mereka yang memegang gadget terkini bukan orang gaptek. Tak sedikit dari kita yang mengenal komputer atau smart phone. Cukup sekedar bisa mengoperasikan fungsi basic. Padahal, sebenarnya, PC atau smart phone punya banyak sekali fitur, jika pemiliknya mau update terus dan mampu mengoptimalkannya. Begitu juga ketika muncul masalah pada gadget, banyak orang langsung angkat tangan. Ketidakmampuan kita memahami teknologi akan memunculkan techno stress dalam bentuk lain. Menurut Listyo, hal ini dicirikan dengan sangat mudahnya seseorang mengalami tekanan, sakit kepala, kelelahan secara mental, depresi, panik, merasa tidak berdaya dan gejala lain, yang ujung-ujungnya berdampak pada menurunnya kinerja. Pernahkan kita berada dalam kondisi tidak fokus dan pikiran bercabang? Nah, menurut Listyo, itu juga salah satu wujud implikasi techno stress. Teknologi yang membuat kita multitasking, berakibat seseorang kehilangan fokus pada apa yang sedang dikerjakan. Tentang multitasking, Prof. Dr. Alwi Dahlan, pakar komunikasi massa Universitas Indonesia menambahkan. Tidak setiap waktu kita harus multitasking. Ada saatnya kita perlu konsentrasi pada satu hal dan tidak terpecah oleh hal lain yang kurang penting. Seringkali kita merasa perlu membuka email saat makan. Menjawab email atau sms saat kita sedang sibuk mengerjakan tugas. Menyetir sambil membalas sms karena “merasa-wajib-membalas”. Solusinya? Pintar-pintarlah menyaring sendiri agar kita tidak merasa terbebani dengan kewajiban segera membalas. Kontrol diri yang rendah memiliki potensi mengalami techno stress dalam bentuk ketergantungan teknologi. Ukurlah dengan menggunakan prinsip tingkat kepentingan. Karena tidak semua informasi yang penting bagi orang lain, penting juga buat kita. Savvy dan update dengan teknologi baru, tentunya bagus. Tapi, jangan sampai kita terjangkit techno stress ini. Dengan kata lain, ketika kita tidak mampu mengontrol keinginan menggunakan teknologi tersebut, merasa cemas dan kehilangan bila tidak menggunakan.

Thursday, December 8, 2011

11:07 PM - No comments

Selesma

Oke. Alhamdulillah. Aku positif terjangkit flu di jum’at pagi ini. Dan tampilan uber sosialku terlihat asing, terpaksa kumusnahkan saja! Kuganti dengan aplikasi lain..tapi tetep aja masih penasaran sama uber sosial, kenapa dia berubah tampilan gitu ya? Berkali-kali copot-pasang, tapi tetep tak mau kembali seperti semula. Hikssss…sediiiiih.. (;゜0゜)

Ada juga yang berubah di pagi ini, susu kedele yang dibawa mbak Endang juga berubah. Mbak Endang pindah penyuplai. Yang biasanya satu bungkus isinya jumbo, dan rasanya tawar. Sekarang susu kedelenya berasa manis, dan lebih mungil bungkusnya. Tapi, tetep ajah aku doyan! Hehehehe..lumayan sebagai antioksidan buat tubuh yang kondisinya lagi menurun ini.

Nggak cuman aku aja yang mulai sakit, Mbak Tri juga begitu. Badan rasanya ngilu-ngilu, kepala berat, idung mampet, mata terasa panas dan radang tenggorokan. Semalem aku uda ngerasa gejalanya, jadi aku minum obat flu, tapi ternyata paginya malah menjadi. Lantas aku juga minum teh ijo anget yang aku campur dengan irisan jahe dan perasan jeruk nipis. Lantas, di kantor dikasih Mbak Fat minuman yang berupa ramuan biji bunga krisan. Anget-anget juga. *makaseeeh Mbak Fat..hmm ;) Cuman Mbak Fat yang nggak keliatan sakit, amiiiin. Aku ingetin dia supaya nggak deket-deket kita. Semoga dia nggak sakit, soale dia ibu menyusui, kasian dedek Rangga kalo ketularan.

Dari semua minuman itu..idung masih kerasa mampet dan disertai batuk-batuk dengan lendir. Yaiyyalah! Masa langsung spontan cara kerjanya ndul! :D Gara-gara nggak bawa bontot, rencananya mau pulang aja pas istirahat. Eh, ngeliat kondisi tubuh yang mulai agak meriang-mering gini. Kuputuskan pesen nasi aja plus teh anget tawar, trus sekarang lagi rebahan di sofa ruang Pak Bos. Hehe (^-^)v Beliau baru saja keluar, dan kayaknya nggak bakal balik lagi. :) Cepet sembuuuuuh ya Dooooon.. :D

Friday, January 14, 2011

"Aku bukanlah apa-apa. Bukan pula siapa"

Belum lama mataku terpejam untuk mengistirahatkan penat. Seberkas cahaya seketika itu menyilaukanku. Aku berada di tingkat setengah sadar. Mataku menyipit.
Ternyata ada sesosok yang entah apa manusia atau malaikat kelihatannya. Tubuhnya berpendar-pendar dengan sinar menyelimutinya.
Berdiri di sebelahku. Mengamatiku. Ia memakai piyama berwarna biru laut dengan kerutan renda di bagian lehernya. Ia terlihat manis.
Sedikit demi sedikit aku menggerakkan tubuhku untuk bangun. Dengan suara yang amat serak aku menanyakan ia siapa. Namun, ia tak menyahut. Diam. Tersenyum.
Lalu membuka suara.

”Tidak. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan orang jahat. Tenang saja. Aku takkan mencelakaimu.”

”Lantas? Ada perlu apa kau ke sini?” Suaraku nyaris berbisik.

”Aku hanya ingin menemanimu malam ini. Bukankah ini malam yang istimewa bagimu ?”

”Maaf. Bagiku. Tiap malam adalah sama. Waktunya untuk beristirahat. Dan, aku benar-benar mengantuk. Aku sangat butuh istirahat malam ini. Aku lelah sekali.”
Aku memunggungi orang itu. Membenarkan posisi selimut di tubuhku.

”Lihatlah, sebentar lagi jam 1 malam. Kau lahir tepat pada jam itu bukan?” Tangannya yang hangat menyentuh lembut pipiku.

Sontak aku terkejut. Lalu segera bangkit dari pembaringan menghadapnya.
”Dari mana kau tahu??”

”Tentu saja aku tahu. Aku tahu banyak tentangmu. Segalanya.” Tatapannya berbinar-binar seperti kerlipan bintang.

Aku hanya mengangkat bahu. ”Terserah kau sajalah.” Ia pun menghampiriku, duduk di tepi ranjangku. Memandangku.

”Karena ini malam yang istimewa, kau boleh bercerita kepadaku. Apapun yang ada di hatimu, kepalamu. Berbagilah denganku.” Ia tersenyum padaku.

”Apa kau yakin?” Aku mengerutkan dahi. Orang itu mengangguk.

”Sepertinya tak ada yang istimewa dari hidupku. Aku membosankan. Hidupku pun terlalu membosankan. Jadi, kurasa tak ada hal penting yang mesti aku ceritakan.”
Aku menggelengkan kepala. Hampa.

”Tidak. Kau pasti berbohong. Aku amat memahamimu. Tapi...baiklah. Jika kau sedang tak ingin bercerita apa-apa. Aku punya pertanyaan untukmu.”
Aku diam, menunggunya. Menunggu pertanyaannya.

”Sebenarnya, apa yang kau inginkan dari hidup ini?”
Orang itu melirikku. Mungkin dia tahu apa yang meresahkanku beberapa waktu ini. Atau bahkan dia bisa membaca pikiranku.

”Errr...aku bingung. Aku….aku merasa semakin hari, jawaban dari pertanyaan ini semakin mengkhawatirkan. Aku tak mengerti secara jelasnya seperti apa. Terkadang aku nyaris..”kosong” karenanya. Sepertinya apa yang kuinginkan akan sama seperti orang-orang lainnya.”
Aku menunduk, seperti ada beban berat di atas pundakku. Aku menghela nafas perlahan.

“Hal-hal kecil mungkin? Yang sederhana?” Orang itu bertanya lagi.

”Keinginanku mungkin akan terlihat sederhana. Tapi ada harapan besar walau seremeh apapun itu. Aku ingin sekali lulus tahun ini. Aku mungkin tidak sempurna. Aku mungkin bukan anak yang berguna. Aku penuh kekurangan. Seandainya, aku memang bukan sejenis orang yang punya prestasi tinggi. Semoga hasil kelulusanku tidak terlalu parah, tak terlalu mengecewakan.”
Aku menggigit bibir. Mataku mulai buram diselimuti kabut tipis yang berair.

”Hey..kau tahu.” Ia menepuk bahuku pelan.

”Merasa tersesat itu wajar. Setiap orang pasti pernah punya masa-masa tergelap dalam hari mereka. Atau mungkin dalam hidup mereka. Begitu banyak pilihan di sana. Beberapa pilihan mungkin malah akan menjebakmu. Dan ketika kau berada pada saat-saat itu. Janganlah takut. Jangan pernah ragu. Untuk berbagi dengan orang-orang di sekitarmu.” Sedikit terdiam, dan ia pun melanjutkan.

”Jadilah diri sendiri. Yakini kemampuan diri. Bertanggung jawablah sebagai manusia. Dan hargai apa yang kau miliki saat ini. Apabila suatu saat kau terjatuh, atau terluka dengan rasa sakit yang menyiksa. Kau tak pernah sendirian. Ada banyak orang yang akan membantumu. Mereka tak akan menghakimimu karena kau jatuh. Mereka akan senantiasa mengulurkan tangannya agar kau bangun lagi. Menyediakan telinganya untuk mendengarkanmu. Memberikan waktunya untuk mengobatimu.
Mereka, orang-orang yang kau cintai setiap hari. Keluargamu, teman-teman, sahabat-sahabat. Pun ada Kekuatan Maha Tinggi yang juga selalu ada dan setia untukmu.”

Aku makin terisak, nafasku naik turun tak beraturan.

”Tidak masalah jika kau nanti akan bahagia atau malah sebaliknya. Menjalani ini dengan pura-pura atau tidak. Selama kau tidak merugikan orang lain. Selama kau mau dan mampu menikmatinya. Dan membuat ini lebih berarti untukmu bahkan untuk orang lain. Kau akan tetap hidup.”

Aku tak kuat lagi. Tangisanku pecah. Tersedu-sedu. Tubuhku makin menggigil karenanya

”Ingatlah.. Tanpa mimpi kau bukanlah apa-apa. Kau bukan siapa-siapa.” Tangannya yang halus, panjang, dan hangat mengenggam tanganku. Sambil menghapus titik-titik yang berjatuhan di pipiku.

Orang itu tiba-tiba menyodorkan sebentuk raisin cupcake kepadaku. Dengan lilin mungil berwarna ungu muda di atasnya.
”Ayo..mari kita tiup lilinnya.”
”Kita?”
”Ya. Kita. Aku lahir di hari yang sama denganmu.”
Selamat ulang tahun.