Friday, January 14, 2011

"Aku bukanlah apa-apa. Bukan pula siapa"

Belum lama mataku terpejam untuk mengistirahatkan penat. Seberkas cahaya seketika itu menyilaukanku. Aku berada di tingkat setengah sadar. Mataku menyipit.
Ternyata ada sesosok yang entah apa manusia atau malaikat kelihatannya. Tubuhnya berpendar-pendar dengan sinar menyelimutinya.
Berdiri di sebelahku. Mengamatiku. Ia memakai piyama berwarna biru laut dengan kerutan renda di bagian lehernya. Ia terlihat manis.
Sedikit demi sedikit aku menggerakkan tubuhku untuk bangun. Dengan suara yang amat serak aku menanyakan ia siapa. Namun, ia tak menyahut. Diam. Tersenyum.
Lalu membuka suara.

”Tidak. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan orang jahat. Tenang saja. Aku takkan mencelakaimu.”

”Lantas? Ada perlu apa kau ke sini?” Suaraku nyaris berbisik.

”Aku hanya ingin menemanimu malam ini. Bukankah ini malam yang istimewa bagimu ?”

”Maaf. Bagiku. Tiap malam adalah sama. Waktunya untuk beristirahat. Dan, aku benar-benar mengantuk. Aku sangat butuh istirahat malam ini. Aku lelah sekali.”
Aku memunggungi orang itu. Membenarkan posisi selimut di tubuhku.

”Lihatlah, sebentar lagi jam 1 malam. Kau lahir tepat pada jam itu bukan?” Tangannya yang hangat menyentuh lembut pipiku.

Sontak aku terkejut. Lalu segera bangkit dari pembaringan menghadapnya.
”Dari mana kau tahu??”

”Tentu saja aku tahu. Aku tahu banyak tentangmu. Segalanya.” Tatapannya berbinar-binar seperti kerlipan bintang.

Aku hanya mengangkat bahu. ”Terserah kau sajalah.” Ia pun menghampiriku, duduk di tepi ranjangku. Memandangku.

”Karena ini malam yang istimewa, kau boleh bercerita kepadaku. Apapun yang ada di hatimu, kepalamu. Berbagilah denganku.” Ia tersenyum padaku.

”Apa kau yakin?” Aku mengerutkan dahi. Orang itu mengangguk.

”Sepertinya tak ada yang istimewa dari hidupku. Aku membosankan. Hidupku pun terlalu membosankan. Jadi, kurasa tak ada hal penting yang mesti aku ceritakan.”
Aku menggelengkan kepala. Hampa.

”Tidak. Kau pasti berbohong. Aku amat memahamimu. Tapi...baiklah. Jika kau sedang tak ingin bercerita apa-apa. Aku punya pertanyaan untukmu.”
Aku diam, menunggunya. Menunggu pertanyaannya.

”Sebenarnya, apa yang kau inginkan dari hidup ini?”
Orang itu melirikku. Mungkin dia tahu apa yang meresahkanku beberapa waktu ini. Atau bahkan dia bisa membaca pikiranku.

”Errr...aku bingung. Aku….aku merasa semakin hari, jawaban dari pertanyaan ini semakin mengkhawatirkan. Aku tak mengerti secara jelasnya seperti apa. Terkadang aku nyaris..”kosong” karenanya. Sepertinya apa yang kuinginkan akan sama seperti orang-orang lainnya.”
Aku menunduk, seperti ada beban berat di atas pundakku. Aku menghela nafas perlahan.

“Hal-hal kecil mungkin? Yang sederhana?” Orang itu bertanya lagi.

”Keinginanku mungkin akan terlihat sederhana. Tapi ada harapan besar walau seremeh apapun itu. Aku ingin sekali lulus tahun ini. Aku mungkin tidak sempurna. Aku mungkin bukan anak yang berguna. Aku penuh kekurangan. Seandainya, aku memang bukan sejenis orang yang punya prestasi tinggi. Semoga hasil kelulusanku tidak terlalu parah, tak terlalu mengecewakan.”
Aku menggigit bibir. Mataku mulai buram diselimuti kabut tipis yang berair.

”Hey..kau tahu.” Ia menepuk bahuku pelan.

”Merasa tersesat itu wajar. Setiap orang pasti pernah punya masa-masa tergelap dalam hari mereka. Atau mungkin dalam hidup mereka. Begitu banyak pilihan di sana. Beberapa pilihan mungkin malah akan menjebakmu. Dan ketika kau berada pada saat-saat itu. Janganlah takut. Jangan pernah ragu. Untuk berbagi dengan orang-orang di sekitarmu.” Sedikit terdiam, dan ia pun melanjutkan.

”Jadilah diri sendiri. Yakini kemampuan diri. Bertanggung jawablah sebagai manusia. Dan hargai apa yang kau miliki saat ini. Apabila suatu saat kau terjatuh, atau terluka dengan rasa sakit yang menyiksa. Kau tak pernah sendirian. Ada banyak orang yang akan membantumu. Mereka tak akan menghakimimu karena kau jatuh. Mereka akan senantiasa mengulurkan tangannya agar kau bangun lagi. Menyediakan telinganya untuk mendengarkanmu. Memberikan waktunya untuk mengobatimu.
Mereka, orang-orang yang kau cintai setiap hari. Keluargamu, teman-teman, sahabat-sahabat. Pun ada Kekuatan Maha Tinggi yang juga selalu ada dan setia untukmu.”

Aku makin terisak, nafasku naik turun tak beraturan.

”Tidak masalah jika kau nanti akan bahagia atau malah sebaliknya. Menjalani ini dengan pura-pura atau tidak. Selama kau tidak merugikan orang lain. Selama kau mau dan mampu menikmatinya. Dan membuat ini lebih berarti untukmu bahkan untuk orang lain. Kau akan tetap hidup.”

Aku tak kuat lagi. Tangisanku pecah. Tersedu-sedu. Tubuhku makin menggigil karenanya

”Ingatlah.. Tanpa mimpi kau bukanlah apa-apa. Kau bukan siapa-siapa.” Tangannya yang halus, panjang, dan hangat mengenggam tanganku. Sambil menghapus titik-titik yang berjatuhan di pipiku.

Orang itu tiba-tiba menyodorkan sebentuk raisin cupcake kepadaku. Dengan lilin mungil berwarna ungu muda di atasnya.
”Ayo..mari kita tiup lilinnya.”
”Kita?”
”Ya. Kita. Aku lahir di hari yang sama denganmu.”
Selamat ulang tahun.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar