Thursday, December 22, 2011

7:58 AM - No comments

Naluri Ibu. Yang Dipertanyakan.

Hari Ibu. Ya. Hari ini tanggal 22 Desember, bertepatan dengan hari Ibu. Kali ini, saya tidak ingin menulis tentang segala kebaikan Ibu kandung saya. Karena kebaikan dan ketulusan beliau, tidak bisa sekedar diungkap melalui tulisan. Beliau me-le-bi-hi se-ga-la-nya, walau saya bukan jenis orang yang bisa romantis kepada beliau. Yah, di usia segini rasa malu memang jauh lebih mendominasi, daripada kasih sayang saya kepada beliau.

Tadi, di pagi buta sehabis bangun tidur saya ucapkan selamat hari Ibu kepada mama saya. Nggak ada sweet-sweetnya sama sekali. Soalnya saya masih ngucek-ngucek mata, dan tempatnya di depan kamar mandi pula. Mama malah ngasih ucapan balik ke saya.
“Selamat hari ibu juga, selamat hari Ibu ya calon Ibu. Ibu Dina, hehehe”
Haikss..pagi yang agak membingungkan ya?? :D

Lalu. Saya teringat satu kicauan dari om Alvin Adam hari ini, bunyinya begini: “Setiap perempuan tentu punya naluri keibuan…dgn gaya dan ciri masing..&mau tidak meng-explore nya…#mother’sday” Huksss..! Ngerasa ketonjok saja! Iyah! Saya meragukan sense of mommy dalam diri saya, teman.. How could it be?

Di waktu masih berumur belasan, sekitar masa saya yang masih dibilang abege muda, bukan abege tua seperti sekarang. Saya sangat tidak suka anak kecil! Sangat tidak suka. Bagi saya, anak kecil itu rewel, menjengkelkan dan merepotkan!! Tapi. Rupanya Tuhan senang sekali mempermainkan saya.. Beberapa bulan sebelum lulus dari sekolah, saya ditakdirkan selalu menangani dan mengajari anak kecil. Dari mulai studi lapangan, KKN singkat selama seminggu. Bahkan, setelah lulus dan mengabdi. Saya dipertemukan lagi dengan celotehan riang dan wajah-waja polos mereka. Saya masih ingat, tiap siang saya harus berteriak-teriak melafalkan nushus di hadapan mereka supaya mereka bisa cepat menghafalnya. Terkadang saya mengajak mereka keluar, ke sawah, belajar secara outdoor sambil mendiskusikan benda-benda di sekitar mereka dengan bahasa Inggris. Sebelum pulang, saya memeluk mereka satu persatu di kelas. Sederhana. :) Tapi, itu kenangan yang manis sekali. Saya tidak berani untuk menghapus mereka dalam ingatan.

Lantas. Apakah benar, jika indikasi dari naluri keibuan seorang perempuan itu berdasarkan caranya menghadapi anak kecil? Saya berusaha mencoba untuk meyakininya. Setaun lalu, saya sempet menemani tante saya merawat dan menjaga bayinya yang baru berumur dua bulan. Kemampuan saya memang benar-benar minim. Selain saya tidak bisa menyusuinya (yaiyyaaaalaaaah! :p), saya selalu panik ketika dede’ mungil ini menangis. Bukannya panik sih, tepatnya, jika ia menangis sulit sekali ,meredakannya walau saya sudah menggendong dan menimang-nimangnya. Entah, apa karena dede’ kecil jengkel kepada saya yang jelas-jelas tidak bisa menyusuinya. Ato mungkin memang ada hal tak nyaman yang tak bisa ia ungkapkan selain menangis? Ahh, saya tidak tau.. :(

Saya ingin sekali punya sifat-sifat keibuan loh..pengeeeen banget! Apakah saya harus perlu menjalani masa kehamilan yang melelahkan itu? Melewati detik-detik menyakitkannya persalinan? Dan, betapa nyamannya bisa menyusui malaikat kecil itu nanti? Kebingungan yang tak berhenti. Apa naluri keibuan itu bisa didapat “begitu saja”? Benarkah itu berasal dari bawaan? Atau bisa “direkayasa” dengan lingkungan? Pengalaman? Banyaknya pembelajaran?

Hmm…. Yang pasti. Saya pernah merasakan perasaan luar biasa itu. Ketika berhasil menidurkan sepupu kecil saya itu. Saat ia terlelap dalam dekapan saya dengan wajah penuh kedamaian. :) Perasaan menyenangkan! Walau bahu sedikit pegal gara-gara menggendongnya. :D Wuiih..itu bener-bener perasaan yang berbeda! Tak tergantikan! Kapan yah bisa merasakannya lagi? Hehehehehe

Yang menjadi perenungan saya saat ini. Bisakah suatu saat nanti, saya menjadi figur super mommah bagi anak-anak saya? Yang mana, suatu waktu nanti ia tak canggung membanggakan saya di depan teman-temannya. Perlu berapa taun lagi untuk saya, agar mendapat ucapan tulus selamat hari Ibu dari seorang anak yang mencintai saya sebagai Ibu? Hohohohohoho.. Lol! :D Menjadi seorang Ibu yaaaaang…oke! Katakanlah “hebat”. Memang sangaaaaaaaaatlah jauh dari sosok saya sekarang ini. Saya akui itu. Tapi. Saya akan tetap selalu berupaya, walau bukanlah Ibu hebat yang tepat, setidaknya mendekati kata “hebat” itu sendiri suatu hari nanti. :)

Tulisan ini akan ditutup dengan kicauan ambigu dari Obsat, yang dikutip dari Unilubis. Seperti ini » “Bagi perempuan, untuk menjadi Ibu atau tidak adalah pilihan. Patut dihargai..” #obsat #trimsIbu.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar