Tuesday, December 20, 2011

11:14 PM - No comments

Techno Stress Part I

Notif whatsapp di hapeku mulai rajin kedap-kedip sambil bunyi. Lebih dari dua mingguan ini ada temen yang berisik di situ. Sekedar sapaan plus salam yang nggak jelas. Orangnya emang nggak jelas parraaaah! Hahahaha.. Maklumlaaaah, dia sekarang lagi megang peliharaan elektronik anyar, jadi asik ngutek-ngutek dan suka iseeeeeng. Aku sempet sewot gara-gara dia keseringan ngusilin gitu. Eh, anaknya bilang: “Iya, nih..kan temennya masih dikit di sini (whatsapp)” jeddeeeer suara petir Dari aplikasi twitnya itulah, aku tau dia make telpon puinter. Makin menjadi aku godain dia, sambil nodong traktiran juga. Hehehehe :D Dia sempet tanya-tanya tentang aplikasi apa aja yang uda aku pasang. Aku pun sharing tentang seluk beluk telpon puinter ini sedikit. Nggak bannyaaaak, soale aku yo gaptek pisan! Hehehehehe.. kami juga ngobrolin os tingkat apa yang uda dipake. Dan aku kalah start! Padahal level ajaib hapenya masih di bawahku. Eh, dia malah uda OS 2.3, si aku masih betah di OS 2.2. :( tapi pake froyo aja belum abis ginih kok.. :p Kemaren ada obrolan hot di artikel tentang techno stress. Techno stress ini dikenal dengan nama technology stress. Seperti yang dikatakan oleh Dosen Fakultas Psikologi Ubaya, Listyo Yuwono, sebetulnya ada dua pandangan tentang definisi istilah ini. Pertama, techno stress karena ketidaknyamanan psikologis yang disebabkan tidak menguasai atau mengikuti perkembangan teknologi. Kedua, techno stress sebagai bentuk ketergantungan pada teknologi yang berdampak pada ketidaknyamanan secara fisik dan psikis. Istilah ini diperkenalkan oleh Craig Brod pada tahun 1984, menggambarkan individu yang mengalami stress karena penggunaan komputer. Karena saat ini perkembangan teknologi tidak hanya berhubungan dengan komputer saja, maka gejala stres ini semakin kompleks. Seperti koneksi internet yang lamban, tinta printer habis, jaringan ponsel sibuk, SMS yang terus-menerus muncul, atau bahkan melihat status twitter di time line bisa jadi pemicu stres. Sebanyak 1200 dari 3000 responden orang dewasa yang diteliti, masalah teknologi seperti ini dianggap lebih stressfull daripada kehidupan asmara, konflik rumah tangga, atau bahkan problem keuangan. Mengerikaaaaaaan bukaaaaaan?????? Bentuk techno stress yang lain, menurut Listyo adalah ketergantungan dalam bentuk internet addict, mobile phone addict, game addict, dan perilaku soliter (menyendiri) yang berlebihan! Nah! Tak jarang kecanduan teknologi juga berakibat berkurangnya waktu dan hilangnya produktivitas akibat terlalu sibuk berkutat menggunakan teknologi tersebut. Makin canggih gadget yang kita pegang, secara tidak sadar, pekerjaan kita sebenarnya bertambah. Kalau dulu, kita cukup menerima SMS dan telepon, sekarang ada e-mail, internet messenger dan media sosial, yang juga butuh perhatian kita. Sementara, di sisi lain. Kita merasa paling takut jika dicap gaptek. Tapi, bukan berarti mereka yang memegang gadget terkini bukan orang gaptek. Tak sedikit dari kita yang mengenal komputer atau smart phone. Cukup sekedar bisa mengoperasikan fungsi basic. Padahal, sebenarnya, PC atau smart phone punya banyak sekali fitur, jika pemiliknya mau update terus dan mampu mengoptimalkannya. Begitu juga ketika muncul masalah pada gadget, banyak orang langsung angkat tangan. Ketidakmampuan kita memahami teknologi akan memunculkan techno stress dalam bentuk lain. Menurut Listyo, hal ini dicirikan dengan sangat mudahnya seseorang mengalami tekanan, sakit kepala, kelelahan secara mental, depresi, panik, merasa tidak berdaya dan gejala lain, yang ujung-ujungnya berdampak pada menurunnya kinerja. Pernahkan kita berada dalam kondisi tidak fokus dan pikiran bercabang? Nah, menurut Listyo, itu juga salah satu wujud implikasi techno stress. Teknologi yang membuat kita multitasking, berakibat seseorang kehilangan fokus pada apa yang sedang dikerjakan. Tentang multitasking, Prof. Dr. Alwi Dahlan, pakar komunikasi massa Universitas Indonesia menambahkan. Tidak setiap waktu kita harus multitasking. Ada saatnya kita perlu konsentrasi pada satu hal dan tidak terpecah oleh hal lain yang kurang penting. Seringkali kita merasa perlu membuka email saat makan. Menjawab email atau sms saat kita sedang sibuk mengerjakan tugas. Menyetir sambil membalas sms karena “merasa-wajib-membalas”. Solusinya? Pintar-pintarlah menyaring sendiri agar kita tidak merasa terbebani dengan kewajiban segera membalas. Kontrol diri yang rendah memiliki potensi mengalami techno stress dalam bentuk ketergantungan teknologi. Ukurlah dengan menggunakan prinsip tingkat kepentingan. Karena tidak semua informasi yang penting bagi orang lain, penting juga buat kita. Savvy dan update dengan teknologi baru, tentunya bagus. Tapi, jangan sampai kita terjangkit techno stress ini. Dengan kata lain, ketika kita tidak mampu mengontrol keinginan menggunakan teknologi tersebut, merasa cemas dan kehilangan bila tidak menggunakan.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar