Saturday, January 14, 2012

5:03 AM - No comments

Angka. Dan Ketakutan Menjadi Tua.

Sudah kuduga. Ini tengah malam. Kedatangan seseseorang yang sama seperti setahun lalu. Masih dengan piyama biru laut berenda. Dan raisin cupcake dengan lilin berwarna ungu muda di atasnya.
Aku memberikan senyuman jernihku kepadanya. Ia pun membalas. Senyum yang juga sama. Ia mendekatiku perlahan. Amat perlahan.
“Hai,” begitu sapaan pertamanya. Aku mengangguk dengan ekspresi yang pasti terbaca olehnya.
“Aku sudah mengira. Kau pasti datang menemuiku seperti setahun lalu.”
“Mungkin saja”, orang itu mengedipkan matanya kepadaku. “Tanpa kau undang. Aku pasti akan mendatangimu seperti biasa, Dina.”
“Ya. Dan seperti biasa pula, aku takkan melarangmu. Temui saja aku sesukamu.” Ucapku acuh.
Ia tergelak. Menggelengkan kepala. Menatapku dengan sorot mata yang aneh agak lama.
“Tak perlu kau ceritakan. Matamu sudah sangat berkisah. Tentang banyak. Tentang setahun yang tlah kau lewati. Setelah kehadiranku di malam itu.”
“Apa yang kau tahu. Segalanya. Takkan pernah punya pengaruh.” Aku menyahut, tegas.
“Hey, dengar. Kau masih saja bersikap begitu, Dina. Kesinisan terhadap apa yang kau hadapi. Seolah itu tak akan mengubah banyak.” Sosok itu bereaksi.
“Karena, itu sudah menjadi tidak penting lagi bagiku. Lalu apa peduliku?” Aku menaikkan alis, menantang sosok di hadapanku itu.
“Baiklah. Baiklah. Kau memang lebih tahu bagaimana cara memperlakukan hidupmu..kau selalu lebih tahu. Bukan orang lain. Tapi. Dengarkanlah ini..kumohon. Akan banyak pertanyaan yang menghantui sepanjang hidupmu. Tak pernah berhenti pada satu jawaban, dua jawaban yang kau temukan. Karena ini memang proses misterius, dan cukup rumit. Tak ada satu penjelasan singkat untuk membuat orang mengerti segala tentang hidup. Mungkin tidak ada awal dan akhirnya juga. Karena kita pernah ada, begitupun aku ataupun kau, tidak yakin akhirnya akan pernah tiada, walau sudah tidak bernyawa.
“Dina, Jika kau merasa bahwa seperti apapun dirimu, semuanya adalah bagian dari rencana yang besar. Bahwa kelebihan dan kekurangan diciptakan agar kau bisa menarik dan membuat makna dari hidupmu, kau bisa mempelajari begitu banyak hal tentang hidup walau itu hanya berasal dari dirimu sendiri.”

Aku tercenung dengan kalimat-kalimat yang mengalir deras dari dirinya. Aku terpaku. Tubuhku kaku.

“Yang namanya pilihan adalah satu hal yang seseorang putuskan secara sadar sebagai dirinya. Definisi gagal itu terlalu luas untuk menyatakan pilihanmu gagal atau tidak. Ketika kau berhasil memilih, walau ternyata tidak seperti pemikiranmu, keinginanmu. Tapi, setidaknya kau telah memilih secara bebas dan menjadi manusia. Kau bisa terus berusaha atau menjadi dewasa ketika melihat pilihan itu sebagai jawaban lain dari pertanyaan yang menyudutkan tadi, mungkin malah itulah awal dari pilihan baru. Ingat, Dina. Manusia tidak bisa hidup tanpa pilihan.”

Membisu. Bodoh, aku terbius dengan ucapannya. Rangkaian kata. Mati rasa. Tapi jiwa seperti terkoyak. Walau raga tak mengenal apa itu sakit. Apa itu tidak enak. Kupikir hanya dengan mendengar apa yang dikatakannya, semuanya akan mereda.

“Butuh hati yang lebih luas dari sekedar lapangan bola untuk melihat bahwa tidak ada yang akan kita dapatkan dari menyakiti orang lain. Bukan tidak mungkin, tapi orang butuh pengalaman itu; bahwa bagaimanapun dia menyakiti orang lain, rasa marahnya tidak akan pernah habis dan secara tidak sadar, dia sedang menyakiti dirinya sendiri.”

Lalu ia terdiam, menunggu reaksiku. Hingga aku membuka suara.

“Aku tak bisa benar-benar memastikan. Apa setahun kemarin adalah berat, atau malah hal yang paling membanggakan bagiku. Ketika aku menemukan diriku hingga saat ini masih bernafas, bertaruh antara harap, ketakutan beserta takdir, menghargai apa yang kuyakini, prinsip-prinsip yang aku pegang hingga kini. Bagiku adalah luar biasa. Aku telah menyematkan sedalam-dalamnya. Bahwa sekalut apapun, setidak berdayanya aku. Jangan sampai aku melakukan tindakan konyol yang akan memberikan penyesalan berkelanjutan untuk masa yang akan datang.”
“Tak perlu lah aku bersusah payah, berpura-pura, melakukan ini itu. Ketulusan, selamanya takkan menipu. Hanya itu yang sepenuhnya bisa kumengerti. Hanya itu..”

Aku menelan ludah. Sekujur tubuhku bergetar sesaat setelah mengatakannya. Kepalaku kosong. Mataku mulai berkabut. Aku berusaha menguasai gemuruh ini.

Dia menjentikkan jari, sambil mengatakan..
“Mungkin benar yang kau sebut kehidupan serupa roller coaster. Naik turun, bergerak lincah, memutar-mutar hingga membuatmu mual, atau malah terkadang tamparan angin kencang ketika menaikinya menjadikanmu bergairah penuh semangat.”

“Ya. Ya. Aku bahkan begitu cemas menanti kejutan-kejutan di ujung sana yang dipersiapkan Tuhan untukku. Menunggu hal-hal baru. Yang menyenangkan. Atau tidak nyaman. Orang-orang baru yang ingin kutemui, hingga yang tanpa sengaja menemuiku. Terkadang membuatku sakit kepala, saking mendebarkannya, kira-kira siapa atau apa lagi yang nanti akan kuhadapi.” Aku tertunduk, menghela nafas.
“Aku banyak belajar. Sangat banyak belajar. Satu hilang, bukan masalah. Karena Tuhan tak ingkar janji untuk menggantikan. Tapi tetaplah, aku bukan manusia bijak itu. Bukanlah manusia bijak yang kau maksud.” Aku menatap sosok itu sungguh-sungguh. Berusaha menunjukkan kejujuran yang kumiliki.

Sosok itu mengangkat raisin cupcake dengan sebatang kecil lilin ungu muda menyala, lalu mengarahkannya padaku.
“Sebelum semua dimulai, sebelum semua yang akan berakhir. Luka, tawa, hampa, kedamaian.”
“No matter how fucked up you are, do what you can do to make yourself valuable, Dina. Write things or do anything from your misery, trough your own perspective. Dont be afraid.”

“Mari, kita tiup lilinnya!”

Selamat ulang tahun!

Aku mengamini. Mengamini. Mengamini.

#Sontreknya:
  • Muse~Resistance. Ini sengaja apa ya? Mereka bikin lagu ini buat aku? hahaaayy.. :p
  • Coldplay~Paradise. Keren aja pas Om Chris Martin ngucapin "Para..Para..Paradise" Perspektif tentang surga yang berbeda. Walo kecewa abis sama vidclipnya. Bener-bener yang bukan dalam bayanganku! Huhuhuh..
  • Masih Coldplay~Every Teardrop is A Waterfall: Bahwa sesuatu yang nggak nyaman itu sebenernya bisa banget kita ubah menjadi sesuatu yang nyaman, yang menyenangkan. Selama kita mau..
  • Muhasabah Cinta~Nasyid: eciyeeeh..tumbenan! Hahahaha..saya mengalami penginsyafan, perenungan sekian waktu..

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar