Friday, March 2, 2012

2:45 AM - No comments

Kisah Sahabat di Penghujung Senja

Sore itu, di antara riuh ramai rekan sunser berseru-seru ria. Saya dan seorang sahabat menyusuri pantai. Berbagi cerita tentangnya. Tentang sesuatu yang selalu menjad pertanyaan ketika saya mendengar sesuatu yang menyedihkan tentangnya. Well..sesuatu telah terjadi kepadanya. Saya jarang sekali bertemu dengannya.Kami hidup dan tinggal di kota berbeda. Ini bukan curhat tentang kisah picisan yang menye-menye itu. Melainkan kisah lelaki dan wanita yang terikat dalam ikatan suci, sahabat saya telah menikah. Dia bercerita. Saya mendengarnya. Dia berkisah. Saya menyimaknya. Dia menjelaskan. Saya memahaminya. Dia berbagi dengan saya tentang hal tersebut. Saya merangkul pundaknya dengan erat. Kami sama-sama wanita. Dia pun mengutarakan jika suatu saat “itu” terjadi. Dia tak akan khawatir lagi. Dia sudah tak takut lagi. Kami masih berjalan beriringan di atas pasir. Baginya, itu sudah bukan hal yang menyiksanya seperti beberapa waktu lalu. Dia selalu siap untuk menghadapinya. Karena, sahabat saya sudah mulai letih untuk menangis. Kami pun tak peduli dengan debur ombak yang pecah dan mulai pasang. Menjilati kaki-kaki telanjang kami. Sahabat saya itu kuat. Dia sabar. Dia begitu tabah. Sahabat saya begitu menerima kodratnya sebagai wanita. Ahh..saya pun hanyut. Saya menangis. Sahabat saya tidak. Sudah saya katakan, dia lebih kuat daripada saya –pendengar setianya. Mentari mulai membentangkan cahaya senjanya. Saya bisikkan padanya : “Bahwa apapun yang terjadi, kamu masih punya saya. Saya dan teman yang lainnya. Yang akan selalu setia mendukungmu, menyayangimu, dengarkanmu..” Saya memeluk dirinya erat. Mata saya basah. Dia tidak. Dia malah tertawa. Sedikit embun bening mengalir di dinding hati saya. Dingin. Beku. Sejuk. Seperti angin pantai parangtritis ini di sore hari. Itu cukup membuat saya lega dan bangga. Sahabat saya wanita yang tegar Dan dia baik-baik saja. “Ini senja yang indah.”
Sore yang kemarin lusa..

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar