Monday, April 23, 2012

Aish.. Untuk Sebungkus Cokelat

Tak ada duka sedikitpun yang tampak di wajah gadis kecil itu. Matanya masih bersinar serupa kejora, kontras dengan mata sembab Bundanya yang memangkunya sedari tadi. Sesekali tangannya menepuk sang Bunda sambil mengatakan, "Bunda. Bunda. Airnya dibanting tuh!" Terpaksa saya memberikan senyum kecil ketika Aish -nama gadis kecil itu menyebut kata "dibanting" ketika air kran di kamar mandi rumahnya menyala dengan keras. Bundanya yang masih terguncang akan kabar duka yang baru saja terjadi, berusaha menjelaskan kepadanya tentang air kran tersebut.

Memangnya apa yang terjadi dengan Aish dan Bundanya? Tunggu sebentar ya.

Saya terbangun sekitar jam 3 pagi. Kebiasaan yang menyatu dengan jam tubuh saya sebelumnya. Terbangun di jam segitu. Tapi kali ini saya tak bisa melakukan apa-apa. Solat atau mengaji sekedar menenangkan hati. Saya sedang "libur". Makanya, ini cukup menggelisahkan jika mesti terbangun jam segini. Untunglah saya tertolong dengan novel yang baru kemarin saya beli. Rumah Cokelat punya Sitta Karina. Saya pun terhanyut dalam keruwetan yang dihadapi Hannah sebagai ibu sekaligus istri urban didampingi sang suami, Wigra. Sekitar sejam setengah tepat di halaman 126, saya usaikan untuk membaca.

Menengok dapur, yang ternyata Ibu sudah hampir menyelesaikan perasan santannya untuk kolak. Ah, saya melewati sesi perasan santan nih! Hehehe. Saya segera membantu sebisanya. Menuangkan santan kental yang diperas ibu tadi, juga sari dele. Dengan perbandingan saridele lebih banyak daripada santan. Iya, ayah saya tidak suka santan. Saya pun begitu. Makanan bersantan saya hindari. Yaa..tidak sampai ekstrim sih, palingan sedikit saya konsumsi jika tersedia. Makanya, ketika Ibu berencana bikin kolak, di hari Sabtu kemaren saya khusus pesan seliter saridele ke Mba Endang untuk kolak itu. Setidaknya meminimalisir penggunaan santan seperti saran ibu.

Di sela-sela pagi yang seperti biasa ribet untuk menyiapkan bontotan saya untuk makan siang. Ayah yang katanya sebelum Subuh tadi pamit pergi ke luar kota, ternyata sudah kembali lagi. Batal ke Banyuwangi begitu katanya. Alesannya, selain pesanan Pak Bos tentang mobil yang bermasalah, adik dari Ibu Tutik meninggal subuh tadi. Iya, almarhum adalah ayah Aish, gadis kecil yang saya ceritakan di atas. Memang sudah menderita penyakit komplikasi sejak lama. Terakhir saya dan teman-teman mengunjungi almarhum pada Februari kemarin di rumahnya. Teringat saja karena di sana lah saya menghabiskan cokelat batangan yang bercampur dengan jeruk, tapi saya belum bertemu Aish waktu itu.

Maka dari itu setiba di sana, saya dan teman-teman langsung menuju rumah Aish. Kolak yang saya bawa ke kantor diundur eksekusinya sementara untuk melayat almarhum ayah Aish. Sayang sekali juga, beberapa teman ada yang puasa. Jadi sepulang dari rumah Aish, saya dan Mba Tri saja yang menikmatinya. Menyusul lalu Mas Sis.

Kembali lagi ke suasana rumah Aish. Di sela-sela celotehan biasanya, khas anak kecil yang ringan tanpa beban. Saya merogoh tas, dan mengambil sebungkus coklat sisa oleh-oleh Mas Andri ketika umroh bulan lalu. Saya sodorkan kepadanya. "Aish, mau cokelat?" Si gadis kecil ini segera mengambilnya dari saya tanpa malu-malu. Wajahnya makin riang sambil memberi tahukan Bundanya tentang coklat yang baru saja ia dapatkan. Bundanya adalah teman kerja saya juga. Ayah Aish adalah adik kandung Bu Tutik, bagian personalia di pabrik. Tak lama, saya dan rombongan teman-teman kantor segera pamit untuk kembali ke tempat kerja.

Tulisan ini pun diakhiri dengan lemburan yang mesti menunggui usainya serial drama korea dikarenakan dua patner biasa Mba Endang dan Mas Sis yang setia sekali mengikuti tiap episodenya setiap hari. Mengenai lembur, ini sudah menginjak hari ketiga lemburan, setelah Kamis dan Jumat di minggu kemarin. Bukan lembur peta flexo lagi, tapi lebih ke tanggung jawab pekerjaan kami masing-masing.

Sempat terdampar macet di bundaran Waru petang tadi. Hohohoho. Dan tulisan ini memang disengajakan ditulis dengan sangat kaku. Hahahaha. Improvisasi bung! :p

Oia, saya sudah menamatkan Rumah Cokelat loh! Kapan-kapan kalo sempat, akan saya bagi hasil otak saya tentang apa yang disampaikan dalam buku tersebut.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar