Friday, April 20, 2012

5:20 AM - No comments

A (May) New Fresh Air

Tiap kali ketika kita pernah kehilangan. Entah sesuatu, atau seseorang yang penting di hidup kita. Rasanya selalu tidak enak. Terasa ganjil. Dan. Tak nyaman. Mirip luka di salah satu anggota tubuh. Sayatannya panjang. Dalam. Dan berdarah-darah. Sesekali. Meninggalkan lubang yang perih. Walau kamu sudah mengobatinya. Melupakannya. Luka itu tetap memberi bekas yang tak indah.

Lalu. Ketika kita menengoknya kembali. Meraba luka itu. Ada kerlingan lembut menggelitik di hati, yang mengatakan :

”Dulu hidupku normal sebelum ada luka ini.”

”Dulu aku mudah sekali untuk tersenyum karenanya. Tapi, sekarang aku tak bisa semudah itu.”

”Dulu mentari selalu menyorotiku ketika pagi. Kini tidak lagi. Tanpa hadirnya.”

”Sepertinya, ada yang salah. Aku tak mengenal diriku yang sekarang. Karena dia tak ada.”

Begitu lah kira-kira..

Perasaan kehilangan. Seperti sempalan di bagian tubuh yang terbuang tanpa kita inginkan. Entah kemana perginya sempalan itu. Usaha untuk menambalnya terdengar percuma. Kita pun dihadapkan pada dua pilihan. Tetap bertahan hidup bersama bagian ”sempalan” yang tak sesempurna seperti dulu itu? Atau memilih hidup bersama bagian yang benar-benar baru, yang sama sekali tak mirip dengan sesuatu yang hilang dulu? Pilihan yang menyedihkan ya?

Tepat di hari ini. Saya ditakdirkan mencoba pilihan yang terakhir. Ya. Begitulah. Walau hal yang baru ini kualitasnya melebihi hal yang dulu. Tetap saja. Chemistry-nya tetap milik ”yang dulu”. Karena kita masih saja kurang ikhlas. Atau malah tidak ikhlas? Ada bagian dari diri kita yang tak bisa menerimanya. Semuanya tak lagi sama.

Kemudian. Sangat berharap hal yang baru ini mampu mengisi ”lubang” dari hal yang dulu. Memindahkan segala-apa-yang-ada-pada-sesuatu-yang-dulu, menjadi milik yang sekarang.

Contoh yang sederhana adalah : Ada satu kisah. Seorang lelaki yang masih mengingat mantan kekasihnya. Walaupun kisah mereka telah usai. Dia selalu teringat akan wewangian mantan kekasihnya itu. Dan ketika lelaki ini sudah menemukan ”muara terakhirnya”. Dia menginginkan seseorang yang di sampingnya kini, menggunakan wewangian yang sama dengan mantan kekasihnya dulu. Terobsesi. Hanya sekedar ingin mengingat segala-apa-yang-ada-pada-mantan-kekasihnya. Ia memfigurkan mantan kekasihnya itu pada orang lain dengan menggunakan wewangian yang dulu pernah dipakai ketika mereka masih bersama. Entah ini benar kejadiannya atau tidak.

Terkadang. Saya selalu percaya. Suara, jalanan, nama tempat, rasa makanan atau aroma wangi tertentu. (seperti contoh di atas) Meski benda mati. Punya kekuatan magis. Mereka mampu menyimpan banyak memori, melebihi kapasitas otak kita. Kepala kita memang berhasil melupakan. Tapi, mereka –benda mati yang disebutkan tadi, akan selalu bisa menyerap memori dan kenangan itu dengan baik. Tak ada ketentuan yang memerintahkan mereka untuk melupakan. Dan kembali melemparkannya kepada kita dalam waktu yang tiba-tiba! Ketika kita tidak siap mengingatnya kembali. Mendengarnya. Melihatnya. Kita terperosok lagi. Padahal kita sudah mati-matian sengaja melupakannya.

Yang pasti. Saya sekarang akan mencoba mencintai sesuatu yang "baru" ini. Walaupun tidak tahu harus menggunakan teori yang bagaimana. Apakah hidup lebih membaik? Atau masihkah berantakan?

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar