Sunday, April 15, 2012

Mengicau. Mengacau.

Kesempatan untuk membaca buku dalam bentuk fisik, memang cukup jarang saya lakukan terutama sekarang-sekarang ini. Waktu memang menjadi alasan utama saya. Makanya, saya juga sudah jarang update buku terbaru, atau bahkan membelinya. Walaupun saya memang mengupayakan tiap bulannya mesti mengunjungi toko buku, paling banter yang saya beli cuman majalah gaya hidup saja. Jangankan buku, majalah sebiji itu pun baru benar-benar saya lahap habis palingan dua minggu lamanya. Padahal, dulu sempat terpikir untuk berlangganan majalah tersebut. Tapi, setelah beberapa bulan melihat kondisi saya yang begini ini. Urunglah niat berlangganan majalah mingguan tersebut.

Mengetahui keadaan seperti ini, andalan saya cuman baca-baca secara online saja. Baik majalah, ato berita online di timeline, blog dengan minat yang sama dengan saya, maupun aplikasi yang saya unduh secara khusus di hape. Itu dilakukan untuk tetap mematenkan candu saya terhadap membaca, terlebih saya yang selalu haus akan informasi ini.

Buku terakhir yang saya beli? Filosofi Kopi milik Dee Lestari. Itupun secara tak sengaja ketika kunjungan rutin ke tobu favorit yang mengumumkan diskon untuk pre-order buku tersebut. Saya langsung tertarik saat itu juga.

Di bulan Februari lalu, saya sempat meminjam 2 buku koleksi sahabat saya, Kuning Kenari. Satu buku saya bawa ke kantor, dan satu buku lagi memang sengaja disimpan di rumah. Yang di kantor tebalnya cuman 194 halaman, tapi saya baru berada di posisi halaman 48 (ato halaman 50-an apa yaah? Entahlah, saya lupa). Agak heran sih, yang biasanya saya sanggup membabat habis Harry Potter series yang tebalnya hampir mirip kamus Munjid dalam tempo waktu kilat. Lah, ini kan buku termasuk kategori ringan untuk dibaca? (ini menurut ukuran saya loooh). Oke, kalo jujur, memang bukunya cukup membosankan. Hehehehe. Makanya tidak saya sertakan judul bukunya, agar sang penulis tidak tersungging, jika suatu saat tersesat dan membaca postingan ini. Sempet juga saya cek akun twitternya, hohohoho..yang ternya dia pengguna tumblr juga loh!

Untuk buku yang ada di rumah, sebenernya pernah ada keinginan untuk membelinya. Karena promonya cukup anarkis. Hehehehehe. Kenapa anarkis? Karena dulu, setaunan yang lalu, saya gencar-gencarnya meneliti infotainment yang bergentayangan di televisi. Makanya, saya tertarik. Bukunya pun rilis setaunan lalu, dan kadang masih bertengger di rak tobu. Saya pun pernah membaca cerpen hasil karya beliau di sebuah majalah. Dan menurut saya, ide maupun tutur bahasanya sangat cerdas!

Sempet loooh, saya rada underestimate sama pengarang buku ini. Selain sebagai seorang presenter yang kesannya nyinyir dan selalu usil-nggak-penting-banget ngobral gosip sesama temen artessnya, juga gaya penampilannya yang agak (okeh!) kemayu mungkin yaa.. Dan saya langsung meragukan orientasi ketertarikannya terhadap lawan jenis. Hahaha! Parah deh! Itu pikiran saya dulu.

Endingnya puuuun..saya memang nggak berkutik jika ada seseorang terlihat nyata hebatnya dalam tulis menulis! Saya langsung ingin segera mengklarifikasi penghakiman sotoy saya kepada beliau. Soriii, ya mas Indra Herlambang..

Yeeey! Akhirnya saya menyebutkan nama yang bersangkutan. Eittss..itu ada panggilannya "Mas-nya" pulak?? Hahahaha. Apapun itu lah..saya sangat menikmati karya beliau yang covernya full yellow colour. Menjadi suatu pembenaran, kalo ternyata sahabat saya tertarik membeli bukunya karena warna buku tersebut. Hahaha. Ya, nggak apa-apa sih..toh tindakannya ini dapat menahan niat saya untuk tidak mengoleksi buku Kicau Kacau. Kan lumayan, buat ngirit? Hehehehe.

Di sela senggang, kadang saya memang membacanya. Oke, suatu pengakuan dosa. Saya sudah membaca beberapa babnya sebelum meminjam dari sahabat saya ini. Ya benar, saya curi-curi kesempatan di tobu setaun lalu. Hahaha. Saya pilih bab yang paling menarik untuk dibaca. Untung tak ada yang menegur, ato sekedar sindiran manis berupa "Maaf, Mbak. Di sini bukan perpustakaan". Hohohohoho. :D

Khusus di hari ini, Minggu pagi, saya tidak nyoping ke pasar bersama Ibu seperti biasanya. Hape saya yang tercinta juga sengaja di-ninabobo-kan dari aktifitas menggila saya di dunia maya, untuk menabung energi selama beberapa jam tentunya. Jadi, saya manfaatkan untuk membaca buku tersebut.

Berlama-lama. Namun tidak sampai berjam-jam sih..saya selingi juga dengan menonton acara tv favorit saya, mengepel ato mencuci (mbabu banget deh!) Kecuali di sesi ngebo siang, saya benar-benar fokuskan di kegiatan ini saja. Dan tidak melakukan apa-apa. Lah iya, masa ada orang goblok tidur sambil baca buku? Hahahaha.

Membaca buku milik Indra Herlambang (naaah, kemana tuh "Mas-nya"?) seperti membaca pikirannya, ato malah mendengarkan dia berbicara langsung di hadapan kita. Membagi uneg-unegnya secara pribadi kepada kita. Walau semua isinya sinis, tapi masih ada selipan optimis di sana. Isinya memang sangat gado-gado, kocak, jujur, gokil, apa adanya. Yang malah mengingatkan pada tumblr saya ini. :') Heeuuuu..

Saya tak akan menceritakan isi bukunya secara vulgar. Tapi. Ada tulisan yang menarik di dalam buku ini. Mungkin kapan-kapan, akan saya tulis ulang, sedikit bagian menarik dari buku tersebut di sini. :)

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar