Wednesday, April 11, 2012

6:09 PM - 1 comment

My Darkest Note

Jelas-jelas Tuhan ingin menguji saya lagi di dini hari itu. Saya yang dalam keadaaan aman dan sentosa. Terpancing untuk berada di sudut itu kembali dengan tertunduk pasrah. Memejamkan mata. Memutar ingatan. Gelombang rekaman. Bayangan berkelebatan. Suara-suara. Potongan-potongan gambar. Samar namun tetep terdengar. Saya ingin berteriak!

Demi Tuhaaaaaan.. Sayalah! Ya. Sayalah! Sosok yang di usia seperti ini, masih tetap menutup mata menerima tanggung jawab kedewasaan. Saya tahu. Sejak kecil. Saya sudah memperkirakan. Pergantian fase-fase hidup yang lambat laun terlampaui ini. Tapi ini terlalu cepat. Cepat. Amat cepat.

Katakanlah, ada seseorang yang dulunya pernah melakukan dosa yang tak termaafkan baginya atau orang lain. Ia sadar. Lalu bertobat. Dan meminta ampun kepada Tuhan. Ia pun dinyatakan bebas dari segala perkara. Tapi. Bagaimana dengan orang yang sama sekali tak pernah melakukan sesuatu apa pun di kehidupan sebelumnya? Tanpa kesalahan. Tidak juga kebaikan. Apa yang tersisa dari hidupnya itu? Tak ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Tak perlu juga sesuatu yang harus dpuji. Sama sekali tak ada bekas dari hidup sebelumnya itu yang perlu diingat. Hilanglah kesempatan. Terhormatkah ia? Saya. Sayalah. Orang barusan.

Lalu. Saya mengingatnya. Orang itu. Saya meyakininya. Mempercayainya hingga membagi rahasia saya kepadanya. Bahkan rahasia tergelap sekalipun. Hanya kepadanya. Ia tak seharusnya diragukan. Karena, sayalah yang sepantasnya diragukan untuknya. Di sampingnya. Saya tahu, apa dan siapa saja yang mengitarinya. Berbanding kebalikan dengan saya. Yang berdiri rapuh di antara apa dan siapa. Jadi. Saya selalu siap. Jika siapa dan apa yang mengitarinya itu tak cukup baik menghayati saya suatu saat nanti. Atau sekarang misalnya. Karena saya hanyalah sekejap menghampiri hidupnya. Tak lama. Tidak seperti apa dan siapa yang sudah cukup lama mengitarinya

Padahal. Saya sudah berdoa mati-matian kepada Tuhan sebelumnya. Cukuplah berikan saya seseorang yang biasa saja. Yang tak perlu menghantui perasaan khawatir kepada saya dan hidup saya nantinya. Saya mengamininya. Tapi. Tuhan tak mengabulkan. Atau belum mengabulkan? Apabila akhir ini, adalah bukanlah bersamanya. Tidak apa-apa. Saya siap. Jika harus menjadi seseorang yang terlupakan bagi dirinya. Saya sudah punya rencana hebat. Saya sudah menyiapkannya dengan matang. Walau ini membutuhkan waktu dan siksaan yang lama. Menjadi sesuatu yang kejam untuk dirinya, dan saya. Saya punya alasan.. saya hanya ingin berhati-hati dengan ekspektasi terlalu tinggi. Sendiri. Tidak menjamin kamu memiliki teman. Punya kekasih. Atau keluarga. Bisa saja kamu malah tak bisa membagi apa yang menggelisahkanmu saat ini. Belum tentu mereka bisa memahaminya. Sendiri. Mungkin hanya kamu yang bisa mengatasinya. Saya mengoreksi. Saya egois. Ada yang salah dalam diri saya. Geliat yang tak terkendali Saya hanya mau berurusan dengan kepentingan. Jika kepentingan menghilang. Maka saya akan kembali menjadi egois. Saya memang brengsek! Tapi. Mengapa masih saja ada orang yang ingin menguliti cara hidup saya ini dengan tidak elegan? Apa sih yang perlu dihayati dari sosok sampah seperti saya ini? Yang berserakan di sini hanyalah omong kosong. Sedikit pernah hidup dengan riuh tepuk tangan, tatapan kekaguman dan sikap mendewakan. Saya muak! Saya hanya ingin menjadi seseorang yang tak pernah tampak di mata orang lain. Saya ingin keberadaan saya tak perlu diperhatikan oleh orang lain. Saya ingin terlupakan. Terbuang. Terabaikan. Dini hari itu bukanlah insomnia. Tapi semacam alarm Tuhan untuk saya. Saya mengiba, mempertanyakannya kepada Tuhan. Dan melakukan hal-hal yang sewajarnya dilakukan hamba kepada Padukanya. Tapi Tuhan tak menjawab. Mungkin masih ingin mengulur-ngulur jawaban itu untuk saya. Pagi itu. Saya memutuskan untuk berkeliling. Bersepeda. Menjelajahi kota ini. Saya jadi ingat satu kejadian di pertengahan tahun 2007. Keadaan yang nyaris sama saat saya kehabisan nafas kehilangan pegangan. Saya melarikan diri ke sebuah pulau. Saya mengumumkan kepada teman-teman bahwa saya terdampar di pulau itu. Tak ada kegiatan penting yang saya lakukan di sana. Setiap sore di pulau itu, hanya menikmati matahari terbenam di dermaga sendirian. Merasakan gelombang-gelombang air laut di bawahnya. Nelayan dan beberapa orang yang memancing di sana melihat saya dengan tatapan aneh. Tapi. Selama mereka tak mengganggu rutinitas ini. Saya tak peduli. Paginya pun saya bersepeda. Mengambil rute yang tak terlalu jauh di sekitar pulau itu. Saya tak ingin membuat ini semakin ruwet. Dan pagi itu. Saya melakukan hal yang sama. Berkeliling di jalan- jalan aman yang saya tahu. Karena cukuplah pikiran ini yang tersesat. Saya tak ingin tersesat dalam kondisi nyata. Masih pagi. Saya mengayuh melewati pusat perbelanjaan. Tak terlalu banyak aktivitas mencolok. Ada penjual nasi pecel yang mulai menyiapkan dagangannya. Satu dua gereja yang nampak ramai oleh jema’atnya untuk mengikuti kegiatan kerohanian. Orang-orang jogging, berjalan-jalan dengan anjing peliharaan mereka. Terlihat ada juga yang duduk-duduk di warung menikmati kopi pagi. Atau bersepeda seperti saya. Di kota ini sepertinya sudah ada komunitas pecinta sepeda. Saya lihat dari kostum kuning oranye yang mereka kenakan. Namanya OCC, kalau tidak salah singkatannya adalah Orzy Cycling Club. Entah. Saya tak terlalu yakin dengan huruf O-nya . Sepeda saya pun mengarah ke jalan Kilisuci, lalu belok ke pasar pahing yang cukup ramai. Dan kembali melewati Sri Ratu. Saya teruskan ke arah Imam Bonjol. Ada hal yang cukup menghibur ketika melewati jalan ini. Sebelum perempatan di sebelah kiri jalan. Ada banner dengan tulisan yanng cukup menggelikan : ”Pengobatan Tradisional Alat Vital oleh Mak Iyot asal Banten” . Oh.. Goaaaaaaat! Saya ingin tertawa sekeras-kerasnya! Kayuhan saya berlanjut ke jalan A. Yani. Di sebelah kiri jalan ini ada warung bakso yang setahun lalu pernah saya kunjungi bersama Om dan Tante selepas bepergian dari Blitar. Sebenarnya ada yang saya cari di dekat situ. Menemukannya. Tapi saya hanya meliriknya sebentar. Saya meneruskan perjalanan ke jalan Joyoboyo. Yang mana, lagi-lagi warung pecel di sebelah kiri jalan itu pernah saya nikmati pagi-pagi bersama Om dan Tante. Saya bergerak ke arah ladang tebu, dan disebelahnya berdiri megah bangunan-bangunan perusahaan rokok yang mendominasi di kota ini. Gudang Garam. Aroma tembakau menguar dari balik gedung-gedung itu. Saya suka wangi tembakau. Tapi menjadi kebalikan. Ketika ia dibakar dengan sengaja. Saya benci. Sungguh benci! Di sini terdapat rumah pribadi pemilik perusahaan rokok tersebut, konon di dalamnya terdapat satu kawasan khusus untuk penangkaran hewan-hewan peliharaan. Semacam kebun binatang lah. Tapi saya tak tahu pasti. Di depannya saja sudah banyak sekuriti yang berjaga. Sepertinya keberadaan rumah itu masih jauh di dalam. Karena halamannya begitu luas, tak bisa terlihat dari luar. Di antara bangunan-bangunan itu. Terdapat satu bangunan megah bernama Sasna Kridha Surya Kencana. Gedung ini biasanya digunakan untuk perhelatan besar, seperti pernikahan dari keluarga pemilik perusahaan rokok ini dan acara-acara lainnya. Malah di depan gedung itu, terdapat pangkalan helikopter. Pernah dengar sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan ini di tahun 2008 tidak? Tak usah dijelaskan ya. Pemandangan yang menarik juga. Ketika melihat seorang nenek renta di pinggir jalan sepanjang kawasan bangunan ini, sedang asyik menikmati tabung nikotin di bibirnya. Sepertinya. Beliau tidak terlalu ambil pusing. Usianya mungkin renta. Tinggal menunggu panggilan Yang Maha Kuasa. Jadi, beliau tidak perlu berkonsultasi dengan Mak Iyot akibat dari apa yang ia hisap. Tidaklah ada sesuatu yang hebat yang perlu tangkap dari tulisan ini. Tidak berarti. Tidak menginspirasi. Tak akan mengubah dunia. Saya hanya berusaha jujur kepada diri saya sendiri. Tiap-tiap dari kita pasti ingin mencari pembenaran-pembenaran dari apa yang terjadi. Entah dengan cara Tuhan. Atau pun non-Tuhan. Lihatlah. Betapa mudahnya memberi terapi kepada orang lain. Tapi memberi terapi untuk diri sendiri.. .susahnya tak terbayangkan. Penyesalan yang tak berkesudahan. Kekecewaan yang mustahil ada kesembuhan. Saya ingin mencoba mengobatinya sendiri. Saya. Tetaplah akan menjadi saya. Seseorang di sudut sana yang masih perlu tuntunan. #Tere~ Sendiri Saya suka lagu ini. Saking sukanya saya pernah menuliskan liriknya di diari ketika berusia 15 tahun. Beberapa hari yang lalu. Om memutar lagu ini lagi tanpa sengaja. Beliau memang suka dengan lagu-lagu lama. Saya kembali teringat saja. Di hari ini. Tuhan memutuskan untuk menghukum saya. Menghilangkan apa yang pernah saya milliki. Tak apa. Apa sih yang kekal di sini? Saya memilih Tuhan menghukum saya di sini. Daripada menghukum saya di akhirat nanti. Apa? Saya membicarakan akhirat? Yang pasti. Sehina apapun saya. Saya tak ingin keimanan saya terambil. Catatan Setahun Lalu. 120411

1 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar