Friday, April 13, 2012

3:49 AM - No comments

Tentang Sebuah Pintu

Lelaki di depan pintu. Ia mengetuk pintu itu dengan ketukan perlahan. Perempuan di belakang pintu. Mendengar ketukan itu. Tapi tak berani membuka pintu. Lelaki di depan pintu kembali mengetuk pintu itu lagi. Perempuan di belakang pintu membuka tirai jendela. Lelaki di depan pintu berbicara di antara celah jendela yang terbuka. Perempuan di belakang pintu mendengarkannya. ”Bisakah kau membukakan pintu ini untukku?” Ucap lelaki tersebut setengah berbisik. ”Sebenarnya bisa. Tapi pintu itu terkunci. Aku lupa menyimpan kuncinya di mana.” ”Mungkinkah kau bisa mengingat-ingat di mana terakhir kali kau menyimpannya, Nona?” ”Entahlah. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa kepadamu. Aku memang sengaja melupakan keberadaan kunci pintu tersebut. Aku tak ingin membiarkan seorang pun memasuki pintu itu.” ”Kau pasti bisa mengingatnya! Percayalah kepadaku, Nona. ” ”Sudah kubilang. Aku tak ingin mengingat kunci itu. Aku benci harus berusaha mengingatnya!” Perempuan itu mulai terlihat emosional. ”Tapi. Tapi. Untuk keperluan apa kau ingin sekali memasuki pintu terkunci ini?” sergah perempuan itu dengan tatapan curiga. ”Err.. Tadinya aku juga bingung. Seperti ada sesuatu yang menuntunku untuk ke sini. Yang mengharuskanku memasuki pintu ini. Mungkin kita bisa memikirkan dan mencari jawaban dari pertanyaanmu setelah kau membukakan pintu ini untukku. Ku mohon padamu. Temukan kunci pintu ini, Nona.” ”Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Siapa tahu kau mau berniat jahat kepadaku.” Perempuan itu masih tetap waspada. ”Tidak. Percayalah padaku. Aku pergi ke sini sama sekali tidak membawa barang-barang berbahaya untuk mencelakaimu. Kau bisa memeriksa saluran telponmu sekarang. Jika nanti aku berbuat jahat kepadamu, kau bisa menghubungi orang yang kau percaya untuk menolongmu.” ”Hmm. . baiklah. Aku akan mencoba mencarinya. Tunggulah sebentar.” Perempuan itu melunak. ”Ya. Aku akan menunggu. ” Lelaki itu menyanggupinya. Cukup lama. Perempuan di belakang pintu mencari benda mungil tersebut. Ia mengelilingi ruangan itu. Meraba-raba di atas lemari. Di bawah kolong meja. Hingga ia menemukan kunci itu terselip di antara tumpukan benang yang belum selesai ia sulam. Perempuan itu bergegas kembali. Dia mengacungkan kunci itu kepada lelaki di depan pintu. ”Heiy.. ini! Sudah aku temukan!”Pekik perempuan itu riang. Lelaki di depan pintu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Perempuan di belakang pintu cepat-cepat membuka pintu. Meraih gagangnya. Dan. ”Cklek” Pintu itu pun terbuka. Lelaki di depan pintu terlihat canggung ketika melewati pintu itu. Keadaan yang sama dengan perempuan di belakang pintu. Ia merasa aneh, karena sana sekali tak pernah membiarkan orang asing melewati pintu ini dengan mudah. ”Jadi. Apa yang kau inginkan?” ”Ummh.. apa ya?” Lelaki itu berpikir serius, dahinya berlipat-lipat. Memandang sekeliling ruangan itu. ”Bagaimana jika kita menggunakan dapurmu untuk melakukan aktivitas bersama di sana?” Perempuan itu terdiam, berpikir sebentar. ”Ya. Boleh. Itu ide bagus” Perempuan itu mengangguk mengiyakan. ”Tapi, apa kau bisa memasak sebelumnya?” ”Tidak juga sih.. Tapi aku bisa merebus spagetti. Atau membuatkan jus. Kau suka jus?” “Ya. Aku suka sekali” Perempuan itu tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada lelaki tersebut. “Baiklah. Hmm... apa kau juga punya persediaan marshmallow? Kita bisa memanggangnya nanti bersama-sama.” ”Oke. Biarkan aku yang meracik saus Bolognaise saja ya? Aku juga akan memotong-motong buah. Kita bisa mencelupkannya ke dalam lelehan coklat.” Mata perempuan itu meyakinkan lelaki tersebut. ”Brilian! Sepertinya aku membutuhkan yogurt untuk menambahkan rasa segar pada jus kita nanti. Oh iya. Jangan lupa. Cincangan daging di sausnya jangan lupa diperbanyak ya.” Pesan lelaki itu. ”Ahh..kau ini bawel sekali seperti nenek-nenek!” Refleks perempuan itu menjulurkan lidahnya kepada lelaki itu. Lelaki itu mencubit hidung perempuan itu dengan gemas. Mereka berdua pun saling membantu memasangkan celemek, dan tak lama mereka sibuk meramaikan ruang dapur milik perempuan itu, mempersiapkan hidangan yang akan mereka nikmati bersama. Mereka menghabiskan hasil kreasi masakan mereka itu di ruang makan terbuka yang bersebelahan dengan taman dan kolam ikan dengan hiasan bunga teratai. Sesekali mereka bersenda gurau. Berceloteh riang. Membicarakan hal-hal yang mungkin mereka anggap penting. Seperti kawan lama yang baru saja dipertemukan. Sangat akrab. ”Hei.. apa kau tak bisa makan dengan pelan? Lihatlah..mulutmu penuh dengan lelehan coklat. ” Perempuan itu menyodorkan tisu kepada lelaki tersebut. ”Ah..ku rasa tak perlu. Kau pasti akan selalu ada untuk membersihkannya bukan?” Lelaki itu mengerling, menggoda. ”Heh..enak saja!” Perempuan itu memalingkan muka, sebal sekaligus jengah. Tiba-tiba pandangan lelaki itu tertuju pada rak yang berisi tumpukan buku koleksi milik perempuan tersebut. ”Kau menghabiskan waktumu dengan buku-buku tebal itu?” Lelaki itu keheranan. ”Tidak juga.. hanya sesekali jika aku sudah bosan menyulam.” Tatapannya berbinar ke arah lelaki itu. ”Kau senang menyulam?” Perempuan itu mengangguk. Lelaki itu pun berkeliling di ruangan mungil tersebut. Sesekali ia bertingkah aneh, dengan sengaja mengetukkan kaki- kakinya di lantai. Ia berjalan menuju sebuah biola yang bersender di kursi yang tak jauh dari tempat mereka duduk. ”Kau bisa...” Lelaki itu menunjuk pada biola tersebut, menatap perempuan itu. Perempuan itu mengangguk sekali lagi, lalu lelaki itu meneruskan pertanyaannya. ”Kapan-kapan kau mau mengajariku kan?” Mata lelaki itu mulai terlihat jenaka. ”Tentu saja.” Perempuan itu menyanggupinya sambil tersenyum ringan. ”Oh iya.. Kau belum menjelaskan maksud kedatanganmu ke sini?” ”Pentingkah?” Lelaki itu mulai merasa tak nyaman dengan pertanyaan barusan. Perempuan itu mengernyitkan dahi. ”Bukankah kau yang mengatakan akan menjelaskannya setelah masuk ke sini?” ”Hmm. . Iya. Tapi aku pikir itu sudah tak penting lagi.” Lelaki itu menyenderkan tubuhnya ke pintu. Lalu menunduk dalam-dalam. ”Entahlah.. ” Ia bergumam. ”Aku tak tahu..” Perempuan itu pun menghampirinya. ”Hei.." Ia meraba pipi lelaki itu dengan tangan kirinya perlahan. ”Kau terlihat kebingungan.” Ia menatap lelaki itu dalam-dalam. ”Kau tersesat ya?” Perempuan itu menyentuh dagu lelaki itu dengan gestur kikuk. Lelaki itu menaikkan alisnya. Mengangkat bahu. ”Jangan-jangan kau salah pilih pintu untuk kau masuki?” Lelaki itu menggeleng. Diam tak menjawab. “Lalu?” Perempuan itu masih dengan mata jujurnya penuh rasa ingin tahu. ”Tidak penting aku salah masuk pintu atau tidak. Ku pikir waktu yang kuhabiskan bersamamu tadi itu menyenangkan. Sangat menyenangkan dalam hidupku.” Ucap lelaki itu sungguh-sungguh sambil menatapnya tulus. Perempuan itu menarik napas berusaha menahan letupan di dalam jantungnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menormalkan ledakan ini. Lelaki itu merapikan poni perempuan itu dengan lembut. Sambil menyematkan di telinganya. Lalu berkata. ”Terima kasih. Sudah membukakan pintu ini untukku.” Perempuan itu mengangguk tulus. Matanya sedikit memanas. ”Kapan pun kau mau. Kau boleh berkunjung ke sini lagi. Aku tak akan membukakan pintu ini untuk orang lain. Aku hanya...” Perempuan itu tertunduk, menahan gejolak itu lagi. ”Aku hanya akan membukakannya untukmu. Aku akan berusaha mengingat kunci pintu ini untukmu. Karena aku selalu lupa meletakkannya di mana.” Ucap perempuan itu hati-hati dengan tatapan paling jernih yang pernah lelaki itu lihat. Lelaki itu tertawa. ”Terima kasih. Terima kasih.” Lelaki itu melambaikan tangannya. Pergi. Lalu si perempuan itu pun mengunci pintu kembali. Catatan Setahun Lalu 130411

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar