Thursday, May 31, 2012

42

Those who are dead are not dead
They're just living in my head
And since I fell for that spell
I am living there as well
Oh.. Time is so short and I'm sure
There must be something more
Coldplay:42

Apa yang paling kekal di dunia ini? Bahkan tingkat keimanan pun bisa menghangus seketika. Apalagi hanya perasaan yang berbarengan dengan bermacam bentuk emosi terhadap semua objek yang terlihat jelas di dunia. Saya adalah angka kesekian dari orang yang menyaksikan.

Bagaimanakah? Bertahun-tahun lalu, saya pernah tidak menyukai keberadaan sesosok manusia. Yang dari sikap saya ini tadi, saya sangat punya alasan dan sebab. Tapi mengapa kali ini? Sekarang ini? Perlakuan saya, sikap saya tadi menjadi tak berlaku lagi. Saya melupakan. Mengabaikan, dan menganggap itu hanya keberadaan sesaat. Saya sadar. Itu takkan pernah abadi.

Alasan dan sebab menjadi memberangus, tertimpa banyak hal yang cukup membuat saya membuka mata lebar-lebar. Bukan sekedar panca indera yang kita sederhanakan dengan melihat ini berwarna hitam, ini berwarna putih.

Dongeng tentang manusia yang membanting handphonenya dan meremukkan apa yang membuatnya harus berkomunikasi dengan orang banyak. Baginya itu akan menambah masalah baru. Ia cukup mengambil tindakan dengan menghancurkan benda sialan itu. Menghentikan segala sumber masalah yang dahulunya sudah sangat membuatnya menjadi asing di negeri terasing.

Tahukah kamu? Saya belajar.

Jangan temukan saya adalah pendengar setia Mario Teguh, yang menyaksikan tayangan rutinnya setiap hari Minggu.

Saya tak pernah peduli dengan segala banyak yang mengatakan. Tapi saya cukup mengapresiasi bagi seseorang yang pernah menjadi pemabuk lalu mencambuki saya dengan kalimat-kalimat (yang mungkin bagi kalian adalah sampah) yang mampu membuat saya tersungkur takjub. Sekalipun ia pernah menyimpan berliter-liter alkohol di dalam perutnya.

Saya tak peduli pada "siapa". Tapi saya lebih memaknai pada "apa".

Alasan sederhana yang ingin ia sampaikan, "Saya takkan tinggal diam, terhadap orang-orang yang benar, akan tetapi tak ada satu pun yang membela" Saya katakan, "Persetan dengan pembelaan! Saya memang tidak berpayah-payah menunjukkan kebenaran yang sudah terselimut mendung itu. Tanpa saya sadari. Semuanya akan tersingkap dan memihak saya tanpa diminta"

Ia membenarkan. "Karena. Cukup saya saja yang mengalaminya. Berusaha menjadi benar. Tapi rupanya, tak satupun yang mengiyakan saya."

Dari itu saya tahu. Hingga saat ini. Akan masih banyak lagi orang yang begitu peka, dan menganggap saya ada untuk berharga. -Pada Satu Gelombang Suara- (ADF)

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar