Thursday, May 3, 2012

Ha-lo!

"Halo." Suara renyah seorang perempuan memantul di seberang sana. Menjawab deringan telpon di malam itu.

"Halo." Panca menyambung dengan nadi lirih.

"Ya. Halo. Perlu dengan siapa?" Suara itu mengulang lagi. Kali ini terdengar tegas.

"Oh, iya. Maaf. Setyo-nya ada?"

"Mas Setyo? Oh, Mas Setyo-nya masih makan."

"Emh, begitu. Boleh tahu pulang lemburannya kapan ya, Mbak?" Panca berusaha bersikap sopan dengan menyertai imbuhan "Mbak" barusan.

"Pulangnya..pulangnya sekitar jam 7. Maaf. Ini siapa ya?" Perempuan itu bertanya.

"Panca. Mbak yang ngangkat telpon ini siapa?"

"Saya? Delia. Iya nanti akan saya sampaikan ke Mas Setyo-nya. Ada perlu lain lagi mungkin?"

"Oh, nggak ada Mbak. Makasih ya."

"Ya."

Telpon ditutup.

Panca terdiam sebentar. Berusaha mencerna. Delia? Karyawan baru itu? Gadis yang sering disebut-sebut Setyo di sela-sela obrolan mereka tentang pekerjaan? Perempuan yang katanya selalu menjadi pusat perha..

Pikiran bercabangnya terputus. Hapenya berdering. Setyo! Diangkatnya segera, pikirannya tentang perempuan yang baru ia kenal dari sekedar sapaan suara tadi pun membuyar sementara.

Hingga di akhir pembicaraan mereka, suara Delia kembali bergaung di telinganya tiba-tiba. Panca berkomentar dengan malu-malu. "Tadi yang angkat si Delia katamu itu? Suaranya enak ya?" Setyo hanya tertawa mendengar celetukan sahabatnya itu sambil mengiyakan saja. Pembicaraan itu pun berhenti dengan bunyi klik.

Tapi tidak demikian bagi Panca. Suara yang berdurasi sebentar itu tak berhenti. Masih mengiang. Jernih. Terang. Seperti oase. Menyejukkan. Walau seolah-seolah akan menghadirkan banyak warna cerah di sana.

Delia. Panca mengeja nama itu.

Seperti apa rupamu sebenarnya?

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar