Friday, June 29, 2012

Seorang Al-Mukarrom Di 28 Juni

Sangat diakui, aku emang bukanlah jenis orang yang punya kefanatikan tinggi kepada Kyai maupun kepada pondok tempat aku pernah nyantri dulu. Jangan heran emang. Ato mau punya pandangan negatif buat aku, ya silahkan. Tapi untuk hari kemarin, bisa kan aku memenuhi "panggilan" untuknya? Penghormatan terakhir untuk beliau?

Selaku orang -yang entah dengan kadar banyak ato tidak, yang sekian tahun telah menanamkan nilai-nilai filosofi sebagai pegangan hidup. Maka, aku pun datang!

Ceritanya bermula pada saat aku hendak berangkat kantor jam setengah delapan. Serbuan pesan tiba-tiba muncul. Notif di watsap pun begitu. Aku sedikit kaget ketika pertama kali yang kubaca adalah kalimat "Innalillahi..." Karena, baru kemarin aku mengunjungi Kediri, menjenguk Omku yang terkena serangan strok ringan. Makanya, aku cukup shock sekali. Ternyata kabar duka tersebut bukan berasal dari Kediri, melainkan dari pondok tempat aku pernah belajar bertahun-tahun lalu. Seorang Al-Mukarrom..

Aku memang tak ingin bercerita bagaimana sesungguhnya sosok beliau di mataku. Karena pastilah banyak di luar sana, kakak-kakak almamaterku telah berkisah panjang lebar tentang riwayatnya. Aku pun dilema. Antara pergi ke sana, atau cukup mendoakannya dari sini. Apalagi dalam sebulan ini aku sudah banyak absen "mengantor". Pada saat pernikahan kakakku hingga tiga hari, dan lusa sebelum hari Kamis aku berkunjung ke Kediri mengunjungi Om yang dirawat di rumah sakit. Aku pun mengambil jalan untuk membicarakannya dengan Bos. Dan alhamdulillah. Beliau mengijinkanku sekali lagi untuk pulang lebih awal.

Tapi aku diberinya persyaratan supaya menyelesaikan tanggungan pekerjaanku berupa dua buah poster pada saat itu juga. Pontang pantinglah aku. Pusing untuk segera menggarapnya dalam waktu minim, karena harus mengejar keberangkatanku ke Prenduan. Belum lagi memikirkan bagaimana cara pergi ke sana.

Beberapa kawan di Surabaya sudah berkumpul dan sebelum Dhuhur mereka dijadwalkan berangkat. Sisa waktuku sangat tidak memungkinkan jika nekat harus mengejar mereka. 2 poster itu adalah tiket keberangkatanku. Maka, ku hubungi sahabatku, yang rupanya dia juga belum berangkat. Dia menyarankanku untuk langsung menyusulnya ke Bangkalan.

Sebenarnya kami berencana berangkat bersama-sama, ia pun masih di Surabaya, tapi karena dikhawatirkan aku masih lama gara-gara urusan pekerjaan. Dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke Bangkalan. Alhamdulillah, setelah berdiskusi dengan Bos dalam proses pembuatan tersebut, mengoreksinya dengan teliti, bolak-balik ngprint yang dibantu Mba Tri pula. Sembari sholat Duhur, makan, dan sesekali menunggu kabar dari sahabatku. 2 poster itu pun selesai. Aku tinggal telpon Indo untuk sparasi. Mba Tri malah membantuku menyusun rangkaian print out posterku. Jam 1 kurang, aku pulang ke rumah. Segera mandi, menyiapkan segala keperluan dan berangkatlah yang sebelumnya ijin ke Ayah, juga minta ijin ke Ibu via sms. Pada saat itu Ibuku masih di Kediri menunggui Om.

Setengah dua, aku memacu Revoku. Ternyata jalanan cukup macet, bahkan di Jalan Pahlawan menuju Suramadu sangatlah padat. Dan herannya sampai di Bangkalan tepat jam 3 Ashar, waktu yang kubutuhkan dengan jarak tempuh Surabaya-Bangkalan hanya satu setengah jam saja. Alhamdulillah. Aku selamat sampai di rumah sahabatku. Nyatanya pun dia baru saja sampai. Mungkin selisih 10 menitan. Maklum, dia naik bis dan melewati Perak bukan Suramadu.

Setelah siap, sejam kemudian kami berangkat naik bis yang cukup penuh. Sehingga aku dan sahabatku mendapat jatah berdiri. Kebetulan di sana bertemu dengan dua adik angkatan. Yang satunya kukenal, karena dia juga adik angkatanku di kampus. Mengobrol dengan mereka hingga aku iseng-iseng bertanya. "Di antara kami berdua (aku dan sahabatku), dulunya siapa yang paling galak?" Mereka berdua kompak menyebut sahabatku sebagai sosok senior tergalak di masa lalu. Hahahaha. Aku pun tertawa, sahabatku hanya geleng-geleng kepala dengan pertanyaan usilku dan jawaban spontan mereka. Aku tak bermaksud apa-apa sih, hanya ingin membuat suasana lebih nyaman di situasi repotnya kami berdiri. :)

Untunglah, sekitar daerah Burneh atau Tanah Merah ada beberapa penumpang yang memilih turun dan memberikan jatah kursinya kepada kami berdua. Kami pun lega. Setidaknya kami bisa sambil istirahat dalam perjalanan jauh ini. Tapi nampaknya aku tidak cukup lelap untuk tidur dengan keadaan bis yang melaju super kencang itu. Sahabatku malah nyenyak sekali. Aku pun iseng menon-aktifkan modus penerbangan yang kugunakan untuk menghemat batre hape. Ada notif watsap. Sahabatku yang di Mesir rupanya sudah menyiapkan acara Shalat Gaib di sana. Kebetulan dia kebagian menjadi seksi konsumsi. Beberapa foto dikirimkan kepadaku. Di sana sedang membuat bakso untuk acara tersebut. Seketika itu juga aku merasakan lapar. Hehehe.

Sampai di Pamekasan, aku dan sahabatku yang sudah terbangun membeli camilan dan minuman. Sebentar lagi kami sampai. Sekitar jam 7, kami mendaratkan kaki di depan Dedi (singkatan dari Darud Dhiyafah, sebutan Tempat Penerimaan Tamu di TMI Putri).

Sambil menanyakan posisi teman-teman yang lebih dulu sampai via sms, kami melangkahkan kaki ke selatan, menuju masjid, tempat TMI Putra. Kabarnya almarhum akan dikuburkan setengah delapan malam.

Sebelum sampai Masjid, kami sempat berpapasan dengan Nyai Anisah. Sayang sekali, karena penerangannya cukup gelap, kami tidak sempat bersalaman dengan beliau. :( Di depan masjid, sudah penuh dengan..entah berapa bilangan orang. Yang pasti banyak sekali orang-orang berkumpul bahkan meluber hingga di teras masjid maupun di depan area masjid. Kami berhenti untuk mendengarkan sambutan terakhir. Tak lama kemudian, iringan orang berduyun-duyun menuju selatan. Sepertinya beliau akan dikuburkan berdampingan dengan Kiyai Tijani.

Sayang sekali, karena agak gelap dan cukup susah untuk melesak maju di antara rombongan pria, momen yang kurekam melalui video cukup mengecewakan. Bahkan aku tak sempat melihat kerandanya. :'(
Aku cuman bisa merekam dari jauh dengan penerangan yang seadanya.

Setelah dirasa selesai, kami pun bertemu teman-teman lain. Wah, perubahan mereka benar-benar sangat mengejutkan! Wajahnya sudah sangat 'emak-emak'. Ya, beberapa mereka memang sudah ada yang menikah, bahkan ada yang sedang hamil 5 bulan. Tidak cukup itu saja. Aku malah bertemu dengan adek kelas yang dua tahun di bawahku. Dulunya kami cukup dekat dan mengobrol sebentar. Dari ceritanya, dia sudah memiliki anak perempuan berumur dua tahun. Wow! Aku takjub sekali. Membandingkan penampilanku dengan mereka, memang sangatlah jauh berbeda. Dari wajah, bentuk tubuh dan cara berpakaian. Hehehehe. Ya, namanya juga masih jiwa muda..

Puas mengobrol, aku dan sahabatku melanjutkan untuk sowan ke Nyai Zahro. Di sana kami bertemu dengan Nyaiku tercinta, Nyai Nur Jamilah. Yang ternyata beliau sudah punya anak laki-laki. Eheem, wajahnya sangat mirip Iqbal! Makanya, aku dan sahabatku mengira dia itu Iqbal. :)) Selain Nyai Nur Jamilah, kami bertemu Ustadah Luluk yang angkatan Fahrenzia. Sempat mengajar kami ketika Syu'bah dan kelas 1. Beliau membawa anak perempuannya bernama Fida, kalau tidak salah sih..

Dirasa cukup, kami pun berpamitan ke Nyai Zahro. Belum sempat keluar dari area rumah Al-Mukarrom, sahabatku masih berbincang dengan adek angkatan, membicarakan riwayat kematian beliau. Aku tidak terlalu memperhatikan. Yang jelas, di hari itu adalah hari terakhir ujian tulis. Katanya, setelah terjadi kabar duka tersebut, seluruh aktifitas dihentikan. Para santri diwajibkan ke musholla untuk mengaji. Setelah selesai, ujian pun dilanjutkan.

Lalu kami pun keluar, di jalan dekat I'Am aku iseng menelpon seorang kakak angkatan Arvenius yang masih mengabdi di situ. Bertemulah kami, juga sempat mengobrol. Dia mengabarkan bahwa akan melanjutkan S2 di Gontor, sedangkan temanku yang telah menyelesaikan studi S1-nya akan menggantikan peran kakak kelasku ini.

Sayang sekali kami hanya mengobrol sebentar, karena kakak kelasku tadi masih ada urusan yang harus ia selesaikan. Tapi aku sempat menunjukkan bentuk rupa Gazzyku kepadanya. Hanya cengiran yang ia tunjukkan, sambil mengatakan bahwa ia pun sesungguhnya sangat menginginkan handphone seperti Gazzyku itu.

Setelah bertemu kakak kelasku tadi, aku pun berkumpul dengan teman-teman angkatanku. Lagi-lagi mengobrol, lalu dilanjutkan makan malam. Parahnya, warung-warung di sekitarnya sudah kehabisan amunisi. Dengan sangat terpaksa, kami menjatuhkan pilihan pada warung bakso di pinggir jalan.

Setelah kenyang, kami pun pulang. Kali ini aku dan sahabatku tidak ngebis seperti yang pertama tadi. Melainkan nebeng salah satu rombongan teman yang membawa mobil dari Surabaya. Kami pun diturunkan tepat di depan rumah sahabatku hampir jam 1 malam.

Alhamdulillah, berkali-kali kuucapkan syukur bisa sampai dengan selamat. Karena, temanku yang menyetir masihlah amatiran pengalamannya. Hehehe. Di malam itu aku sedikit dilema, karena Jerman berlaga melawan Italia.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar