Tuesday, June 12, 2012

Terapi Kertas+Pulpen

Layar komputer menyala. Kertas kosong terhampar dengan pulpen merah di atas meja. Saya menatapinya bergantian. Tapi. Rupanya pemandangan di luar jendela lebih menarik perhatian. Partikel udara mengambang diam mengelilingi saya.

"Seliar inikah pikiran jika perlu dituliskan?"

"Apa yang ingin kau ungkap? Apa yang ingin kau buat? Omong kosong?? Ceceran sampah lagi?!"

Bedebah!

Yang menggejolak di hati, mungkin masih bisa ditoleransi. Head to head. Tapi jika ini berhubungan dengan torehan terhadap orang-orang terpenting dalam hidup?

Ini tak terelakkan. Lalu merapuh. Tumpahan air mata akan dirasa tak cukup untuk mengucap.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar