Tuesday, August 7, 2012

3:11 AM - No comments

Supernova

Di hari ke 17 berpuasa (ato ke 18 bagi yang puasa duluan), tanda-tanda kekehatamanku mengaji belum tuntas juga. Masih mentok di juz dua puluhan. Tapi tetep optimis semoga bisa segera khatam. Amiiiiin. Malah hari ini mengkhatamkan buku laen. Buku apa? Serial supernova seri ke 4, yakni Partikel, yang bulan April lalu rilis.

Efek setelah mengkhatamkan buku tersebut, seperti serangan sakit kepala. Rasa penasaran, kepuasan bercampur takjub luar biasa. Aku boleh sesumbar. Dee emang penulis yang hampir bisa disetarakan dengan Dan Brown! Versi Indonesia, perempuan pula! Wow!

 Bisa dikatakan aku termasuk 'pembaca basi banget' baru menjamah ranah Supernova pada sekarang ini. Sepuluh taun lalu, ketika pertama kalinya Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang terbit. Aku hanyalah gadis kecil yang menganggap buku yang ditulis Dee itu sangat dewasa. Sulit kucerna. Dan bercampur dengan kontroversi tentunya. Maka, kemampuan pemahamanku memang tak cukup bisa menangkap "kejeniusan" yang tersimpan di novel tersebut.

Bertambah taun, yang diiringi pendewasaan serta selera membacaku. Pemahamanku tentang karya tulisan Dee mulai berubah. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa menerimanya, bahkan sedikit mempelajarinya. Bahkan aku semakin ter-adiksi-kan oleh karya-karyanya. Tulisan ini memang tidak akan meresensi secara langsung dan detail tentang serial Supernova itu sendiri. Ini hanyalah sekedar kumpulan komentar acak yang ingin kutulis. Jujur, serial Supernova yang paling tidak membuatku terpana malah seri pertama. Terlalu rumit, walau sebenernya penyampaiannya sudah diupayakan runut. Mungkin dikarenakan inilah awal permulaan embrio Supernova dihidupkan bagi seorang Dee.

Di antara ke empatnya, yang paling membuatku terharu itu Partikel. Tokoh utamanya, Zarah benar-benar terlibat konflik emosi yang cukup dalam dengan orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya. Lain dengan tokoh-tokoh Supernova lainnya yang dibiarkan hidup mandiri tanpa perlu terkontaminasi emosional dengan keluarganya secara utuh. Paling terenyuh, pada saat Zarah bertemu Abahnya di detik-detik menjelang meninggalnya sang Kakek tersebut.

Tapi mau tau Supernova favoritku? Akar!

Ya, akar. Supernova paling kontroversial karena cover edisi pertamanya yang menampilkan simbol Omkara dianggap melecehkan umat Hindu. Alasannya? Seperti biasa tanpa alasan. Sila ditelaah sendiri. Walo bagiku, Supernova paling kocak adalah Petir. Dee benar-benar menyelipkan unsur-unsur kekonyolan dalam novel tersebut tanpa menanggalkan kepiawannya dalam menulis hal-hal serius.

Ada lagi sih yang perlu digarisbawahi, mengutip salah seorang blogger yang juga sangat menggemari karya Dee. Bahwa, tak peduli seberapa hebat karya-karya yang diciptakannya, karna kita lebih mencintai Dee sebagai penulis..daripada apa yang dia tulis. Sehingga kepercayaan yang menjadi pedoman adalah apapun yang ditulis, asal Dee penulisnya, pasti sesuatu tersebut menjadi hal yang spektakuler.

Tidak seperti buku yang kadang aku curi beberapa kalimatnya yang dinilai ajaib. Mungkin Supernova adalah pengecualian. Tapi susunan kata pengantar di dalam Partikel membuatku tertarik. Karena aku pun yakin, hadirnya Partikel dan buku Supernova lainnya bukanlah suatu kebetulan. Aku dan buku-buku tersebut bersua untuk sebuah tujuan. Entah apa. Waktu yang akan mengungkap. Tak sabar menunggu serial Supernova lainnya, Gelombang dan Inteligensi Embun Pagi! :D

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar