Monday, September 10, 2012

4:27 AM - No comments

Di Balik Bisik-bisik

Aku cenderung sensitif terhadap gosip, terutama gosip yang terjadi di tempat kerjaku belakangan ini. Bagaiman rincinya? Maaf. Aku tak suka untuk mengumbarnya di depan umum. Tapi ini cukup membuatku shock maka kewajibanku lah untuk menganggap ini bukanlah masalah besar. Nyaris setahun ini bekerja, bisa dibilang aku tak seberapa akrab dengan orang bersangkutan. Malah di awal-awal, kami berdua tak bertegur sapa. Entah malu, atau sama-sama segan. Baru sekitar dua bulan, aku mulai melakukan kontak komunikasi dengannya. Itupun karna ada suatu tanggungan yang mesti aku tunaikan tiap bulannya kepada orang tersebut. Lalu hubungan kami pun berkembang biasa, tak akrab, tapi bukan berarti tidak kenal satu sama lain. Hingga sampailah hembusan bisik-bisik tak nyaman tentang dirinya. Jujur, ketika mendengarnya, aku tak ingin untuk mempercayainya. Karna aku sama sekali belum melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tapi semua bukti yang diperdengarkan orang lain tentangnya, memang masuk akal untuk diterima. Aku pun masih meraba-raba, kepada mana yang mesti aku percaya. Tak ayal, walaupun aku bersikeras untuk tak langsung percaya, tetap saja efeknya telah membuatku bersikap lain kepadanya. Aku menjadi antipatif ketika berkomunikasi dengannya. Menjadi defensif saat berdekatan dengannya. Bahkan aku sangat menilai, tiap perubahan dari penampilannya itu. Menerka-nerka apa saja yang disembunyikannya dibalik kulit luarnya itu. Bersikap untuk tidak campur urusan orang memang sangatlah baik. Tapi aku menjadi responsif ketika orang bersangkutan ini dan segala tindak tanduknya tadi mulai mengganggu area amanku. Atau jika aku sendiri dipaksa melihat hal tak baik yang sebenarnya tak ingin aku lihat. Esensi menyaksikan kemungkaran yang jelas nyata di depan kita, sedangkan kita tak berdaya untuk berbuat apa.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar