Wednesday, January 16, 2013

4:20 AM - No comments

Ritual Malam Jumat

Bolehlah jika kamu tidak percaya bahwa aku tak ahli membaca tahlil. Sangat aneh bukan? Mondok 6 tahun lebih di sebuah pesantren (yang sebenarnya beraliran Nahdliyyin walau slogannya mengatakan "Berdiri di Atas Semua Golongan"). Kuliah 4 tahun di PT Islam? Tapi tak pandai bersholawat, membaca tahlil tanpa teks?

Oke. Banyak faktor mungkin.

Keluargaku bukan penganut yang terbiasa menyelipkan unsur-unsur semacam itu. Yaaah, kami memang cenderung agak ke-Muhammadiyah-an. Tapi kami sangat menghormati perbedaan dalam pergaulan di lingkungan tempat tinggal kami. Semisal ada pengajian khusus ibu-ibu, atau pembacaan diba', tahlil dsb.

Sedangkan aku pribadi, dari dulu memang sekedar asal-ikut-ikut saja. Jarang sekali menjadi pimpinan acara tahlilan, sholawat, diba' dsb.

Makanya, dulu sempet frustasi sendiri pas ngabdi. Karena di pedalaman sana masih sangat kental tradisinya. Hampir tiap minggunya di malam Jumat, pasti mengadakan acara seperi itu.

Dan peristiwa tersebut terulang kembali ketika KKN di masa kuliah. Hanya saja, karena anggota kelompokku lumayan banyak, jadi masih ada lah cara untuk mengelak. Hehe.

Lalu memasuki dunia kerja. Dunia yang sebenarnya dunia. Ada kejadian yang cukup memalukan, dan bikin terngiang sampe sekarang. Di satu situasi, ayah dari salah temen kerja ada yang meninggal. Pada saat kita bertandang ke sana itulah, aku kalah curi start memimpin tahlilan. Ada temen kerja yang malah terlebih dahulu berinisiatif. Dan itu sempet menjadi pembahasan keesokan harinya bersama teman-teman kerjaku. Otomatis aku ngerasa sungkan sekali. Nggak seharusnya aku sampe ngelempar tanggung jawab seperti itu. Tapi ada temen yang juga berkomentar, bahwa aku ini masihlah dianggap junior.

Hanya saja, itu cukup menohok hati juga.

Jadi. Ada baiknya bagiku untuk belajar lebih mendalam lagi. Mempelajari hal-hal sederhana yang dipandang remeh sekalipun.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar