Saturday, February 2, 2013

5:06 AM - No comments

Sanctuary

Kusapa engkau wujud keabadian. Tempat di mana hujan tak lagi ingin dingin, dan mentari tak ingin melarut dengan teriknya.

Kuucapkan selamat malam tiada berhenti suatu kali. Beban ketika melesak untuk dijinjing. Perbincangan cuaca menjadi sangatlah penting. Suguhan secangkir teh melati dengan uap menguar setipis kabut mengisi rentang hela udaramu lagi.

Izinkan uraian ini berkehendak melenyap. Tanganku tengadah menantang di semesta. Matamu mengatup, pertanda mengamini.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar