Saturday, April 20, 2013

4:41 AM - No comments

Darinya, Saya Belajar.

Jauh sebelum aku bisa memahami isi surat yang dibawa Kartini, di keluarga Ibu, sudah terdoktrin bahwa perempuan harus mandiri. And grandma, she's gonna be my Kartini in real life. Allaahummaghfirlaha warhamha wa 'afihaa wa'fuu 'anha.

Mbah Rahma, merupakan sosok perempuan tangguh bagi keluarganya. Penghasilan satu-satunya hanya bersumber dari gaji suaminya, Mbah Syamsu Allaahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fuu 'anhu. Dan itu dianggaplah kurang jika harus memberi makan 7 orang anak-anaknya.

Terlebih lagi. Mbah Syamsu masihlah berpikir bahwa anak-anaknya yang kebanyakan perempuan itu tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi. Karena dipikirnya, nanti pun kalau dewasa, pastilah anak-anak perempuannya hanya berurusan dengan dapur dan mengurus anak saja.

Tapi tidak bagi Mbah Rahma. Beliau malah berkeinginan supaya anak-anak perempuannya bisa mandiri. Beliau ingin anak-anak perempuannya tidak bernasib seperti dirinya di masa itu. Dan satu-satunya cara untuk mewujudkan hal tersebut, adalah dengan menyekolahkan mereka. Oleh karena itu, mau tidak mau mau, Mbah Rahma harus memutar otak bagaimana caranya ikut menopang keuangan keluarga. Beliau menjadi entrepeneur dadakan tanpa perlu ikut seminar usaha yang jadi tren seperti sekarang.

Dimulai dari toko kecil-kecilan. Tidak. Bukan toko dengan etalase. Tapi hanya satu lemari kaca yang berisi barang-barang jualannya. Selayaknya orang yang berkecimpung di dunia perbisnisan, Mbah pun pernah mengalami kerugian. Beliau pernah ditipu salah satu pembelinya. Entah berapa nominalnya, aku tidak tau.

Tapi, itu tidak langsung menyurutkan Mbah untuk tetap berusaha. Beliau pun berjualan asam. Ya. Asam. Di dekat rumah, ada beberapa pohon asam yang tumbuh bebas dan jumlah buahnya cukup banyak. Kadang berjatuhan malah. Biasanya pagi-pagi setelah Subuh, beliau melakukan ritual yang disebut "nyande' accem", ato jika dibahasa Indonesiakan menjadi memunguti buah asam. Mbah sendiri yang telaten memprosesnya. Mulai dari memisahkan buah asam dari kulitnya, mengulitinya lalu menjemurnya, untuk kemudian ditimbang dan dijual.

Mungkin terdengar sepele ya tentang perdagangan buah asam ini. Tapi lihat. 7 anak-anak Mbah Rahma alhamdulillah sudah sarjana. Ke-enam anaknya diterima jadi PNS. Dan satu anaknya bekerja di Persik Kediri saat ini. Perjuangannya tidak sia-sia. Bahkan terkenang olehku hingga sekarang.

Ya. Itulah mengapa aku sebut dia seorang Kartini yang pernah aku lihat langsung dalam kehidupan nyata. Aku memang tidak tahu hidup macam apa yang akan aku jalani nanti, apalagi setelah menikah misalnya. Tapi. Harapan Mbah Rahma, untuk melihat keturunannya mandiri baik yang perempuan akan aku pegang.

Selamat Hari Kartini untuk para perempuan hebat di Indonesia.. Berdayalah sesuai kemampuanmu! :)

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar