Sunday, May 12, 2013

8:35 AM - No comments

Deeply Conversation Part 2

Masih dengan tema sama seperti sebelumnya. Lanjutan dari Deeply Conversation Part 1

Sampai juga pada pembahasan yang mungkin sudah sangat sering dibahas oleh perempuan seumuran kami.

Kak Naimah membagi ceritanya itu ketika ku tanya tentang kisah asmaranya. Sebagai perempuan normal yaa..pastinya lah kami semua ingin berhenti pada suatu dermaga itu. Kak Naimah pernah juga bertemu beberapa. Tapi terkait pertimbangannya, yang menurutku sih wajar. Kenapa sampai saat ini dia belum memutuskan harus berlabuh pada siapa. Keluarganya pun pernah mendesaknya, tapi tidak sampai memaksa juga sih. Hehe.

Aku, Isna'ah dan Kak Naimah sepakat. Kami tidak bisa mentolerir lelaki yang bekerja berkaitan dengan bidang pelayaran. Mungkin karena kami sama-sama memiliki kesamaan. Kami terbiasa mandiri di saat ini. Banyak melakukan aktifitas sendiri. Jadi wajarlah, jika suatu saat kami akan lelah dan butuh penopang. Bukan malah menikah, menemukan hal yang sama saja pada saat masih melajang. Lalu, menikah itu tujuannya apa jika masih saja melakukan ini itu sendiri. Dalam segi umur, Kak Naimah dan Isna'ah sama-sama kompak ingin memiliki pasangan dengan usia yang lebih dewasa. Aku juga. Kami pun termasuk front yang menolak keras menjalin hubungan dengan berondong! Hahaa. Cuman, untuk usia yang sebaya, aku masih bisa mentolerir. Karena kadang bernegoisasi dengan lelaki sebaya terbilang mudah dan malah bisa satu pemikiran. Sayangnya, mereka berdua tidak.

Kak Naimah pun menanyakan kehidupan pribadiku. Ya tidak adil dong jika hanya mereka berdua yang bercerita. Aku pun menceritakan sekilas beberapa orang kandidat yang sempat tereliminasi. Hehe. Aku juga menjelaskan. Untuk kriteria, aku tidak sampai menekan harus bagaimana memang. Tapi ketika satu orang muncul, lalu aku mempelajarinya. Kadang, ada satu kendala dari orang tersebut yang tak bisa aku tolerir. Dan menurutku *lagi-lagi ini penilaian tunggal dariku* aku memang tak bisa melanjutkan ke tahap yang lebih serius. Silahkan katakan aku pilih-pilih. Tapi hargai juga bagaimana ikhtiarku ini memang sebagai pilihan, demi kebaikanku. Menikah bukan karena desakan sosial atau usia. Tidak harus yang sempurna. Bukan melulu dengan label baik dari sekedar tampilan luar. Melainkan yang memang sesuai dengan yang kubutuhkan. Dan semoga itu atas restu Allah.

Kak Naimah sempat melemparkan pertanyaan kepada kami, sampai sejauh mana perempuan harus berikhtiar. Aku tak bisa menjawab. Tapi alasan kenapa perempuan tidak selalu menjadi pihak yang pasif adalah; dunia ini sudah sangat sedemikian kompetitifnya. Banyak sekali lelaki hebat, banyak juga perempuan yang tidak bisa disepelekan entah outer/inner beauty-nya. *ketika berpendapat begini, sepertinya bumi memproklamirkan menjadi planet yang menyeramkan untuk ditinggali ya?* Hahaaa.

Celetukan Isna'ah yang menyebut bahwa sekian orang yang ku eliminasi tadi adalah out put dari pondok pesantren. Ya. Memang benar. Bahkan dari tingkat pendidikan mereka bukan lagi mengejar gelar Sarjana lagi. Ah ya..kata Isna'ah itu juga mungkin pengaruh dari pergaulan kita. Lalu aku juga berpikir. Mereka yang sudah tereleminasi itu..tidak perlu aku khawatirkan dari segi agama. Tapi. Tidak menutup kemungkinan. Jangan-jangan..nanti malah aku dipertemukan dengan orang awam soal agama. Dan aku jadi kerepotan. Haha. Ehh, ehh seorang teman virtual yang chatting di malam itu juga sempat menasehatiku begini: "Kita nggak perlu takut Din sama apa yang kita belum tau". Ya sih bisa jadi. Hehe.

Aku nggak punya konklusi apa-apa. Mungkin setelah malem itu kami akan menjalani hari dengan rangkaian aktifitas seperti biasa. Rutinitas seperti biasanya. Isna'ah dengan kegiatan jual beli tiketn pesawatnya. Kak Naimah bersama murid-murid dan cara uniknya mengajar. Lalu aku. Masih dengan dunia perkertasan. :)

Tapi. Setidaknya. Ada yang melegakan. Ada pemikiran baru tentang hidup yang selanjutnya. :) Ya. Aku masih perlu belajar banyak. Perlu bersyukur lebih sering.

Thats why I love this-unplanned-girls-talk. Maybe you just entrust your problem to their head for a minute. But. Dont you know? When you take it back from them, your problem is easier than firstly you get! :D

*nulisnya sambil liatin Lenka konser. Walo bisanya cuman lewat layar tipi. But I'm enjoying the show! ;)
Dan mengutip dari lirik lagunya yang selalu catchy itu:
"I feel.. I just need someone to say everything's okay."

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar