Wednesday, December 24, 2014

Before I Say 'Yes, I Do'

Mendekati hari akan 'diikat' secara resmi, bikin nggak nyaman. Hrrr. Sewaktu dia aja bilang kalau keluarganya lagi persiapan mau ke rumah, sesi dag dig dug sudah dimulai! Apalagi kurang lebih 24 jam lagi iniii.. Makjaaaang..

Semingguan ini malah kami banyakan berantemnya. Makin intens! Dari yang sepele, sampe perkara acara pinangan juga. Ya, memang kami sangat kurang pengetahuan masalah tradisi, kurang persiapan, kurang waktu yang dimepetin dengan liburan akhir taun ini, belum lagi jarak yang berjauhan hingga menyulitkan komunikasi yang kurang utuh. But, yowislah..

Langkah kami ini memang harus dimulai. Dan dijalani, satu persatu. Tap. Tap. Tap.

Di luar deg-degan dan ketakutan yang mengganggu ini, masih terselip buncah kebahagiaan.
Oh, I'll get his proposal tomorroooow..

Saturday, December 13, 2014

10:35 PM - No comments

Kota Seribu Sungai Part 1

Dengan segala ketiba-tibaan yang tak dinyana dan disangka ini, ortu ngajak berwiken ria di Banjarmasin. Segalanya bermula karna ortu ingin mengunjungi mesjid di kota tersebut. Katanya sih emang di Banjarmasin ini terkenal wisata relijinya, selain sungai dan sotonya itu.

Tiket pp dipesan. Hotel pun dibooking.


Berangkat dari Juanda sekitar jam 6, estimasi setelah Subuh dari rumah. Dan alhamdulillah, perjalanan baik dari rumah menuju bandara hingga sampai Banjarmasin ditakdirkan lancar jaya. Bahkan sebelum check in di hotel, kami sempat berkunjung ke Jembatan Barito dengan sungainya yang membentang lebaaaarr. Ya, sesuai namanya di bawah jembatan ini sungainya pun bernama sama. Bukan Brantas, apalagi Bengawan. Haha.



Untuk aku, ini pertama kalinya menginjak pulau Indonesia selain Jawa, Madura dan Bali. Sedangkan ayahku mungkin ini sudah ke sekian. Tapi kota Banjarmasin, menjadi pengalaman pertama kali bagi kami bertiga.

Kami menginap di Aria Barito Hotel. Sebelumnya aku pernah googling tentang hotel ini. Dan yang ku baca dari seorang blogger, dia menilai hotel ini buruk. Wah, langsung feeling nggak enak aja dong. Di google, rating hotel menunjukkan 3 bintang.



Eh tapi setelah kami ngaso santai di sini, ternyata? Yah lumayan lahh, daripada gelandangan di jalan. Aku juga nggak paham layanan hotel yang super itu mesti gimana. Yang kutau kamar empuk, ada pendingin ruangan, tv, kamar mandi bagus dilengkapi air anget dan segala pernik peralatan mandi. Minusnya emang kalo dari dalem kamar, bisa kedengeran kegaduhan di lorong depan kamar. Wifinya juga sesak napaaass. Haa. Dan ini pojok kamar yang ku suka.



Tapi bencana di malemnya, pas abis Magrib listriknya padam! Alamak. Untung nggak lama. Tapi efeknya, lampu lorong depan kamar tetep padam. Dan layanan tv sama telponnya mati. Wooohh..komplen ke cs-nya aku udah kayak nggak santai gituu. Haha. Jawabannya klasik sih, "ini masih ditangani" dijawab beberapa kali. Kata ayahku yang beliau baca di koran, di Banjarmasin emang listriknya sering padam. Itu yang bikin rugi malah. Nggak paham juga penyebabnya. Sampe kami makan malem di Rumah Makan Padang Sederhana yang masih di area hotel pun, listriknya sempet padam. Ajib.

Siangnya kami nyari makan. Aku liat di inet katanya di seberang hotel ada rumah makan ayam penyet gituu. Haah, jauh-jauh ke Borneo cuman mau makan penyetan kayaknya rugi besar yaa. Yoi, yang menarik sih sop buntutnya, sayang tutup. Sampe malem pun tutup. Tauk apa emang tutup untuk selamanya..atau emang karna wiken gini. Pilihan pun jatuh pada warung soto pinggir jalan sebelah kiri hotel. Ya..kira-kira berapa meter lah. Lupa nama depotnya apa. Yang pasti, masing-masing kami pesen soto dan nambah seporsi sate. Porsi sotonya buanyaaak, rasa pun lumayaaan dah. *padahal juga belum punya pengalaman makan soto Banjar. Masih sebatas soto Madura, soto Lamongan, soto Betawi dan Coto Makassar. Walau porsinya melimpah, tetep aja ludeees. Maklum, dari pagi emang belum makan. Oia, yang enak itu bumbu satenya. Warna bumbunya pun bukan coklat agak gelap seperti yang biasa kita makan di Jawa. Warnanya cerah kemerah-merahan. Total kerusakan sekitar 60 ribu. Sotonya masing-masing 14 ribu, satenya 12 ribu dan teh anget 2 ribu. Di sana pun menyediakan soto setengah porsi. Ya mungkin karna emang seporsi utuhnya jumbo kali yak.

Setelah makan, kita solat Dhuhur. Dan aku baru menyadari keanehan di hp. Karna jamnya otomatis mengikuti daerah WITA. Yang biasanya Dhuhur mungkin setengah dua belas, di sini jam setengah satu. Dan setelah itu kita tidoooorrr. Yang malah nggak nyenyak. Haha.

Sore abis Ashar, kita cus ke Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan Taman Siring. Mesjidnya itu mungkin semacem masjid agung di kota ini, gitulah. Bangunannya gede dan kompleksnya luaaass. Ada sekolah TK-nya juga dan sekumpulan pepohonan yang rindang di pojoknya. Katanya, ini dulu asrama militer. Tapi kemudian diratakan dan dibangun mesjid di atasnya.



Puas keliling, kita melanjutkan perjalanan menuju tempat di seberangnya. Karna tepat di depan masjid, ada Taman Siring. Ini katanya tempat gaul di sini looh. Saking gaolnya dijadiin ajang main skate board dan sepatu roda. Buanyaaak anak mudanya dan yang lebih muda lagi; Anak-anak! Banyak mereka yang latian sepatu roda. Meski itu masih tertatah. Ngliatinnya sereeem, masih anak kecil tapi nyalinya gede. Bahkan ada loh, yang masih di bawah umur 5 taun!



Perjalanan pertama, kami lewat depan mesjid Sabilal Muhtadin yaitu jalan P. Sudirman sisi sebelah kiri dari sungai Martapura. Nah, yang paling rame itu sisi sebelah kanannya sepanjang jalan P. Tendean. Rame, apalagi karna malem minggu. Para bocah masih semangat aja mainnya. Ternyata dari hasil interview ibuku, mereka, alias para bocah ini lagi latian persiapan buat lomba sepatu roda di sana. Wohooo.. Sok asik sekali. Ada juga yang sudah dewasa tapi masih bisa dihitung jari.



Yang cukup mengecewakan di sini, banyak sekali sampah di sepanjang jalannya. Entah itu dari kurangnya perhatian dari pemkot, atau kesadaran masyarakatnya. Bahkan di pagar yang membatasi jalan dan sungai banyak ditemukan gelas plastik bekas minuman. Di pinggiran sungainya pun juga ada kumpulan sampah. Huhuuu. Sangat disayangkan. Coba di luar negeri, sungai-sungai begini pasti dikelola dengan cukup baik. Yah, nggak usah keluar negeri dulu lah, karena aku pun juga belum pernah melancong keluar negeri.Yang terdekat seperti Surabaya, taman-taman di pinggir sungainya sangat tertata dan terjaga kebersihannya. Apalagi taman ini sudah menjadi ikon menarik di Banjarmasin, selain taman terbuka bagi warganya.



Karna mau Magrib dan kaki sudah menyerah tanda kecapekan jalan, kami balik ke hotel. Padahal sepanjang sisi kanan kiri sungai tersebut masih panjang loh. Tapi emang udah ampun-ampunan jauhnya.

Di hotel siap-siap solat Magrib dan makan malam. Karna masih penasaran dengan sop buntut di sebrang jalan hotel..berangkatlah ke sana lagi. Namun, lagi-lagi tutup. Buuuh.. Dengan pilihan terakhir, kami melangkahkan kaki menuju RM Padang Sederhana yang masih satu area dengan hotel. Di sini lah tempat makan yang sadis. Biaya makan kami bertiga melebihi angka dua ratus rebu. Waduuduuuh. Mehooong beneeerr. Sebotol air mineral Club ukuran tanggung dihargai 5 rebuu. Lauknya perpotong 16 rebuu. Kiamaat. Haha. Soal rasa ya gitu lah..sama aja kayaknya. Besoknya pas baru mendarat di Juanda, sempet beli makanan di RM Padang pinggir jalan, bertiga cuman 50 rebu sisa seribu lohh. Hehe.

Di hari kedua akan disambung lagi yaa..

Thursday, November 27, 2014

1:06 AM - No comments

[Bukan Resensi] Novel The Maze Runner Series

Berbekal buku pinjaman teman pada Jumat lalu. Maka, saya memulai membaca bukunya di hari Senin. Yap, buku pertama telah diangkat ke layar lebar, nampaknya laku dan langsung ngeheitss di hari-hari penayangannya. Saya nggak nonton, dikarenakan..dikarenakan takut dikecewakan. Hehe. Seperti yang pernah dilakukan Annabelle kemarin. Entah lah, saya akhir-akhir ini sudah putus harapan kalo ngebioskop euy. Kalo nggak kepingin-kepingin banget.

Oke, langsung pada apa yang ingin saya tulis setelah membaca The Maze Runner Series ini. Sekedar mengingatkan. Ini bukan resensi, ulasan, atau sinopsis bahkan ditakutkan malah ada sedikit cuplikan spoiler di luar kesengajaan saya. Bisa memojokkan penulis, atau memujanya. Terserah.

Buku pertama saya selesaikan di hari Senin. Alurnya bagus, tiap halaman yang saya buka selalu membuat saya penasaran. Ya, penasaran. Itu modal awal kita jika ingin mengetahui sesuatu bukan? Sekelompok abg yang dihilangkan ingatannya, dikumpulkan untuk bertahan hidup dengan berbagai rintangan, kalo menurut bukunya disebut variabel. Keseluruhan di buku pertama saya suka, walo masih menyisakan banyak pertanyaan di kepala. Karakter tokohnya pun mulai menonjol, selain tokoh utama. Semisal Newt dan Minho yang sangaaat saya suka. Terutama Newt, setelah saya selidiki siapa yang memerankannya di film tersebut. Huff. Ya, Thomas Sangster cute sekali loh! :6 Padahal samsek belum nonton, aihh.

Sama dengan buku pertama, juga saya selesaikan sehari. Di buku kedua ini, ketidaksukaan saya mulai tampak. Ceritanya membingungkan dan tidak jua menjawab banyak pertanyaan yang tlah timbul di buku pertama. Malah ada loh, yang bikin saya kesel. Hadeh. Saya benci kamu, Teresa! Di buku pertama dan di awal buku kedua, si Thomas digambarkan (terlalu) terobsesi dengan si Tere ini. Penggambarannya inilah yang kerasa janggal.

Terdapat istilah crank, pengidap penyakit Flare. Apa itu Flare? Katanya sih penyakit ini menyerang otak, efeknya bikin gila dan kalau udah tahap "Gone", hilang sisi rasional dan manusiawinya, trus jadinya makan orang deh! Sama kayak Zombie yak? Yoi, pada buku kedua ini saya merasa suasananya kayak Resident Evil. Hehe.

Yang bikin kerasa juga. Kenapa tiap ada apaa gitu, jedanya pasti dengan tidur, istirahat, kalo nggak ya makan. Kayak udah terjadwal makan dan tidurnya. Kenapa nggak sekalian sama mandinya juga, ya? Cuci baju? Masak? Hrrrrr.. Abaikan.

Menginjak buku ketiga, saya sudah mulai bosan. Gairah untuk membaca sudah menurun. Tapi saya bela-belain aja dan pasrah. Karena udah terlanjur maraton.

TERNYATA?? Masih sama! Kenapa dan apa, masih belum memuaskan dengan hanya menyelesaikan bukunya. Pilihan Thomas untuk menolak memorinya dikembalikan juga terasa pilihan yang aneh. Lalu, untuk apa semua ini? Toh, dengan dikembalikannya memori dan tidak, tetap saja Thomas yang akan dijadikan target untuk percobaan lagi. Ya, yang dibutuhkan hanya otaknya saja.

Adegan kekerasan cukup intens di sini. Bunuh membunuh sudah biasa. Malah kadang saya lewati bagian perkelahian dan tonjok-tonjokannya. Cuman saya agak heran, kenapa ini bisa sangat didetailkan. Apalagi jika ini dibaca remaja atau usia di bawahnya.

Malahan saya ngayal, kalo seandainya saya yang jadi tokoh utama, yaitu Thomas. Maka, mungkin saya udah mati duluan dari buku pertama. Haha. Yaa, itu saking banyaknya rintangan dan kengerian yang disuguhkan. Umhh..apa mugkin karena baru pertama kali ini saya baca buku bergenre dystopia? Sudahlah. Lupakan. Wicked is Gooood lah, pokoknya! :p

Yang paling mengharu biru adalah ketika Newt mati. Ya, si ganteng ini ternyata terinfeksi virus Flare. Kegantengannya tergantikan dengan rambut yang mulai tercerabut karena dia frustasi, juga mungkin virus tersebut sudah membuatnya menjadi separuh Crank.

Dan isi pesan yang menyuruh Tommy untuk membunuhnya adalah hal yang tidak saya inginkan. Saya pikir, surat yang ditujukan untuk Thomas dari Newt adalah jalan keluar untuk menyembuhkannya atau kejutan yang gimanaa gitu. Ternyata.. :( Tapi ada kejutan kecil di situ yang menjawab rasa penasaran saya dari awal membaca membaca buku. Rahasia Newt tentang kepincangan kakinya. Kenapa penggambarannya terlihat tegar dan cukup bijak bin dewasa dari buku pertama, namun merapuh pada buku ketiga.. Oia, Newt pun punya panggilan khusus buat Thomas, yaitu Tommy. Itu malah bermula sejak buku pertama loh. Sejak pertamaThomas dikirim ke Glad. Saya nggak tau kenapa bisa gitu. Jangan-jangan, mereka sebenernya punya pertalian darah, sodaraan mungkin? Nah, ini deh..yang nggak kejawab sampe tamat.

Teori tentangg bagaimana mengorbankan sekelompok orang untuk menyelamatkan lebih banyak orang adalah legal menurut WICKED. Ya, lagi-lagi Wicked is goooood deh, so good kayak sosis.


Pada akhirnya, berlembar-lembar halaman dari tiga novel yang saya baca ini. Ditamatkan secara paksa hanya dengan selembar surat perintah dari seorang Kanselir kepada Thomas. Yang lagi-lagi kenapa nggak diperkenalkan profilnya oleh penulis kalo memang si Kanselir ini mampu menghentikan segala kekacauan. Ujug-ujug ngirim surat, habis itu tamat deh.

Teresa juga mati dengan konyol dan keliatan gampang banget matinya. Walau saya nggak seberapa suka sama Teresa, tapi tokoh yang saya kira di buku kedua cuman jadi figuran dan kurang jelas asal usulnya di buku ketiga, malah nemenin Thomas menikmati senja yang indah di akhir buku. Siapa lagi kalo bukan, Brenda? Fyuuh.. Nggak kurang aneh apalagi ya? Hehe.

Oiaaa, tapi ada kosakata yang membuat saya mengernyitkan kening. Mungkin karena sang penerjemah bener-bener total nerjemain sesuai kaidah BI yang benar. Sampe kita yang awam nggak pernah denger kata tersebut, yaitu kata Garas. Yang mungkin kata ini menunjukkan pada bagian tubuh, yakni tulang kering. Jadi ada tokohnya yang dihantamm atau dipukul "garas"nya, yang maksudnya adalah tulang keringnya. Kata lainnya sudah pernah saya temukan sih di Harpot, seperti mencelus atau mencelos. Hehe.


Intinya, dari semua yang diupayakan Dashner. Saya sangat mengapresiasi buku pertama. Dan saya suka banget Newt. Sama Minho juga, dikiiit. Sudah, gitu aja dulu ya. Nonton filmnya nyusul deh.

Monday, November 10, 2014

Monday, October 27, 2014

7:04 AM - No comments

Selamat Hari Blogger Nasional 2014.

Ahelah.. Berasa sok momen aja nih ceritanya. Emang hari ini lagi pas aja. Dipas-pasiiin. :p

Sedikit mengisahkan kegelisahan yang menggeliat akhir-akhir ini. Keinginan buat konsis dan rajin ngblog lagi. Sebenernya, ini lagu lama. Dan banyak juga yang mengalaminya. Tapi. Ya anggap saja..kita tiada jenuh untuk usaha. Hehe. Minimal niaaaat laaah.

Ku kasih tau deh si pacar. Tentang aku yang udah jarang nyosmed dan ngblog lagi. Eh diee malah berspekulasi kenapa aku jarng nongol karna udah nggak ada harapan lagi dari sosmed. Secara kan udah nggak single lagi. *alamakjiiing. Respon "karna-udah-nggak-ada- harapan-lagi-di-sosmed", sungguh tak bersopan santun sama sekaleee. Tapi dia tetep nyemangatin, sapa tau dia ngikut rajin nulis juga. Hohooo.

Sebenernya masih tetep nyoret-nyoret, tapi nggak seberapa intens. Dan dipost di blog yang kami jaga kerahasiannya. Aku bilang kami di sini, maksudku, aku dan pacar. Jadi kami punya blog yang dikelola bersama. *heciyee..cuiiitt cuiiitt.

Tapi sekarang, kendalanya adalah hape sudah tidak men-support layanan tumblr. Entah kenapa. Padahal dengan hape menawarkan kemudahan dan kepraktisan ya. Yang masih bisa digunakan itu aplikasi blogger. Oleh karna itu, kemungkinan post terbanyak akan lebih banyak masuk ke blogger. Tidak seperti dulu, yang bisa dipost di dua-duanya secara bersamaan.

Baiklah. Tanpa perlu ditutup dengan sesuatu yang menakjubkan. Cuman ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Blogger Nasional. Terhitung sudah 5 taun menginjak ranah perbloggingan..alias akhir taun 2009, dan masih cupu kala itu. Hehe. Baru intens sekitar taun 2012. Fokus sama tumblr, yang malah baru mulai join pertengahan taun 2011.

Happy Blogging, anyoneee..

Sunday, October 26, 2014

12:11 AM - No comments

Keabsurd-an Raditya Dika

Seharian kemarin, aku baca-baca blog Raditya Dika. Bukan. Aku bukan penggemar garis keras juga. Biasa aja. Tapi, emang timingnya lagi penasaran kali ya. Masa' blogger terkenal sejuta umat, tapi aku belum ngubek-ngubek blognya secara sporadis? Palagi, kalo parameter fanatis bombastis, ditinjau dari seberapa banyak koleksi buku-buku yang dia tulis, dan film-film yang sudah dia mainkan maupun yang disutradara-i. Halah, paling banter liat Malming Miko di tipiiih. Haha. Namatin dua buku terakhir yang dia rilis, itupun juga hasil minjem dari temen.

Dulu. Pernah ditawarin buku-buku dia yang pertama. Tapi waktu itu, aku masih belum dapet "klik"-nya sama apa yang dia tulis. Nggak terkesan gitu  lah. Lalu,waktu berlalu begitu aja. Dan mungkin, gaya kepenulisan dia mulai bisa ku terima, atau mungkin gaya kepenulisannya yang mulai dewasa? Bisa "ngena", gitu yaaa.:D

Kesimpulannya. Gaya komedi dalam tulisannya, yang mungkin sekilas bodoh, bego, atau apalah. Sebenernya mengandung kecerdasan yang nggak biasa, alias butuh perenungan. Itulah, yang ku suka! :) Gampangnya, bisa kita bandingin ketika nonton komedi 'pukul-pukulan' di tipi, dan ngeliat video stand up comedy.

Maka dari itu. Sekarang apa yang di punya Raditya Dika menjadi trend. Rame-rame orang follow twitter dia, baca blognya (eh, blognya duluan keleeus. Ya, aku soalnya follow tuiter dia duluuh. Haha), gaya becanda atau ngetuit ala-ala dia. Berduyun-duyunlah orang ngeblog, bikin buku, mencoba peruntungan sebagai comic, de-es-te. Apa yang dicetuskan Raditya Dika dalam dunia digital sebagai creativepreneur di NKRI, cukup berhasil. Setidaknya, dia sudah membuka lapangan kerja baru dan membuat orang menemukan passion-nya masing-masing. Di blognya, dia juga kadang mencantumkan beberapa project yang sedang dikerjakan.

Karna lagi intens kepo meneliti beliau, alhasil sampe kebawa mimpi semalam. Hiyaaakks. Masa' deh, abis ngobrol ini itu, aku sampe tanya nomer kontak dia. Dan, untungnya nggak pake selfi. Itu cuman MIMPI aja siiihh. :p

Trus pas tadi buka tuiter. Rupanya, dia lagi di esbeye sodaraaaah. Ngisi talkshow di Sutos. Pelatihan nulis gitu. Haiiiihh. Meskipun aku udah daftar onlen di menit-menit terakhir, tetep bikin galau. Bukannya gimana, aku ngerasa kadang udah "kelewat umur" (baca: tua) buat masih ngikut acara begituan. Palagi kalo udah waktunya mepet, males banget mesti keburu. Ih, nggak asik lah pokoknya kalo masih macet-macetan juga.Heuheeuuu.

Jadi, melayanglah satu tiket kesempatan buat dapet ilmu nulis-nulis. Kapan hari juga Dika sempet ke UINSA, udah fix mau dateng bareng temen. Eh, pas waktu itu aku nganterin Ibu kemana gitu. Pas si temen juga ada acara mendadak sama keluarganya. Yasudlaaaaah...

Dan di sinilah, saya. Siang yang panas ini, mandangin leptop. Apdet tulisan. Sambil minum susu Ultra Milk dingin rasa Moka. Endeuuuusss..

Thursday, October 9, 2014

9:19 PM - No comments
Halo, dunia. Lama tak bersapa ria. Kesesakan waktu bersinggungan aktifitas menjadi tak berimbang. Lelah menghinggapi gelap malam. Hingga kadang tergeletak lupa menggosok gigi. Pekerjaan, hubungan dengan manusia lain, bersantai di akhir pekan, kebutuhan fisik yang mesti dipenuhi, bahkan nasib yang sudah diatur oleh-Nya. Semua berangkaian, antri berentetan. Katanya, menulis sebagai terapi healing. Tapi, sudah cukup sampai pada kemarin saja. Ada kenyataan yang mesti dirajut perlahan. Rahasia yang tak lagi bertempat di sana. Bahkan setitik noda pun.

Sunday, June 29, 2014

8:02 PM - No comments

Ramadan Kareem

Wow! Subhanallah.. Bersua kembali dengan Ramadhan. Alhamdulillah. Diberi kesempatan sekali lagi untuk memperbanyak amalan ibadah dalam sebulan. Mungkin tak akan terlalu banyak postingan tentang pernak pernik Ramadhan. Karena, sedang ingin intens membaca buku selain Al-Quran tentunya. Semoga bisa menamatkan beberapa buku, dan juga mengkhatamkan Al-Quran minimal dua kali selama sebulan ini. Amin.

Oia, jikalau berkenan mampirlah ke link akun di  Goodreads/Dina Ulvia :)

Thursday, June 5, 2014

5:13 AM - No comments
Bagaimana mungkin kita bertemu lagi? Walau itu hanya sekedar rekaan lelap? Sesekali menengok yang diingini pada hari dan hati terdahulu. Sumringah dan sembab mengadu bersamaan.

Semuanya akan terkenang menjadi sesal.

Saturday, February 8, 2014

12:05 AM - No comments

Selamat Nyenyak

Tidur dengan setumpuk kekecewaan itu sangatlah kurang nyaman. Pasti keesokaannya akan terjaga dengan perasaan paling tidak berguna. Tapi bagaimana. Kebutuhan tubuh untuk istirahat tidak bisa diganggu gugat. Entah. Mungkin urusan perasaan masih bisa ditunda. Mari. Selamat nyenyak semua.