Thursday, November 27, 2014

1:06 AM - No comments

[Bukan Resensi] Novel The Maze Runner Series

Berbekal buku pinjaman teman pada Jumat lalu. Maka, saya memulai membaca bukunya di hari Senin. Yap, buku pertama telah diangkat ke layar lebar, nampaknya laku dan langsung ngeheitss di hari-hari penayangannya. Saya nggak nonton, dikarenakan..dikarenakan takut dikecewakan. Hehe. Seperti yang pernah dilakukan Annabelle kemarin. Entah lah, saya akhir-akhir ini sudah putus harapan kalo ngebioskop euy. Kalo nggak kepingin-kepingin banget.

Oke, langsung pada apa yang ingin saya tulis setelah membaca The Maze Runner Series ini. Sekedar mengingatkan. Ini bukan resensi, ulasan, atau sinopsis bahkan ditakutkan malah ada sedikit cuplikan spoiler di luar kesengajaan saya. Bisa memojokkan penulis, atau memujanya. Terserah.

Buku pertama saya selesaikan di hari Senin. Alurnya bagus, tiap halaman yang saya buka selalu membuat saya penasaran. Ya, penasaran. Itu modal awal kita jika ingin mengetahui sesuatu bukan? Sekelompok abg yang dihilangkan ingatannya, dikumpulkan untuk bertahan hidup dengan berbagai rintangan, kalo menurut bukunya disebut variabel. Keseluruhan di buku pertama saya suka, walo masih menyisakan banyak pertanyaan di kepala. Karakter tokohnya pun mulai menonjol, selain tokoh utama. Semisal Newt dan Minho yang sangaaat saya suka. Terutama Newt, setelah saya selidiki siapa yang memerankannya di film tersebut. Huff. Ya, Thomas Sangster cute sekali loh! :6 Padahal samsek belum nonton, aihh.

Sama dengan buku pertama, juga saya selesaikan sehari. Di buku kedua ini, ketidaksukaan saya mulai tampak. Ceritanya membingungkan dan tidak jua menjawab banyak pertanyaan yang tlah timbul di buku pertama. Malah ada loh, yang bikin saya kesel. Hadeh. Saya benci kamu, Teresa! Di buku pertama dan di awal buku kedua, si Thomas digambarkan (terlalu) terobsesi dengan si Tere ini. Penggambarannya inilah yang kerasa janggal.

Terdapat istilah crank, pengidap penyakit Flare. Apa itu Flare? Katanya sih penyakit ini menyerang otak, efeknya bikin gila dan kalau udah tahap "Gone", hilang sisi rasional dan manusiawinya, trus jadinya makan orang deh! Sama kayak Zombie yak? Yoi, pada buku kedua ini saya merasa suasananya kayak Resident Evil. Hehe.

Yang bikin kerasa juga. Kenapa tiap ada apaa gitu, jedanya pasti dengan tidur, istirahat, kalo nggak ya makan. Kayak udah terjadwal makan dan tidurnya. Kenapa nggak sekalian sama mandinya juga, ya? Cuci baju? Masak? Hrrrrr.. Abaikan.

Menginjak buku ketiga, saya sudah mulai bosan. Gairah untuk membaca sudah menurun. Tapi saya bela-belain aja dan pasrah. Karena udah terlanjur maraton.

TERNYATA?? Masih sama! Kenapa dan apa, masih belum memuaskan dengan hanya menyelesaikan bukunya. Pilihan Thomas untuk menolak memorinya dikembalikan juga terasa pilihan yang aneh. Lalu, untuk apa semua ini? Toh, dengan dikembalikannya memori dan tidak, tetap saja Thomas yang akan dijadikan target untuk percobaan lagi. Ya, yang dibutuhkan hanya otaknya saja.

Adegan kekerasan cukup intens di sini. Bunuh membunuh sudah biasa. Malah kadang saya lewati bagian perkelahian dan tonjok-tonjokannya. Cuman saya agak heran, kenapa ini bisa sangat didetailkan. Apalagi jika ini dibaca remaja atau usia di bawahnya.

Malahan saya ngayal, kalo seandainya saya yang jadi tokoh utama, yaitu Thomas. Maka, mungkin saya udah mati duluan dari buku pertama. Haha. Yaa, itu saking banyaknya rintangan dan kengerian yang disuguhkan. Umhh..apa mugkin karena baru pertama kali ini saya baca buku bergenre dystopia? Sudahlah. Lupakan. Wicked is Gooood lah, pokoknya! :p

Yang paling mengharu biru adalah ketika Newt mati. Ya, si ganteng ini ternyata terinfeksi virus Flare. Kegantengannya tergantikan dengan rambut yang mulai tercerabut karena dia frustasi, juga mungkin virus tersebut sudah membuatnya menjadi separuh Crank.

Dan isi pesan yang menyuruh Tommy untuk membunuhnya adalah hal yang tidak saya inginkan. Saya pikir, surat yang ditujukan untuk Thomas dari Newt adalah jalan keluar untuk menyembuhkannya atau kejutan yang gimanaa gitu. Ternyata.. :( Tapi ada kejutan kecil di situ yang menjawab rasa penasaran saya dari awal membaca membaca buku. Rahasia Newt tentang kepincangan kakinya. Kenapa penggambarannya terlihat tegar dan cukup bijak bin dewasa dari buku pertama, namun merapuh pada buku ketiga.. Oia, Newt pun punya panggilan khusus buat Thomas, yaitu Tommy. Itu malah bermula sejak buku pertama loh. Sejak pertamaThomas dikirim ke Glad. Saya nggak tau kenapa bisa gitu. Jangan-jangan, mereka sebenernya punya pertalian darah, sodaraan mungkin? Nah, ini deh..yang nggak kejawab sampe tamat.

Teori tentangg bagaimana mengorbankan sekelompok orang untuk menyelamatkan lebih banyak orang adalah legal menurut WICKED. Ya, lagi-lagi Wicked is goooood deh, so good kayak sosis.


Pada akhirnya, berlembar-lembar halaman dari tiga novel yang saya baca ini. Ditamatkan secara paksa hanya dengan selembar surat perintah dari seorang Kanselir kepada Thomas. Yang lagi-lagi kenapa nggak diperkenalkan profilnya oleh penulis kalo memang si Kanselir ini mampu menghentikan segala kekacauan. Ujug-ujug ngirim surat, habis itu tamat deh.

Teresa juga mati dengan konyol dan keliatan gampang banget matinya. Walau saya nggak seberapa suka sama Teresa, tapi tokoh yang saya kira di buku kedua cuman jadi figuran dan kurang jelas asal usulnya di buku ketiga, malah nemenin Thomas menikmati senja yang indah di akhir buku. Siapa lagi kalo bukan, Brenda? Fyuuh.. Nggak kurang aneh apalagi ya? Hehe.

Oiaaa, tapi ada kosakata yang membuat saya mengernyitkan kening. Mungkin karena sang penerjemah bener-bener total nerjemain sesuai kaidah BI yang benar. Sampe kita yang awam nggak pernah denger kata tersebut, yaitu kata Garas. Yang mungkin kata ini menunjukkan pada bagian tubuh, yakni tulang kering. Jadi ada tokohnya yang dihantamm atau dipukul "garas"nya, yang maksudnya adalah tulang keringnya. Kata lainnya sudah pernah saya temukan sih di Harpot, seperti mencelus atau mencelos. Hehe.


Intinya, dari semua yang diupayakan Dashner. Saya sangat mengapresiasi buku pertama. Dan saya suka banget Newt. Sama Minho juga, dikiiit. Sudah, gitu aja dulu ya. Nonton filmnya nyusul deh.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar