Monday, January 26, 2015

Kebangetan!

Momen bengong terjadi, ketika penulisan; nama kota, pulau, danau dll yang kadang ditemukan dalam legenda pada sebuah peta sudah terselesaikan. Tertegun sambil memandang jalanan dari balik jendela.

Teringat, sudah sebulan lebih sehariii aku 'diikat' oleh +Kadarisman Ahmad S . Umh..ya belum seberapa sih memang jika dibanding pasangan lainnya. Apalagi, ikatan ini juga masih belum terlalu kuat untuk menghalalkan interaksi kami.

Kebetulan, adek yang kuliah di PNJ Depok sedang liburan dan baru saja pulang. Kami berbincang banyak, terutama kuliah, bisnis onlinenya yang tersendat dan kegiatan di luar kuliahnya di sana. Hingga sampailah pada topik acara pertunanganku. Dia pun menanyakan dari awal bagaimana proses penyatuan kami hingga sekarang. Aku bercerita blah blah blah. Yang kemudian ditanggapi dengan kesangsian adekku, yang malah ditujukan kepadaku. Iya, justru aku yang  'diragukan' oleh adekku sendiri, untuk hidup bersama +Kadarisman Ahmad S. Haha. Jangan kaget lah..

Dulu juga pernah ada yang bilang begitu, itu dari pihak teman junior +Kadarisman Ahmad S. Tapi, kami tetap begini dan baik-baik saja. Dan semoga hingga nanti selamanya.

Mungkin kepantasannya jika ditilik dari sisi religiusnya, yang mana aku mungkin terlihat 'nggak-ada-alim-alimnya'. Haha. Tapi perlu ku sertakan sedikit, ketika aku sempat melaksanakan sholat Istikharah. Karna pada 'beberapa' sebelum @arissmn, aku memang belum pernah mencoba Istikharah. Itulah, menurut adekku kenapa kok aku 'nggak-ada-alim-alimnya', kali ya. Muehehehe.

Untuk @arissmn, sebelumnya aku juga pernah meminta bantuan teman dalam Istikharah. Hasilnya bagus. Sedangkan aku sendiri, alhamdulillah dapat petunjuk yang baik juga. Yakni berupa ayat-ayat Al-Quran yang salah satunya dijadikan doa untuk mendapatkan pasangan dan keturunan yang bertakwa serta menyejukkan hati. Doa ini termasuk cukup populer lah.. Yakni surat Al-Furqon ayat 74.


Alhamdulillahirobbilalamin.

Di akhir sebelum kami membahas topik lainnya, adekku menyatakan bahwa kami pastinya akan menyeimbangkan satu sama lain. Amiiiin.

Pesan-pesanku semalam, pada obrolan singkat kami di telpon;
- Jaga kesehatan! *eaaak
- Jangan telat makan! *double eaaak, eaaak
- Doakan 'kita'! *wohwowoooh
- Tetep sayang akuuu..
====> BANGET!

*dijawab gitu sama beliau.

Tuesday, January 13, 2015

Mau Nambah Angka

Mencoba mengkhayal tepat di tanggal ini bertahun-tahun lalu. Betapa rempongnya ortu mempersiapkan kelahiran seorang manusia kayak daku ke dunia. Jasa ortu ke kita memang tiada disangkal-sangkal lagi. :(

Satu hari sebelum tanggal ini, dan bertahun-tahun setelah aku lahir. Adek sepupuku, Isa Yudawati pun juga mengalami momen sama. Yoi, dia emang lahir tanggal 13 Januari. Sebenernya masih ada lagi sodara dan keluarga lainnya yang rame-rame lahir di bulan Januari. Asik, bulan ini menjadi bulan keroyokan buat traktiran. Haha. Tapi, jarang malah mau ketemu mereka yang pada lahir di bulan Januari. Traktiran pun tak pernah ada. Kakakku yang juga lahir di bulan ini, malah santai banget kalo lagi ultah. Kecuali taun ini, dia mesti rempong buat ngurus perpanjangan SIM! Sepupu atau ponaan lain yang lahir di Januari ini pun jangan diharapkan nraktir, mereka bisa cebok mandiri aja udah untung.

Maklum, mereka masih pada balita semuanyaaa. Jadi gagal lah semua rencana traktiran. Hahaaaa.

Lalu tentang Yuda ini, tadi tetiba bilang kalo doi ngerasa di umur segini pengen ngejalani tanggal ulang taun dengan biasa-biasa. Malah pengen nikmatin sendiri aja.

Aku cengo lah jadinya. Mungkin..temen-temen Yuda ada rencana bikin surprise.. Yang mungkin juga..udah keendus duluan sama Yuda-nya. Dan doi ngerasa nggak asik lagi, kalik. Umhh..

Ya..aku pun turut mengamininya. Aku juga males hip hip hura tralala kalo lagi ultah. Kalo pun besok ada bancaan sederhana di tempat kerja, itu pun sekedar matuhin 'aturan main' aja. Karena jujur, bulan ini malah pengeluaranku kesedot biaya perpanjangan STNK dan SIM juga. Kalo pingin ngirit, sih ya kepingin banget. Tapi sekali lagi, dunia kerja emang mepet banget hubungannya sama persoalan sosial, hubungan antar manusia. Kalo beda, kita bakal dikucilkan. Ini juga bukan berarti aku nggak jadi diri sendiri, tapi diniatkan untuk berbagi setaun sekali. Dan ketika umur bertambah besok, menurutku merupakan momen yang tepat untuk berbagi.

Yap, yang penting kata Yuda hampir berbarengannya tanggal serta bulan kami lahir merupakan hal lucuuk. Yukk, berbahagia!  :)))))

Thursday, January 8, 2015

Gelombang, Seri Ke Lima Supernova

Menamatkan gelombang, seperti menghabiskan sepotong kebab beku. Gigit, gigit dan gigit lagi. Baru ketagihan ketika sudah tak ada potongan lagi yang tersisa. Dan pada momen itulah saya merasa kehilangan, ingin 'nambah' sepotong lagi. Tapi di samping fakta bahwa saya sudah kekenyangan, tentunya Dee pasti sangat tahu bagaimana memberikan jeda kepada para pembacanya untuk bertahan dengan 'kelaparan'. Atau paling tidak, 'bersabar' dengan kelaparan. Bisa dua tahun seperti yang dilakukan setelah menyelesaikan Partikel. Atau malah lebih dari itu, bertahun-tahun sebelum Partikel 'lahir'.

Kok saya jadi kedengaran kayak Sarvara ya? Haha. Disebutkan Sarvara yang lihai adalah oang-orang yang paling sabar, bla..bla..bla, yang akan rela menunggu lama demi mendapatkan momen terbaik menyerang lawannya. (hlm 397)

Merupakan Supernova terlambat yang saya baca dari sekian serial Supernova sebelumnya. Acara akhir tahun yang indah, dan liburan awal tahun yang melenakan hingga saya melupakan buku ini. Walau saya sangat percaya Dee jarang sekali mengecewakan pembacanya, tapi bagian awal dari buku ini belum menarik saya sepenuhnya untuk duduk dan menikmatinya hingga habis.

Dimulai dengan sambungan cerita tentang pencarian Gio yang belum juga membuahkan hasil. Diva masih saja belum ditemukan. Bahkan sebelum membawa keputuasaanya untuk kembali ke Jakarta, Gio didatangi seseorang yang memberinya penjelasan tentang empat batu yang ia simpan. Batu-batu yang mempresentasikan orang-orang yang mesti Gio temukan.

Thomas Alfa Edison Sagala, adalah nama tokoh selanjutnya pada Supernova kelima. Dilahirkan dalam lingkup kesukuan Indonesia yang terkenal kental dengan nuansa adat. Sianjur Mula Mula sebagai awal cikal bakal suku Batak serta apa yang mereka percaya. Alfa pun tak lepas dari sebuah ritual yang malah membawanya pada keistimewaan yang tak biasa. Tidur bukan untuk menjaga kebugaran, tidur tidak sekedar mempertahankan keawetmudaan. Tapi tidur baginya, adalah kegiatan yang salah. Mimpi yang dihasilkan akan memberi pengalaman gelap yang menyakitkan. Tidur pun hal yang dihindarinya. Masihkah kita melupakan betapa nikmatnya tidur nyenyak di malam hari, tanpa kekhawatiran akan ada yang membunuh kita sebelum terbangun?

Itulah alasan, mengapa Alfa mengiyakan pekerjaan yang membuatnya selalu terjaga. Di luar ia ingin membayar hutang Bapaknya pada saat mengirimnya ke Amerika, atau mewujudkan impian Amanguda  Hoboken untuk pulang ke Indonesia bertemu pohon Andaliman serta memakamkan abu Inangudanya.

Obsesi Bapak Alfa pada gelar dan kesuksesan, berimbas pada nama-nama tokoh yang ia sematkan pada nama anak-anaknya. Mungkin agak janggal di Indonesia, jika ada orang bernama Sir Issac Newton. Tapi menjadi biasa malah cenderung kocak, ketika nama penemu Gravitasi tersebut diplesetkan menjadi Uton, atau Albert Einstein menjadi Eten. Dee memang jenius sekaligus jenaka dalam pemberian nama tokoh.

Merantau yang menjadi ciri khas pada hampir setiap suku di Indonesia, tak lepas dari kisah hidup Alfa. Bekerja keras dan mencoba peruntungan di daerah lain, atau bahkan negara lain. Di singgung pula tentang kehidupan keras kawanan gangster Hoboken yang terus berperang satu sama lain memperebutkan kekuasaan. Juga tempat yang dijadikan persinggahan banyak keluarga imigran gelap, yang malah lebih mengkhawatirkan inspeksi petugas imigrasi ketimbang polisi narkotik.

Hingga pada Alfa sukses mendapatkan beasiswa, menyelesaikan kuliahnya dan bekerja, alur cerita masih terasa kuat. Namun ketika memasuki pencarian tentang "keistimewaan menakutkan" yang dimiliki dirinya, yang menjadi poin utama buku ini malah terasa lemah.  Seperti kabut tipis yang menghalangi nikmatnya buku ini.

Baru pada saat keputusannya untuk pulang tiba-tiba ke Indonesia, alarm berdenyut yang memperingatkan tentang seseorang di pesawat. Entah itu Infiltran maupun Sarvara. Adalah penutup yang memberikan ketegangan seperti menonton film 'thriller' di bioskop.  Sayang hanya sebentar. Tak bisa ditemukan jawabannya, kecuali kita harus sabar menunggu buku selanjutnya.

Namun di antara semua kehidupan yang dijalani Alfa, terutama ketika di Amerika. Saya malah tertarik pada biji Andaliman, yang harus pertama kali diselamatkan oleh orang Batak  ketika ada kebakaran maupun bencana alam di tanah perantauan. Sekalipun itu tinggal segenggam saja. Jujur, saya jadi penasaran dengan biji ini. Yang bentuknya menyerupai merica hitam, dan konon dapat menyulap semua makanan menjadi masakan Batak. (hlm146)

Bisa segitunya orang Batak melindungi biji Andaliman dengan nyawanya? Wow!

Banyak ungkapan, maupun dialog dalam Bahasa Inggris pada buku ini. Namun Dee memlih untuk tidak menerjemahkannya. Mungkin menimbang bahwa bahasa tersebut sudah bukan bahasa baru lagi yang harus diterjemahkan satu persatu, juga menganggap tingkat intelektualitas pembacanya sudah mampu memahami secara tekstual. Catatan-catatan kaki yang juga sangat membantu memahami istilah medis, bahasa "slank" ala New Yorker, selipan bahasa daerah Batak maupun bahasa-bahasa negara lain. Seakan-akan menguatkan bahwa buku ini benar-benar dibuat serius, tidak setengah-setengah.

Nama Buku: Gelombang
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: PT. Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2014
Tebal buku: 482 halaman

Friday, January 2, 2015

7:00 PM - No comments

Blusukan Bersama Buku

Nggak ada niat mau keluar seharian ini. Malah ada instruksi nganter Dedek Hanip ke rumah kakak di Manyar. Jadi setelah Jumatan, cus menuju Manyar. Abis nganter, kuarahin motor ke tobu Rumah Buku Surabaya di Jalan Ngagel.

Parkirannya luaaaass, di depan tokonya "berserakan" buku-buku diskonan. Tapi males ubek-ubek, karna posisi tobunya menghadap ke barat. Akibatnya panaaas. Dan ternyata, di dalem pun fanaaass. Bgt! Di dalem tersedia kipas angin sih, tapi nggak ngaruh keknya. :( Makanya bikin nggak betah lama-lama. Mana sepi pengunjung. Mungkin malah aku aja, pengunjung satu-satunya. Buku-bukunya yaaa..gitu-gitu aja. Kebanyakan cuman ku bolak-balik, trus ku tinggal. Apalagi bukunya bersegel semua, nggak ada sampel samsek. Makanya nggak bisa ngintip isi bukunya. Huuuh.

Karena udah mati gaya di sana, langsung cepet-cepet keluar. Nggak kuat panasnya. Sampe parkir pun, kerasa auuuss banget. Aku buru-buru minum air mineral di motor. Glek. Glek. Nggak nyadar ada yang merhatiin. Mas-mas yang markirin motornya sebelahku, nyeletuk karena terpana ngeliat aku nikmat banget minumnya. Hehe. Serius sumuk beneeeer di dalem sanaaa. Rumah Buku bikin nggak seru lagi dimaenin untuk kedua kalinya. >_<

Masih belum sore banget, blusukan bukunya kulanjutin lagi. Masih di jalan yang sama, aku berhenti di depan Tobu Uranus. Nampaknya aku punya feeling meyakinkan untuk Tobu satu ini. Yah..paling nggak masih lebih asik daripada Tobu sebelumnya. Hehe. Ternyata beneran iya. Walo di dalem nggak ada pendingin ruangan, tapi terdapat beberapa kipas angin yang cukup menyejukkan. Mau keliling lama-lama, asik-asik aja. Muterin stand bukunya pelan-pelan.

Bangunannya terdiri tiga lantai. Lantai pertama terisi buku-buku novel dan populer, juga alat tulis. Lantai kedua terisi buku-buku pelajaran. Dan lantai ketiga yang paling ku suka! Beda dengan Rumah Buku yang meletakkan buku-buku diskonannya secara outdoor, di Uranus nggak usah takut kepanasan. Jadi bikin nggak males deh mau pilah pilih buku.

Selain ituuu, banyak sekali buku dengan harga miring. Kisaran 5 ribu hingga 20 ribu rupiah sahajaaa. Aaaaakk. Langsung borooong 3 biji. Hohooo. Kenapa ya..jadi mulai mengurangi bacaan novel. Malah beli buku-buku begituuu. Ini emang pertanda ingin menumbuhkan kematangan dan persiapan kedewasaan untuk menikah. Huyuuuhh. Colek @arissmn ahh. :3

Ini penampakan buku-bukunya..


Lumayyaaaan..jadi punya referensi tobu di esbeyeh. Selain gramed, gunung agung atopun toga mas. Tapi tetep, Toga Mas lah yang masih favorit! :))