Thursday, January 8, 2015

Gelombang, Seri Ke Lima Supernova

Menamatkan gelombang, seperti menghabiskan sepotong kebab beku. Gigit, gigit dan gigit lagi. Baru ketagihan ketika sudah tak ada potongan lagi yang tersisa. Dan pada momen itulah saya merasa kehilangan, ingin 'nambah' sepotong lagi. Tapi di samping fakta bahwa saya sudah kekenyangan, tentunya Dee pasti sangat tahu bagaimana memberikan jeda kepada para pembacanya untuk bertahan dengan 'kelaparan'. Atau paling tidak, 'bersabar' dengan kelaparan. Bisa dua tahun seperti yang dilakukan setelah menyelesaikan Partikel. Atau malah lebih dari itu, bertahun-tahun sebelum Partikel 'lahir'.

Kok saya jadi kedengaran kayak Sarvara ya? Haha. Disebutkan Sarvara yang lihai adalah oang-orang yang paling sabar, bla..bla..bla, yang akan rela menunggu lama demi mendapatkan momen terbaik menyerang lawannya. (hlm 397)

Merupakan Supernova terlambat yang saya baca dari sekian serial Supernova sebelumnya. Acara akhir tahun yang indah, dan liburan awal tahun yang melenakan hingga saya melupakan buku ini. Walau saya sangat percaya Dee jarang sekali mengecewakan pembacanya, tapi bagian awal dari buku ini belum menarik saya sepenuhnya untuk duduk dan menikmatinya hingga habis.

Dimulai dengan sambungan cerita tentang pencarian Gio yang belum juga membuahkan hasil. Diva masih saja belum ditemukan. Bahkan sebelum membawa keputuasaanya untuk kembali ke Jakarta, Gio didatangi seseorang yang memberinya penjelasan tentang empat batu yang ia simpan. Batu-batu yang mempresentasikan orang-orang yang mesti Gio temukan.

Thomas Alfa Edison Sagala, adalah nama tokoh selanjutnya pada Supernova kelima. Dilahirkan dalam lingkup kesukuan Indonesia yang terkenal kental dengan nuansa adat. Sianjur Mula Mula sebagai awal cikal bakal suku Batak serta apa yang mereka percaya. Alfa pun tak lepas dari sebuah ritual yang malah membawanya pada keistimewaan yang tak biasa. Tidur bukan untuk menjaga kebugaran, tidur tidak sekedar mempertahankan keawetmudaan. Tapi tidur baginya, adalah kegiatan yang salah. Mimpi yang dihasilkan akan memberi pengalaman gelap yang menyakitkan. Tidur pun hal yang dihindarinya. Masihkah kita melupakan betapa nikmatnya tidur nyenyak di malam hari, tanpa kekhawatiran akan ada yang membunuh kita sebelum terbangun?

Itulah alasan, mengapa Alfa mengiyakan pekerjaan yang membuatnya selalu terjaga. Di luar ia ingin membayar hutang Bapaknya pada saat mengirimnya ke Amerika, atau mewujudkan impian Amanguda  Hoboken untuk pulang ke Indonesia bertemu pohon Andaliman serta memakamkan abu Inangudanya.

Obsesi Bapak Alfa pada gelar dan kesuksesan, berimbas pada nama-nama tokoh yang ia sematkan pada nama anak-anaknya. Mungkin agak janggal di Indonesia, jika ada orang bernama Sir Issac Newton. Tapi menjadi biasa malah cenderung kocak, ketika nama penemu Gravitasi tersebut diplesetkan menjadi Uton, atau Albert Einstein menjadi Eten. Dee memang jenius sekaligus jenaka dalam pemberian nama tokoh.

Merantau yang menjadi ciri khas pada hampir setiap suku di Indonesia, tak lepas dari kisah hidup Alfa. Bekerja keras dan mencoba peruntungan di daerah lain, atau bahkan negara lain. Di singgung pula tentang kehidupan keras kawanan gangster Hoboken yang terus berperang satu sama lain memperebutkan kekuasaan. Juga tempat yang dijadikan persinggahan banyak keluarga imigran gelap, yang malah lebih mengkhawatirkan inspeksi petugas imigrasi ketimbang polisi narkotik.

Hingga pada Alfa sukses mendapatkan beasiswa, menyelesaikan kuliahnya dan bekerja, alur cerita masih terasa kuat. Namun ketika memasuki pencarian tentang "keistimewaan menakutkan" yang dimiliki dirinya, yang menjadi poin utama buku ini malah terasa lemah.  Seperti kabut tipis yang menghalangi nikmatnya buku ini.

Baru pada saat keputusannya untuk pulang tiba-tiba ke Indonesia, alarm berdenyut yang memperingatkan tentang seseorang di pesawat. Entah itu Infiltran maupun Sarvara. Adalah penutup yang memberikan ketegangan seperti menonton film 'thriller' di bioskop.  Sayang hanya sebentar. Tak bisa ditemukan jawabannya, kecuali kita harus sabar menunggu buku selanjutnya.

Namun di antara semua kehidupan yang dijalani Alfa, terutama ketika di Amerika. Saya malah tertarik pada biji Andaliman, yang harus pertama kali diselamatkan oleh orang Batak  ketika ada kebakaran maupun bencana alam di tanah perantauan. Sekalipun itu tinggal segenggam saja. Jujur, saya jadi penasaran dengan biji ini. Yang bentuknya menyerupai merica hitam, dan konon dapat menyulap semua makanan menjadi masakan Batak. (hlm146)

Bisa segitunya orang Batak melindungi biji Andaliman dengan nyawanya? Wow!

Banyak ungkapan, maupun dialog dalam Bahasa Inggris pada buku ini. Namun Dee memlih untuk tidak menerjemahkannya. Mungkin menimbang bahwa bahasa tersebut sudah bukan bahasa baru lagi yang harus diterjemahkan satu persatu, juga menganggap tingkat intelektualitas pembacanya sudah mampu memahami secara tekstual. Catatan-catatan kaki yang juga sangat membantu memahami istilah medis, bahasa "slank" ala New Yorker, selipan bahasa daerah Batak maupun bahasa-bahasa negara lain. Seakan-akan menguatkan bahwa buku ini benar-benar dibuat serius, tidak setengah-setengah.

Nama Buku: Gelombang
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: PT. Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2014
Tebal buku: 482 halaman

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar