Monday, June 20, 2016

Hamil dan Puasa

Hamil saja, bagiku adalah berkah. Apalagi sambil berpuasa di saat bulan Ramadhan. Supeeerr dupeeerr!

Melewati pertengahan Ramadhan, alhamdulillah hingga saat ini kami berdua (aku dan Dedek mungil) diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah di bulan penuh berkah ini. Baik itu berpuasa, maupun ibadah-ibadah lainnya. Bahkan di hari ke 12 Ramadhan, kami pun mengkhatamkan Al-Quran. Semoga bisa mengkhatamkan lagi, paling tidak 3 kali. Kalau tidak malas-malasan. Hehe.


Karena sempat setelah khatam, dua hari bolos ngaji karena sedang khusyu' menyelesaikan buku bacaan Gone Girl. Btw, sudah dua buku juga loh kami namatin buku bacaan sepanjang Ramadhan ini. Sebelumnya ada The Tales of Beedle The Bard. Untuk bacaan tak ada target sih, hanya untuk selingan. Semampu dan sesempatnya saja.

Hari petama Ramadhan kami sempatkan mengaji di Sunan Ampel. Berangkat setelah Subuh, dan kembali ke rumah menjelang Dhuhur. Suami dapat juz 5, sedangkan aku juz 4. Panasnya ketika pulang, benar-benaaarr bikin cenat cenut. Mana jalanan juga sudah ramai, jadi kecepatan tersendat untuk segera sampai di rumah. Sorenya masih segar, tapi ketika menggoreng tempe sambil berdiri untuk persiapan buka, mulai terasa pusing. Aku memang bermasalah dengan darah rendah, makanya tidak betah jika berdiri lama.

Sekali dua kali, ada juga merasakan perut melilit. Pertama ketika Ashar, dan yang kedua menjelang Dhuhur di hari yang berbeda. Yang terakhir lumayan agak lama. Sampai-sampai hanya duduk saja tak melakukan apa-apa, melihat teman-teman kerja kompak mengeset atlas. Mungkin si Dedek protes karena Ibunya ke sana kemari catat ini itu. Tapi setelah itu, sembuh-sembuh sendiri. Yang paling penting kami masih tetep lanjut puasa. Suami juga khawatir dan menyarankan supaya membatalkan puasa. Untungnya kami masih sehat wal-afiat. Rencananya minggu ini kontrol ke Puskesmas, penasaran juga pengen tahu keadaan si Dedek selama menjalankan puasa bareng.

Untuk aktifitas ataupun bekerja juga berjalan seperti biasa. Bahkan minggu pertama Ramadhan, kami berdua sempat lembur di saat wiken. Diajaklah suami juga untuk menemani.

Asupan makanan menjadi poin penting untuk puasa kali ini. Karena keadaan sudah berbeda, sekarang sudah berbadan dua. Sebisa mungkin sayur buah jadi menu wajib untuk buka dan sahur. Porsi minum juga.

Ada keanehan yang kutangkap untuk Ramadhan kali ini. Aku bukanlah termasuk orang yang doyan dengan kurma. Tapi sejak berpuasa, kurma menjadi idola buatku. Biasanya dulu kalau ada kurma, aku ambil sebutir dua butir saja, itupun kalau ingat dan ingin sekali. Untuk sekarang? Bisa makan lebih dari 5 butir kurma. Aku mencurigai si Dedek mungil yang membuat minatku pada kurma berubah.

Kemarin ketika hari pertama ke Ampel, kami sempat keliling pasar yang menjual aneka baju, tasbih, termasuk makanan-makanan yang berbau Arab. Tak ketinggalan, kurma yang makin hits di kala Ramadhan. Sebelum kami berangkat, Mama memang meminta kami untuk membeli kurma. Berburulah kami di sana. Dari yang harga paling mahal dengan kualitas bagus, hingga kurma curah yang tak menarik minat. Untung suami lumayan paham soal buah satu ini, jadi aku tidak kesulitan untuk memilih kurma yang berkualitas tapi dengan harga terjangkau. Nah, karena berkeliling itulah melihat kurma yang dipajang terutama yang kualitas bagus, lumayan menggugah selera. Sampai-berandai-andai memborong kurma hingga berkilo-kilo terutama yang mulus-mulus mengkilat kecoklatan, terlihat lezzaaat. Kenyataannya, kami hanya membeli dua tray kurma Tunis yang beratnya masing-masing 250 gr. Haha.

Karena Dedek yang doyan sama kurma ini. Aku pun mulai berburu kurma dengan merek sama tapi dengan harga lebih murah. Kebetulan ada supermarket yang mengadakan promo untuk produk kurma, tak terkecuali kurma yang kuincar. Suami pun sangat-sangat mendukung, karena manfaat dan gizi kurma tak diragukan lagi. Bahkan kami juga berencana membawakan oleh-oleh untuk Emak, ibu mertuaku yang juga senang dengan kurma nanti ketika mudik.

Ada saja rejeki yang berhubungan dengan buah favorit Dedek ini, mimggu lalu Pak Bos juga memberikan kami kurma premium seharga lumayan dengan berat 500 gr. Baru kemarin juga aku dapat uang tambahan, yang akan kugunakan untuk membeli stok kurma, paling tidak hingga lebaran nanti.

Kurma jadi perbincangan di kalangan medsos semenjak Ramadhan, terutama teman-temanku yang sedang menyusui dan masih ingin berpuasa. Resep yang beredar adalah susu kurma. Kurma yang sebelumnya direndam, diblender bersama susu. Katanya sih mampu membuat para Busui tidak lemas ketika berpuasa, dan menjaga ketersediaan asi sehingga kegiatan menyusui tetap berjalan lancar.

Makinlah menjadi obsesi dengan kurma. Kemarin malah suami membuatkan kami susu kurma yang disimpan di kulkas. Diminum ketika buka dan sahur, rasanya enaaak, segar. Efeknya memang seharian bikin tidak lemas. Biasanya, Dedek paling senang jedat-jedut di dalam perut, terutama di waktu yang sudah kuhapal, karena mungkin lapar. Tapi setelah minum susu kurma tadi, pergerakannya jadi berkurang dan cenderung anteng malah. Waaah, cocok banget dia sama susu kurma. Haha. Tapi jadi kangen sebenernya sama gerakan-gerakannya yang lucu, karena sudah biasa berisik di waktu Ashar. Kalau Dedek sudah ngulet-ngulet, biasanya aku elus-elus sambil kubisikkan untuk bersabar dulu.

Alhamdulillah, tinggal separuh perjalanan lagi Ramadhan tahun ini. Agak sedih juga sebenarnya. Karena merasa begitu cepat Ramadhan akan meninggalkan kami. Ya Allah, semoga kami serta keluarga kami dilancarkan dan dimampukan untuk menjalankan ibadah-ibadah di Ramadhan-Mu ini dengan khusyu'. Aamiin.



Wednesday, April 20, 2016

Jika Kamu Perempuan, dan Ditanya

Kalau ditanya kapan menjadi seutuhnya seorang Perempuan?

Mungkin lebih terasa di depan mata setelah ada lelaki yang mengucapkan ijab kabul untukku. Menjadi seorang istri, membuatku merasa sebagai perempuan yang utuh.

Lalu proses menyandang gelar istri ini, akan mengantarkan kita pada satu gelar terhormat lainnya. Sebagai seorang Ibu.

Aku tak mendebat, soal kamu masih lajang. Belum mau menikah. Masih banyak hal yang ingin dilakukan. Mau meningkatkan tingkat pendidikan. Mau memperluas kesempatan berkarir. Berbagai pilihan yang dipilih akan selalu dikatakan benar dan patut dihargai. Mungkin ada satu di waktu dulu aku juga lebih memikirkan hal-hal yang sifatnya pribadi seperti di atas.

Tapi kali ini, berbeda. Tak bisa disimpelkan segampang itu. Karena keputusan haruslah kesepakatan dua orang. Bukan lagi seorang yang sepenuhnya punya kontrol atas dirinya. Keinginan-keinginan pribadi pun akan bergeser menjadi kepentingan dengan lingkup berdua atau malah lebih luas.

Dua gelar tadi bukan sekedar sebutan dari suami atau anak-anak kelak. Tapi akan banyak ibadah dan hal-hal yang perlu diupayakan serta diperjuangkan. Terasa seperti itu.

Maka, di luar dua gelar tersebut apa yang akan dilakukan? Mungkin akan tetap menulis secara random dengan waktu yang juga takkan tentu. Sebagai penyeimbang atau pelengkap dari dua gelar mulia ini. Dan semoga dalam berproses dengan dua gelar ini, akan ditemukan arahnya secara tematis. Karena sudah hampir mendekati kecendrungan yang diminati akhir pekan lalu di Malang.


Setelah Kontrol Kedua

Untuk kontrol kedua ini, aku pergi ke Puskesmas bukan ke dokter kandungan seperti sebelumnya. Karena rencana lahiran nanti mau menggunakan fasilitas BPJS. Jadi mesti runut dari faskesnya toh?

Berkaca pada kontrol pertama, antri kontrol pastilah lama. Apalagi dalam waktu seminggu, di Puskesmas faskesku ini hanya ada jatah dua hari untuk kontrol kehamilan, yakni Rabu dan Kamis. Jadi aku pikir kalau berangkat siangan mungkin lebih sepi antriannya. Ternyata... Bukan tentang antriannya, tapi untuk kontrol hamil prosesnya sangat lama dan memang harus lebih pagi. Beda loh yaa..dengan kontrol hamil di dokter kandungan sebelumnya. Waktunya cuman sebentar, omong-omong sama dokternya, usg, omong-omong lagi, udah kelar. Palingan hanya 15 menitan kali yaa.

Juga karena periksa hamil pertama di Puskesmas, ada program wajib dari Pemerintah yang mengharuskan tes HIV tiap ibu hamil. Entah ini berlaku karena aku baru hamil pertama, atau diwajibkan bagi seluruh ibu hamil baik yang sedang hamil kedua atau seterusnya. Aku lupa tanya. Pokoknya intinya kudu tes darah.

Setelah sebelumnya didata, termasuk kapan terakhir mens, data diri dan suami, sudah berapa lama menikah bla bla. Ditensi (rendah bangeeet, makanya sering pusing dan nggak kuat berdiri lama), ditimbang (BB bulan ini turun 3 kilooo loh!). Ditensi pun sampai dua kali, yang kedua disuruh baring ke kiri untuk tau selisihnya. Tapi tetep sama, tensinya rendah. Hiks.

Selanjutnya dites darah di lab puskemas. Oiyah, sekarang tuh walau namanya puskesmas tapi udah bagus loh pelayanan dan fasilitasnya. Jadi nggak usah ragu buat periksa ke sana yaa. Apa mungkin karena ini di kota besar ya? Tapi semoga ini berlaku untuk semua daerah karena Pemerintah sudah mulai sadar untuk lebih memperhatikan kesehatan masyarakatnya. Aamiin.

Yak, jarum suntik mulai menembus lenganku. Ini juga karena aku nggak tau golongan darahku apa. Atau mungkin pernah tau tapi lupa. Selanjutnya, disuruh tes urin. Emmh..agak gimana itu. Hehe. Puskesmas udah mulai sepi karena mendekati jam istirahat. Nunggu hasil tes, lalu dikasih amplop hasil tesnya oleh petugas lab. Balik lagi ke ruang Ibu dan Anak nyerahin amplop tersebut.

Lanjut ke bagian gigi, buat diperiksa giginya. Cuman disuruh mangap aja. Lalu dibilang giginya bagus, tinggal bersihkan karang giginya nanti setelah melahirkan. Periksa gigi harus 6 bulan sekali. Oke, setelah operasi gigi kemarin jadi males periksa lagi.

Sampai di ruang Ibu dan Anak lagi, dikasih wejangan bla bla. Hasil pemeriksaan kita telah tertulis dalam buku khusus (foto bukunya menyusul), yang wajib kita bawa ke puskesmas tiap kali kontrol. Sebulan lagi kembali ke sana, dan jangan lupa untuk datang lebih pagi.

Dan beneran aku lupa, karena keburu pulang dan emang udah sepi pada istirahat. Lupa nggak ambil resep obatnya. Owalah. Obatnya berupa vitamin asam folat dan penambah darah. Asam folat masih punya sisa bulan kemarin, kalo penambah darah ini nggak ngerti yang aman buat Ibu hamil yang mana.

Friday, April 8, 2016

Tentang Trimester Pertama

Cuman pengen ngedokumentasiin apa-apa yang terjadi selama trimester pertama. Walau mungkin suram, tapi karena pengalaman pertama hamil, pastilah punya kesan tersendiri. Ini nggak terpoin perminggu, melainkan secara acak aja deh. Lupa lupa inget juga kalo mesti dirinci perminggu.

Sejak melihat garis dua minus pada testpack. Mulai lah berancang-ancang ini itu demi bayi dan kehamilan yang sehat. Misaaal, rajin beribadah, olahraga ringan, melakukan aktifitas yang bisa merangsang otak bayi, juga memakan makanan sehat. Tapi benarkah seperti itu? Benarkah sesuai rencana?

Ibadah
Shalat malam dan tilawah di awal baru tahu hamil, dijalankan dengan gigih. Terkadang seperti alarm tubuh yang secara alami terbangun dini hari. Sempat khatam di minggu ke 9. Tapi setelah itu..abu-abu. Bangun pagi terasa tak bertenaga. Bahkan pernah shalat dengan posisi duduk, karena tidak kuat berdiri sempurna. Mengaji pun sempat berhenti, karena tak kuat jika harus bersuara. Mengaji dalam hati rasanya kurang plong. Jadi sempat terhenti beberapa minggu. Yah, padahal hamil menjadi momen tepat untuk lebih dekat kepada Allah. Saat itu yang bisa dilakukan hanya berdoa, supaya keadaannya kembali normal.

Olahraga
Minggu-minggu awal hamil, masih bisa jalan kaki sepanjang gang rumah di pagi hari. Tapi karena lemas, juga pola tidur yang kacau, waktu pun jadi molor. Dan hilanglah hasrat untuk menghirup udara segar di luar. Adanya bersembunyi di kamar. Hanya keluar ketika bekerja saja, berangkat kerja pun seringnya agak telat dari biasanya. Karena memang tak sebebas seperti biasa dalam beraktivitas. Lemaaass sekali. Terkadang ada satu hari pada beberapa minggu, yang ijin tidak masuk kerja.

Aktifitas pendukung
Seperti ngisi-ngisi tts. Tapi itu nggak lama. Karena kurang greget sama males juga. Hahaii.

Makanan sehat
Pas awal emang gigih mau makan sehat. Sempet bikin tumisan bawang putih dan bayam kukus. Memperbanyak asam folat. Lalu kemudian era eneg dimulai, langsung traumaaa makan bayam kukus. Hiyeks. :(

Ngidam
Sempat kepikiran dengan bakdabak. Feuh. Ini sih walo nggak hamil pun pasti mau mau dong yaa. Apa bakdabak? Makanan bertepung yang dicampur ikan terus digoreng. Rasanya gurih dan kenyel-kenyel seru. Biasanya dicocol dengan sambel petis dan tomat. Tidak ditemukan di tempat lain, melainkan hanya di Prenduan sana. Ya, ini jajanan waktu di Pondok dulu. Secara teknis mirip pempek. Tapi walaupun makan pempek pun tak tergantikan loh. Pernah juga nyobain cireng sebagai tombo ganti. Nasibnya sama seperti pempek. Heuu. Akhirnya iseng-iseng cari di Instagram, di dunia serba cyber gini apa sih yang nggak dijual? Haha. Dan ketemu beneran, yes! Lokasinya di Malang, langsung deh ngubungi suami demi tuntasnya kengidaman sang istri. Rupanya yang jual juga masih adek angkatan suami. Alhamdulillah, suami beli adonannya untuk dibawa ke rumah.

Dan hal-hal random terjadi ketika Trimester Pertama Hamil:
  • Pernah mimpi betapa maknyusnya Bubur Kepiting yang dijual salah satu resto di Bali.
  • Mulai sembuh eneg dan nafsu makan di saat suami udah bawakan bakdabak. Sebenernya bukan karena bakdabaknya sih, tapi timingnya emang udah berlalu. Terus juga sempet nyambangi adek yang mondok, kita bawakan makanan buatnya. Aku ikutan ngicipiin. Trus juga nyeruputin es Dawet Jepara. Rasanya segeeer, gula merahnya enaaak banget.
  • Sempet mbliyur dan nyaris pingsan waktu antar Ibu ke pasar.
  • Ngebis ke Malang karena ada panggilan interview. Siap amunisi roti coklat dan susu uht.
  • Mual kalo cium aroma tumisan bawang goreng. Padahal malah suka laper dulu-dulunya kalo udah kecium tumisan bawang goreng.
  • Nggak suka makanan pedas, dan nggak selera sama makanan asin gurih. Padahal kaaan?
  • Doyan baca buku kriminal atau yang agak horor. Ini semacam obat pengalih eneg, selain tidur.
  • Kena sembelit dan muka jerawataaan!
  • Karena eneg dan nggak nafsu makan sekitar sebulanan lebih, bb turun 3 kilo. Uwow!
  • Kepengen makan nasi pecel dengan telur dadar tebel.
  • Nggak lupa juga. Kepikiran sama sayur daun kelor alias "gengan maronggih kella konce", nase' bukbuk, juko' paes atau palappa rojek (ikan laut brengkes atau bumbu rujak) dan sambel petis mix timun tomat. Pokoknya kepingin makan ala Maduraan yang sederhana itu.

Wednesday, March 30, 2016

10 ke 11

Belum membaik banget (seperti normal sebelum hamil), tapi masih selevel di atas minggu kemaren..

Mual? Pastiii.
Lemes? Cencuh sajah!

Tapi kali ini, muntah masih bisa ditanggulangi. Karena adaaa... Jreeng-jreeeeng..



Alhamdulillaaaah, permen ini udah kayak BFF buatku. Tiap mulai mual dan berujung mau muntah (udah hapal banget tanda-tandanya!), langsung ngemutin permen jahe ini. Awalnya nggak kepikiran sampe ke permen. Ku pikir dengan minum jahe anget tiap pagi udah bisa mengatasi. Oke sih, biasanya itu cuman pagi aja efeknya. Nah, gimana kalo siang? Sore? Atau di saat tak terduga? Ujug pengen hoek dan byor tanpa bisa ditunda. Tanpa harus jerang air dulu ditambah jahe, trus nunggu sampe anget baru diminum? Muntahnya nggak bisa dipause kali, mamiiih! Huhuuu.

Maka dicarilah alternatif paling simpel. Jahe emang dipercaya buat ngatasi mual. Jadi apa sekiranya, sesuatu yang mengandung jahe tanpa perlu direbus dahulu? Yak, lampu di kepala menyala! Tentu aja tinting jahe. Keinget karena ini permen yang biasa dijajakan di bis-bis kalo kita lagi mudik ke Madura. Dan suami yang tiap minggu bolak balik Malang ngebis, jadi utusan untuk mendapatkannya. Hehe. Tapi suami nggak beli di bis loh yaa. Jangan kira permen jahe yang dijual di bis sekarang itu kayak jaman daholo kala. Kita lelah dengan kepalsuan. Hikshiks. Suami cari di Malang, entah toko apa. Sempetin juga beli di bis, jahenya nggak berasa. Banyakan gulanya.

Sejauh ini.. Permen jahenya ampuh mencegah muntah. Kenapa sebisa mungkin nggak muntah? Karena ngerasa rugi banget, udah susah payah maem, trus keluar gitu aja. Apalagi susah maem gini. Siapa yang nggak senewen. Bukan itu saja, misal muntahnya itu buah atau makanan yang tidak berbumbu kuat, masih nggak seberapa. Tapi kalau makanan yang agak pedas, efeknya bener-bener ngelukai tenggorolan loh. Makanya, aku jadi mudah batuk dan flu sekarang. Setelah muntah juga biasanya jadi makin lemas. Di satu titik itu sempet bikin diri ini ngerasa frustasi karena lemah, tak berdaya. Tangisan dangdut pun tak bisa dicegah di sela-sela kepayahan muntah. Bener-bener so drama! Untungnya sih, kemarin ketika muntah tak sampai keluar cairan kuning. Konon sih, ada temen yang bener-bener mabok, saking parah-parahnya sampai keluar semua isi perutnya termasuk cairan kuning tersebut. Mungkin cairan lambung kali yah..entah.

Kelar urusan muntah, sekarang malah kena flu daaan, diare! Hikss.

Batuknya sih enggak sampe nyiksa, pileknya juga. Tapi bikin badan meriang kayak demam gitu. Badan nggak enak lah pokoknya. Sampe tiduran pun nggak nyaman. Untung ngemutin permen jahe itu, lumayan bikin dahak di tenggorokan bertahap keluar. Jadi kesiksanya emang seputaran badan yang greges itu. Sempet bolos kerja (lagi) sehari. Karena emang butuh rehat beneran. Lumayan setelah itu segeran. Oia, udah kubilang ya..kalau aku ini agak RUM, Rational Use Medicene. Pas flu dan meriang itu nggak ngobat. Cuman istirahat, makan, minum jahe madu, emut permen, sempet juga minum degan. Lumayan bekerja kok.

Itu juga berlaku pas diare. Kena diare dua harian gitu. Diare kan bikin lemes ya, dan juga bisa dehidrasi loh. Sama suami dibelikan buah jambu merah. Alhamdulillah, ngefek. Walau yang paling ampuh sih, minum rebusan daun jambu biji ya. Tapi di sini dapet dari mana coba? Mana waktu itu suami nyariin jambunya malem-malem pulak. Masih untung dapet. Suami beli di tukang jus loh. Hehe. Aku makan dengan lahap. Sisanya dimakan besoknya.

Moga makin membaiiiik, dan nggak ada yang aneh-aneh lagi. Aamiiin.

Thursday, March 24, 2016

9 ke 10

Minggu terberat..

Muil yang berujung munti-munti. Kerasanya udah dari Sabtu yang mana lemasnya lebih dari biasanya.

Lalu. Di minggu pagi, saat bangun tidur minum air putih seperti biasa. Tiba-tiba seperti ingin bersendawa, berkali-kali. Perut bergolak. Seakan-akan naik ke atas. Masih berusaha menahan sambil mengalihkan perhatian dan memberi sugesti. Jangan muntah dulu. Rupanya tak manjur. Pertahanan untuk menahan muntah terkalahkan dengan dorongan untuk keluar. Air yang baru saja kuminum, byorlah sudah. Sempat berceceran juga sebelum ke kamar mandi, minta bantuan suami untuk membereskannya. Makasih, suami sayang..

Setelah itu, makan buah seperti kebiasaan pagi sebelum-sebelumnya. Minum madu anget juga. Tak terjadi apa-apa.

Siangnya, Mama menyuguhkan teh anget yang nampaknya menyegarkan. Segelas habis. Lanjut ke gelas kedua. Dan beranjak ke kamar mandi. Muntah lagi.

Makan siang diisi dengan suapan suami yang sedang asik dengan gado-gadonya. Lumayan masuk dan tak ada keluhan.

Malamnya minum susu. Tak berhasil. Jackpoot.

Keesokannya menyerah, bolos sehari. Pagi makan bubur manis, sukses. Siang muntah lupis. Juga telur ayam kampung rebus. Malam berhasil makan brengkes rempelo ati. Hrrrr. Segitu kronologinya.

Hari-hari selanjutnya muntah ramuan Jahe Temulawak yang katanya mampu menanggulangi mual atau muntah. Iya, aku lebih mengedepankan yang alami terlebih dulu serta bergantung pada keajaiban tiba-tiba. Obat anti mual tersedia sejak awal bulan, tapi tak ku gunakan. Karena pernah mendengar kurang baik untuk perkembangan otak janin. Makanya, sekedar mengandalkan kemampuan diri dan ramuan tradisional.

Tetapi muntah paling menyakitkan itu.. Nasi dan campuran kering tempe. Zzzzz. Karena bumbunya yang kuat dan pedas, ketika muntah seperti melukai tenggorokan dan hidung. Malamnya langsung radang dan batuk. Hrrr. Batuk adalah penyakit yang seharusnya dihindari bagi ibu hamil, terutama yang hamil muda. Mengapa? Karena kontraksi dari batuk terus menerus dapat menggoncang perut. Obatnya? Sebanyak mungkin minum air putih dan tentu saja berdoa.

Sesi mual dan muntah ini, bikin aku benar-benar merasa makan adalah kegiatan yang menyiksa. Efeknya ke badan makin lemas. Sesekali suhu badan menghangat. Bahkan shalat pun dilakukan dengan duduk. Ngaji sekedarnya, karena jika bersuara lama membuat ngos-ngosan. Jadwal tidur malam pun sedikit kacau. Beberapa malam ini sering "ngelilir" tengah malam. Tak bisa tidur sampai 3-4 jam. Hrrrr.

Kata mama, itulah perjuangan seorang Ibu. Suami pun tak lelahnya memberi semangat dan mendoakan. Mengupayakan supaya aku hepi dan enjoy di TM 1 ini. Konsennya lebih-lebih soal makan. Aku pun berusaha mencari cara bahkan memaksa agar mau makan. Entah mencari makan yang bisa membangkitkan selera. Kadang berhasil, kadang juga berakhir eneeg.

Indera penciuman juga menjadi sensitif sekarang. Aroma beberapa makanan yang harusnya mengundang selera, tapi tak berlaku untukku. Mau selezat apapun, atau makanan yang dulunya aku sukai, seperti tak menggugah. Bahkan aku bisa mencium aroma nafas orang lain, padahal aku sebelumnya tak pernah sampai "segitunya".

Luar biasa sekali hamil ini. Sesekali aku juga mengimbangi membaca beberapa blog yang membahas tentang kehamilan TM 1. Sekedar mencari referensi yang bisa membantu. Tapi, pada intinya tak ada cara lain selain dijalani dan diupayakan yang terbaik untuk kebaikan si Mungil di perut. Ya Allah, moga kami bisa mengantisipasinya dan melewati ini dengan baik. Apapun demi Dedek pinter..

Monday, March 14, 2016

Awal Mula Hamil

Mungkin suatu hari di bulan Januari..

Dan di akhir bulan itu juga, aku berkunjung ke Malang karena ada teman kerja suami yang mau menikah. Mau tidak mau, aku perlu menemaninya menghadiri acara tersebut. Apalagi di undangannya, jelas-jelas menyebut namaku selain nama suami. Tidak sopan, kalau suami hanya sendiri.

Di Senin pagi akan kembali ke Surabaya, aku merasakan suhu tubuhku menghangat. Saat kukatakan bahwa aku demam, suami menempelkan tangannya di dahiku saat kami berdua sama-sama berbaring. Dia bilang, tidak. Ya sudah, mungkin ini hanya gejala kelelahan karena perjalanan kemarin dari Surabaya-Malang aku berdiri dari Bungur sampai Singosari, kehabisan tempat duduk. Oh, moga itu pengalamn terakhirku berdiri terlama di dalam bis. Karena aku sudah terlanjur masuk, dan keburu ingin bertemu dengan suami. Padahal, bis Surabaya-Malang tak habis-habis, kalau aku mau menunggu bis selanjutnya untuk dapat tempat duduk.

Sekembalinya dari Malang, hari-hariku mulai diselingi dengan bagian dada yang mulai membengkak, pinggang yang senat senut. Gejalanya seperti mau datang bulan. Tapi hei, jadwal menstruasiku masih lebih dari seminggu yang akan datang. Masih lama. Biasanya gejala ini baru akan datang sekitar 2-3 hari menjelang menstruasi.

Tak cuma itu terkadang, badan sedikit meriang walau tidak sampai demam parah.

Senior tempatku bekerja sempat bercerita, tanda-tanda ketika akan hamil. Istrinya mengeluh meriang dan badan agak hangat. Seniorku yang lain juga mengomentari perubahan bentuk tubuhku. Tapi aku masih belum yakin waktu itu. Karena jadwal menstruasiku masih lama untuk menegaskan bahwa aku benar-benar hamil.

Di saat yang sama, aku sedang tidak berbicara dengan suami. Kuakui moodku lumayan kacau. Baru setelah kami berbaikan, aku menceritakan gejala tadi. Termasuk bangun pagiku yang mulai molor dari biasanya. Meski mata sudah terjaga, tapi tubuhku tak juga mau beranjak hingga sejam sejak mata terbuka.

Suami menyarankanku untuk tes melalui testpack. Ku turuti sarannya. Karena di akhir pekan ini, kami akan pergi bersama ke Kediri. Paling tidak kalau positif, mungkin kami harus menunda dulu perjalanan kami.

Ternyata Jumat pagi aku tes urin, hasilnya tentu masih negatif. Karena belum masuk jadwal menstruasiku. Jadwal seharusnya itu hari Kamis minggu depannya. Jadi kami memutuskan untuk berangkat saja di akhir pekan tersebut.

Untuk menghemat waktu, aku berangkat sendiri ke Malang menggunakan sepeda motor pada Sabtu pagi. Jadi, suami tidak perlu ke Surabaya dulu dan misal berangkat ke Kediri bisa jadi baru Minggu paginya. Karena suami baru sampai Surabaya malam minggunya. Tentu kami tidak bisa langsung berangkat bukan?

Beda persoalan kalau aku yang ke Malang, sorenya kami masih bisa untuk perjalanan ke Kediri dan juga bisa menginap di sana malam minggunya.

Itu adalah perjalanan pertama motoran sendiri ke Malang. Ya, aku belum pernah mencobanya. Sesekali buat pengalaman, yang ternyata tak sesulit kelihatannya. Kalau soal macet, memang tak bisa dihindari. Tapi beruntung sekali selama perjalanan, aku terhindar dari hujan deras. Terimakasih ya Allah, telah melindungiku.

Sesampai di kantor suami, aku sempat kelaparan berat. Jatah bebek Sinjay punya suami tak cukup mengenyangkanku. Bahkan sampai stok nasi pun habis! Haha.

Sesuai rencana, Ashar kami berangkat menuju Kediri. Selama perjalanan kami masih dilindungi oleh Allah walau diselingi hujan. Sampai di Kediri ketika Maghrib.

Ya selama akhir pekan yang panjang itu kami menikmati liburan bersama keluarga Om. Motoran lagi sampai Blitar. Suami juga berkomentar tentang perubahan bentuk tubuhku. Dan aku yang mudah kelaparan di waktu itu. Hehe.



Setelah liburan tersebut berakhir. Setelah suami kembali ke Malang. Gejalanya masih sering muncul. Walau sudah tidak meriang lagi. Dan di hari Kamis sesuai jadwal bulananku, tidak terjadi apa-apa. Keesokannya hari Jumat kutunggu, juga sama.

Selama ini, hampir jarang sekali jadwalku meleset. Selalu tepat waktu. Kalaupun terlambat mungkin hanya sehari atau dua hari. Aku pun sudah siap dengan testpack yang kubeli dengan harga murah di apotik, hanya 2500.

Dan di Sabtu dini hari, aku memutuskan untuk tes urin. Aku terjaga setengah tiga mungkin. Urin pertama di bangun tidur adalah yang paling akurat, begitu petunjuk yang kubaca pada bungkus testpacknya. Ku ikuti petunjuknya seperti yang kulakukan pada tes urin pertama. Lalu kutunggu..sekian detik.

Aku mendiamkan sambil memejamkan mata. Aku tak tahu. Karena aku justru lebih takut kalau misalkan gejala ini malah bukan pertanda hamil. Aku tak mau membayangkan hal terburuk.

Kubuka mata sambil memicing pada alat testpacknya. Dan hasilnya..membuatku terharu. Senang. Lega. Bahagia. Perasaan campur aduk.

Ya aku tahu, bagi kami ini terasa begitu mudah dan cepat dari yang kami bayangkan.

Segera aku mengabarkan kepada suami. Yang memang sejak kemarin dia sudah penasaran ingin tahu. Dia pun menyambut dengan suka cita. Aku pun memberi tahu kedua orangtua, mereka yang masih terkantuk-kantuk pun mengangguk-angguk. Masih belum sepenuhnya sadar.
Aku juga mengabarkan beberapa teman dan kerabat. Sekaligus menanyakan apa yang harus kulakukan setelah ini.

Sepupu menyarankanku untuk segera memeriksakan kandunganku secepatnya ke dokter kandungan, agar segera diberi vitamin atau penguat rahim. Ibuku menyuruhku untuk menunggu saja, hingga usia kandungan usia dua bulan. Suami menginginkanku untuk periksa saja. Tapi kalau periksa sendirian seperti aneh rasanya bila tidak ditemani suami. Suami baru tiba malam minggu. Sedangkan, tak ada dokter kandungan atau klinik yang buka pada akhir pekan. Hmm. Dilanda dilema. Akhirnya aku brosing pengalaman orang lain yang hamil muda. Banyak yang menyarankan untuk menunggu dulu, karena usia masih kecil sekali. Belum tentu bisa terlihat sekalipun itu USG. Malah bisa-bisa dianjurkan untuk kembali periksa dalam jangka waktu tertentu. Dan dalam jangka waktu tertentu itu, pasti galau karena belum tahu secara yakin kalau sedang hamil. Bisa-bisa kepikiran dan jadi stres nantinya. Tentu itu tidak baik bagi ibu hamil.

Akhirnya aku putuskan untuk periksa bulan depannya saja lah. Yang terpenting aku perlu berhati-hati menjaga kesehatanku. Termasuk makanan, dan waktu istirahatku agar tidak terlalu lelah.

Dan waktu pun berjalan satu minggu dengan keadaan normal. Lalu minggu selanjutnya aku merasakan mual dan nafsu makan yang berkurang drastis. Emm.. Maksudku, aku jarang sekali menyisakan makanan, aku juga tergolong orang yang tak pilah pilih makanan, asal itu sehat dan bermanfaat. Aku lahap-lahap saja memakannya, sekalipun makanan sehat belum tentu lezat rasanya. Tapi di minggu ke 6 kehamilanku? Sangat terasa bedanya. Nasi terasa eneg. Sayur pun aku jadi kurang doyan.

Yang kutolerir hanya buah-buahan dan kadang roti. Jadi setiap hari, aku hanya makan nasi sekali di waktu siang. Pagi aku makan buah. Malem atau sore, aku makan roti, bisa buah, atau makanan yang tak terlalu berat.

Minum air pun jadi berkurang. Biasanya aku cukup perhatian soal porsi minum. Sekarang terasa eneg, yang membuat malas minum air putih. Akibatnya bibirku sering kering dan pecah-pecah. Huwaa. Memang harus melakukan gerakan doyan minum lagi nih! Dan seminggu ini bibirku sudah tidak gampang pecah-pecah lagi.

Hingga saat ini mual-mualku masih berlanjut. Pernah berhenti tepat keesokan setelah periksa pertama kehamilan. Entah kenapa. Dan hari-hari berikutnya, masih terasa enegnya. Untuk muntah, tidak sampai. Kecuali ada suatu kejadian beberapa hari lalu. Aku mau shalat Maghrib, tapi sebelum berwudhu, aku menghabiskan sebiji pisang terlebih dulu. Belum habis tertelan, masih sambil mengunyah, aku masuk kamar mandi. Ya tentu saja, kamar mandi tempat paling sering terjadinya mual. Entah itu sekedar mual, atau membuang ludah. Otomatis, perutku yang belum seutuhnya mencerna buah pisang yang baru saja ku makan, langsung bergolak. Seperti ada yang meronta-ronta naik ke atas. Lalu.. Meluncur keluar begitu saja. Tersisa perih di tenggorokan dan di hidungku. Huhu.

Setelah Maghrib, karena tidak rela pisang yang ku makan keluar. Aku makan sekali lagi, karena memang lapar. Makan dalam keadaan duduk tenang dan nyaman. Untunglah tak terjadi apa-apa.

Apapun itu. Pernak pernik hamil sangat kusyukuri. Kalau dinikmati memang terasa berat sih. Tapi rasa syukur karena diberi anugerah ini, membuatku ingin selalu menyemangati diri. Bahwa ada makhluk kecil yang terus bertumbuh melalui tubuhku. Dan pastinya tumbuh rasa sayang yang begitu besar kepadanya.

Toh rasa mual seperti ini adalah hal normal dan wajar. Bahkan itu lah cara komunikasi sang janin kepada kita, bahwa dirinya baik-baik saja. Aku tahu, pasti di luar sana.. Begitu banyak perempuan yang akan membayar mahal rasa mual dan tak nyaman pada awal kehamilan. Terutama bagi mereka yang masih belum dikaruniai keturunan dalam waktu lama. Maka dari itu, aku pun turut mendoakan mereka agar dapat merasakan peristiwa berharga dan penuh perjuangan ini. Aamiin.


Wednesday, March 2, 2016

Makhluk Seukuran 7 Mili



Halo, makhluk ukuran 7 mili! Ibu sama Ayah untuk pertama kalinya ingin menemuimu semalam. Kami kepikiran banget loh. Sejak tahu keberadaanmu dua minggu lalu melalui testpack. Dua garis minus, yeay!



Kata tante Dokter, ukuranmu sudah sesuai dengan umurmu. Ibu dibolehkan makan es krim kalau mau. Tante dokter juga ngasih vitamin buat kamu. Dan buat menguatkan tempatmu sekarang.

Sehat terus ya, sayang. Walau Ibu susah menahan mual dan nafsu makan berkurang drastis, tapi Ibu akan berusaha supaya kamu sehat dan berkembang di dalam sana. We love you, Dek! :*

Thursday, January 14, 2016

10:22 PM - No comments

Setelah Basmalah, Sebelum Hamdalah

Sebelum hari-hari pergi beranjak. Lalu meninggalkan torehan jejak. Pasti di awal ceramah maupun pidato. Dikidungkan kalimat syukur berulang-ulang. Maka setelah basmalah, adalah alhamdulillah.

Alhamdulillah. Banyak kenikmatan kecil apalagi besar yang lalu lalang. Terutama setelah menikah. Dengan kehadiran seorang lelaki asing yang menjadi perisai kini. Mungkin dia lah, kado terbesar dan terhebat pada ulang tahun terbaikku. Terimakasih ya Allah.. Sekali lagi terimakasih.

Barangkali juga tahun depan, diperkenankan diberi titipan malaikat kecil dari surga yang akan menyemarakkan kehidupan bahagia kami berdua. Aamiiin. *menjadi hastag doa di usia dan tahun ini* Berkali-kali..dan tak bosan ingin selalu bersyukur tiap jengkalnya. Dan bismillah, untuk kehidupan yang akan datang.

Juga bismillah.. Kami tidak akan takut akan ancaman terhadap negeri ini. #terordiSarinah Mungkin oknum-oknum tersebut punya alasan untuk membahayakan keselamatan orang-orang di tanggal ini. Tapi kita tidak akan punya alasan untuk takut kepada. mereka.