Thursday, March 24, 2016

9 ke 10

Minggu terberat..

Muil yang berujung munti-munti. Kerasanya udah dari Sabtu yang mana lemasnya lebih dari biasanya.

Lalu. Di minggu pagi, saat bangun tidur minum air putih seperti biasa. Tiba-tiba seperti ingin bersendawa, berkali-kali. Perut bergolak. Seakan-akan naik ke atas. Masih berusaha menahan sambil mengalihkan perhatian dan memberi sugesti. Jangan muntah dulu. Rupanya tak manjur. Pertahanan untuk menahan muntah terkalahkan dengan dorongan untuk keluar. Air yang baru saja kuminum, byorlah sudah. Sempat berceceran juga sebelum ke kamar mandi, minta bantuan suami untuk membereskannya. Makasih, suami sayang..

Setelah itu, makan buah seperti kebiasaan pagi sebelum-sebelumnya. Minum madu anget juga. Tak terjadi apa-apa.

Siangnya, Mama menyuguhkan teh anget yang nampaknya menyegarkan. Segelas habis. Lanjut ke gelas kedua. Dan beranjak ke kamar mandi. Muntah lagi.

Makan siang diisi dengan suapan suami yang sedang asik dengan gado-gadonya. Lumayan masuk dan tak ada keluhan.

Malamnya minum susu. Tak berhasil. Jackpoot.

Keesokannya menyerah, bolos sehari. Pagi makan bubur manis, sukses. Siang muntah lupis. Juga telur ayam kampung rebus. Malam berhasil makan brengkes rempelo ati. Hrrrr. Segitu kronologinya.

Hari-hari selanjutnya muntah ramuan Jahe Temulawak yang katanya mampu menanggulangi mual atau muntah. Iya, aku lebih mengedepankan yang alami terlebih dulu serta bergantung pada keajaiban tiba-tiba. Obat anti mual tersedia sejak awal bulan, tapi tak ku gunakan. Karena pernah mendengar kurang baik untuk perkembangan otak janin. Makanya, sekedar mengandalkan kemampuan diri dan ramuan tradisional.

Tetapi muntah paling menyakitkan itu.. Nasi dan campuran kering tempe. Zzzzz. Karena bumbunya yang kuat dan pedas, ketika muntah seperti melukai tenggorokan dan hidung. Malamnya langsung radang dan batuk. Hrrr. Batuk adalah penyakit yang seharusnya dihindari bagi ibu hamil, terutama yang hamil muda. Mengapa? Karena kontraksi dari batuk terus menerus dapat menggoncang perut. Obatnya? Sebanyak mungkin minum air putih dan tentu saja berdoa.

Sesi mual dan muntah ini, bikin aku benar-benar merasa makan adalah kegiatan yang menyiksa. Efeknya ke badan makin lemas. Sesekali suhu badan menghangat. Bahkan shalat pun dilakukan dengan duduk. Ngaji sekedarnya, karena jika bersuara lama membuat ngos-ngosan. Jadwal tidur malam pun sedikit kacau. Beberapa malam ini sering "ngelilir" tengah malam. Tak bisa tidur sampai 3-4 jam. Hrrrr.

Kata mama, itulah perjuangan seorang Ibu. Suami pun tak lelahnya memberi semangat dan mendoakan. Mengupayakan supaya aku hepi dan enjoy di TM 1 ini. Konsennya lebih-lebih soal makan. Aku pun berusaha mencari cara bahkan memaksa agar mau makan. Entah mencari makan yang bisa membangkitkan selera. Kadang berhasil, kadang juga berakhir eneeg.

Indera penciuman juga menjadi sensitif sekarang. Aroma beberapa makanan yang harusnya mengundang selera, tapi tak berlaku untukku. Mau selezat apapun, atau makanan yang dulunya aku sukai, seperti tak menggugah. Bahkan aku bisa mencium aroma nafas orang lain, padahal aku sebelumnya tak pernah sampai "segitunya".

Luar biasa sekali hamil ini. Sesekali aku juga mengimbangi membaca beberapa blog yang membahas tentang kehamilan TM 1. Sekedar mencari referensi yang bisa membantu. Tapi, pada intinya tak ada cara lain selain dijalani dan diupayakan yang terbaik untuk kebaikan si Mungil di perut. Ya Allah, moga kami bisa mengantisipasinya dan melewati ini dengan baik. Apapun demi Dedek pinter..

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar