Monday, March 14, 2016

Awal Mula Hamil

Mungkin suatu hari di bulan Januari..

Dan di akhir bulan itu juga, aku berkunjung ke Malang karena ada teman kerja suami yang mau menikah. Mau tidak mau, aku perlu menemaninya menghadiri acara tersebut. Apalagi di undangannya, jelas-jelas menyebut namaku selain nama suami. Tidak sopan, kalau suami hanya sendiri.

Di Senin pagi akan kembali ke Surabaya, aku merasakan suhu tubuhku menghangat. Saat kukatakan bahwa aku demam, suami menempelkan tangannya di dahiku saat kami berdua sama-sama berbaring. Dia bilang, tidak. Ya sudah, mungkin ini hanya gejala kelelahan karena perjalanan kemarin dari Surabaya-Malang aku berdiri dari Bungur sampai Singosari, kehabisan tempat duduk. Oh, moga itu pengalamn terakhirku berdiri terlama di dalam bis. Karena aku sudah terlanjur masuk, dan keburu ingin bertemu dengan suami. Padahal, bis Surabaya-Malang tak habis-habis, kalau aku mau menunggu bis selanjutnya untuk dapat tempat duduk.

Sekembalinya dari Malang, hari-hariku mulai diselingi dengan bagian dada yang mulai membengkak, pinggang yang senat senut. Gejalanya seperti mau datang bulan. Tapi hei, jadwal menstruasiku masih lebih dari seminggu yang akan datang. Masih lama. Biasanya gejala ini baru akan datang sekitar 2-3 hari menjelang menstruasi.

Tak cuma itu terkadang, badan sedikit meriang walau tidak sampai demam parah.

Senior tempatku bekerja sempat bercerita, tanda-tanda ketika akan hamil. Istrinya mengeluh meriang dan badan agak hangat. Seniorku yang lain juga mengomentari perubahan bentuk tubuhku. Tapi aku masih belum yakin waktu itu. Karena jadwal menstruasiku masih lama untuk menegaskan bahwa aku benar-benar hamil.

Di saat yang sama, aku sedang tidak berbicara dengan suami. Kuakui moodku lumayan kacau. Baru setelah kami berbaikan, aku menceritakan gejala tadi. Termasuk bangun pagiku yang mulai molor dari biasanya. Meski mata sudah terjaga, tapi tubuhku tak juga mau beranjak hingga sejam sejak mata terbuka.

Suami menyarankanku untuk tes melalui testpack. Ku turuti sarannya. Karena di akhir pekan ini, kami akan pergi bersama ke Kediri. Paling tidak kalau positif, mungkin kami harus menunda dulu perjalanan kami.

Ternyata Jumat pagi aku tes urin, hasilnya tentu masih negatif. Karena belum masuk jadwal menstruasiku. Jadwal seharusnya itu hari Kamis minggu depannya. Jadi kami memutuskan untuk berangkat saja di akhir pekan tersebut.

Untuk menghemat waktu, aku berangkat sendiri ke Malang menggunakan sepeda motor pada Sabtu pagi. Jadi, suami tidak perlu ke Surabaya dulu dan misal berangkat ke Kediri bisa jadi baru Minggu paginya. Karena suami baru sampai Surabaya malam minggunya. Tentu kami tidak bisa langsung berangkat bukan?

Beda persoalan kalau aku yang ke Malang, sorenya kami masih bisa untuk perjalanan ke Kediri dan juga bisa menginap di sana malam minggunya.

Itu adalah perjalanan pertama motoran sendiri ke Malang. Ya, aku belum pernah mencobanya. Sesekali buat pengalaman, yang ternyata tak sesulit kelihatannya. Kalau soal macet, memang tak bisa dihindari. Tapi beruntung sekali selama perjalanan, aku terhindar dari hujan deras. Terimakasih ya Allah, telah melindungiku.

Sesampai di kantor suami, aku sempat kelaparan berat. Jatah bebek Sinjay punya suami tak cukup mengenyangkanku. Bahkan sampai stok nasi pun habis! Haha.

Sesuai rencana, Ashar kami berangkat menuju Kediri. Selama perjalanan kami masih dilindungi oleh Allah walau diselingi hujan. Sampai di Kediri ketika Maghrib.

Ya selama akhir pekan yang panjang itu kami menikmati liburan bersama keluarga Om. Motoran lagi sampai Blitar. Suami juga berkomentar tentang perubahan bentuk tubuhku. Dan aku yang mudah kelaparan di waktu itu. Hehe.



Setelah liburan tersebut berakhir. Setelah suami kembali ke Malang. Gejalanya masih sering muncul. Walau sudah tidak meriang lagi. Dan di hari Kamis sesuai jadwal bulananku, tidak terjadi apa-apa. Keesokannya hari Jumat kutunggu, juga sama.

Selama ini, hampir jarang sekali jadwalku meleset. Selalu tepat waktu. Kalaupun terlambat mungkin hanya sehari atau dua hari. Aku pun sudah siap dengan testpack yang kubeli dengan harga murah di apotik, hanya 2500.

Dan di Sabtu dini hari, aku memutuskan untuk tes urin. Aku terjaga setengah tiga mungkin. Urin pertama di bangun tidur adalah yang paling akurat, begitu petunjuk yang kubaca pada bungkus testpacknya. Ku ikuti petunjuknya seperti yang kulakukan pada tes urin pertama. Lalu kutunggu..sekian detik.

Aku mendiamkan sambil memejamkan mata. Aku tak tahu. Karena aku justru lebih takut kalau misalkan gejala ini malah bukan pertanda hamil. Aku tak mau membayangkan hal terburuk.

Kubuka mata sambil memicing pada alat testpacknya. Dan hasilnya..membuatku terharu. Senang. Lega. Bahagia. Perasaan campur aduk.

Ya aku tahu, bagi kami ini terasa begitu mudah dan cepat dari yang kami bayangkan.

Segera aku mengabarkan kepada suami. Yang memang sejak kemarin dia sudah penasaran ingin tahu. Dia pun menyambut dengan suka cita. Aku pun memberi tahu kedua orangtua, mereka yang masih terkantuk-kantuk pun mengangguk-angguk. Masih belum sepenuhnya sadar.
Aku juga mengabarkan beberapa teman dan kerabat. Sekaligus menanyakan apa yang harus kulakukan setelah ini.

Sepupu menyarankanku untuk segera memeriksakan kandunganku secepatnya ke dokter kandungan, agar segera diberi vitamin atau penguat rahim. Ibuku menyuruhku untuk menunggu saja, hingga usia kandungan usia dua bulan. Suami menginginkanku untuk periksa saja. Tapi kalau periksa sendirian seperti aneh rasanya bila tidak ditemani suami. Suami baru tiba malam minggu. Sedangkan, tak ada dokter kandungan atau klinik yang buka pada akhir pekan. Hmm. Dilanda dilema. Akhirnya aku brosing pengalaman orang lain yang hamil muda. Banyak yang menyarankan untuk menunggu dulu, karena usia masih kecil sekali. Belum tentu bisa terlihat sekalipun itu USG. Malah bisa-bisa dianjurkan untuk kembali periksa dalam jangka waktu tertentu. Dan dalam jangka waktu tertentu itu, pasti galau karena belum tahu secara yakin kalau sedang hamil. Bisa-bisa kepikiran dan jadi stres nantinya. Tentu itu tidak baik bagi ibu hamil.

Akhirnya aku putuskan untuk periksa bulan depannya saja lah. Yang terpenting aku perlu berhati-hati menjaga kesehatanku. Termasuk makanan, dan waktu istirahatku agar tidak terlalu lelah.

Dan waktu pun berjalan satu minggu dengan keadaan normal. Lalu minggu selanjutnya aku merasakan mual dan nafsu makan yang berkurang drastis. Emm.. Maksudku, aku jarang sekali menyisakan makanan, aku juga tergolong orang yang tak pilah pilih makanan, asal itu sehat dan bermanfaat. Aku lahap-lahap saja memakannya, sekalipun makanan sehat belum tentu lezat rasanya. Tapi di minggu ke 6 kehamilanku? Sangat terasa bedanya. Nasi terasa eneg. Sayur pun aku jadi kurang doyan.

Yang kutolerir hanya buah-buahan dan kadang roti. Jadi setiap hari, aku hanya makan nasi sekali di waktu siang. Pagi aku makan buah. Malem atau sore, aku makan roti, bisa buah, atau makanan yang tak terlalu berat.

Minum air pun jadi berkurang. Biasanya aku cukup perhatian soal porsi minum. Sekarang terasa eneg, yang membuat malas minum air putih. Akibatnya bibirku sering kering dan pecah-pecah. Huwaa. Memang harus melakukan gerakan doyan minum lagi nih! Dan seminggu ini bibirku sudah tidak gampang pecah-pecah lagi.

Hingga saat ini mual-mualku masih berlanjut. Pernah berhenti tepat keesokan setelah periksa pertama kehamilan. Entah kenapa. Dan hari-hari berikutnya, masih terasa enegnya. Untuk muntah, tidak sampai. Kecuali ada suatu kejadian beberapa hari lalu. Aku mau shalat Maghrib, tapi sebelum berwudhu, aku menghabiskan sebiji pisang terlebih dulu. Belum habis tertelan, masih sambil mengunyah, aku masuk kamar mandi. Ya tentu saja, kamar mandi tempat paling sering terjadinya mual. Entah itu sekedar mual, atau membuang ludah. Otomatis, perutku yang belum seutuhnya mencerna buah pisang yang baru saja ku makan, langsung bergolak. Seperti ada yang meronta-ronta naik ke atas. Lalu.. Meluncur keluar begitu saja. Tersisa perih di tenggorokan dan di hidungku. Huhu.

Setelah Maghrib, karena tidak rela pisang yang ku makan keluar. Aku makan sekali lagi, karena memang lapar. Makan dalam keadaan duduk tenang dan nyaman. Untunglah tak terjadi apa-apa.

Apapun itu. Pernak pernik hamil sangat kusyukuri. Kalau dinikmati memang terasa berat sih. Tapi rasa syukur karena diberi anugerah ini, membuatku ingin selalu menyemangati diri. Bahwa ada makhluk kecil yang terus bertumbuh melalui tubuhku. Dan pastinya tumbuh rasa sayang yang begitu besar kepadanya.

Toh rasa mual seperti ini adalah hal normal dan wajar. Bahkan itu lah cara komunikasi sang janin kepada kita, bahwa dirinya baik-baik saja. Aku tahu, pasti di luar sana.. Begitu banyak perempuan yang akan membayar mahal rasa mual dan tak nyaman pada awal kehamilan. Terutama bagi mereka yang masih belum dikaruniai keturunan dalam waktu lama. Maka dari itu, aku pun turut mendoakan mereka agar dapat merasakan peristiwa berharga dan penuh perjuangan ini. Aamiin.


0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar