Wednesday, April 20, 2016

Jika Kamu Perempuan, dan Ditanya

Kalau ditanya kapan menjadi seutuhnya seorang Perempuan?

Mungkin lebih terasa di depan mata setelah ada lelaki yang mengucapkan ijab kabul untukku. Menjadi seorang istri, membuatku merasa sebagai perempuan yang utuh.

Lalu proses menyandang gelar istri ini, akan mengantarkan kita pada satu gelar terhormat lainnya. Sebagai seorang Ibu.

Aku tak mendebat, soal kamu masih lajang. Belum mau menikah. Masih banyak hal yang ingin dilakukan. Mau meningkatkan tingkat pendidikan. Mau memperluas kesempatan berkarir. Berbagai pilihan yang dipilih akan selalu dikatakan benar dan patut dihargai. Mungkin ada satu di waktu dulu aku juga lebih memikirkan hal-hal yang sifatnya pribadi seperti di atas.

Tapi kali ini, berbeda. Tak bisa disimpelkan segampang itu. Karena keputusan haruslah kesepakatan dua orang. Bukan lagi seorang yang sepenuhnya punya kontrol atas dirinya. Keinginan-keinginan pribadi pun akan bergeser menjadi kepentingan dengan lingkup berdua atau malah lebih luas.

Dua gelar tadi bukan sekedar sebutan dari suami atau anak-anak kelak. Tapi akan banyak ibadah dan hal-hal yang perlu diupayakan serta diperjuangkan. Terasa seperti itu.

Maka, di luar dua gelar tersebut apa yang akan dilakukan? Mungkin akan tetap menulis secara random dengan waktu yang juga takkan tentu. Sebagai penyeimbang atau pelengkap dari dua gelar mulia ini. Dan semoga dalam berproses dengan dua gelar ini, akan ditemukan arahnya secara tematis. Karena sudah hampir mendekati kecendrungan yang diminati akhir pekan lalu di Malang.


Setelah Kontrol Kedua

Untuk kontrol kedua ini, aku pergi ke Puskesmas bukan ke dokter kandungan seperti sebelumnya. Karena rencana lahiran nanti mau menggunakan fasilitas BPJS. Jadi mesti runut dari faskesnya toh?

Berkaca pada kontrol pertama, antri kontrol pastilah lama. Apalagi dalam waktu seminggu, di Puskesmas faskesku ini hanya ada jatah dua hari untuk kontrol kehamilan, yakni Rabu dan Kamis. Jadi aku pikir kalau berangkat siangan mungkin lebih sepi antriannya. Ternyata... Bukan tentang antriannya, tapi untuk kontrol hamil prosesnya sangat lama dan memang harus lebih pagi. Beda loh yaa..dengan kontrol hamil di dokter kandungan sebelumnya. Waktunya cuman sebentar, omong-omong sama dokternya, usg, omong-omong lagi, udah kelar. Palingan hanya 15 menitan kali yaa.

Juga karena periksa hamil pertama di Puskesmas, ada program wajib dari Pemerintah yang mengharuskan tes HIV tiap ibu hamil. Entah ini berlaku karena aku baru hamil pertama, atau diwajibkan bagi seluruh ibu hamil baik yang sedang hamil kedua atau seterusnya. Aku lupa tanya. Pokoknya intinya kudu tes darah.

Setelah sebelumnya didata, termasuk kapan terakhir mens, data diri dan suami, sudah berapa lama menikah bla bla. Ditensi (rendah bangeeet, makanya sering pusing dan nggak kuat berdiri lama), ditimbang (BB bulan ini turun 3 kilooo loh!). Ditensi pun sampai dua kali, yang kedua disuruh baring ke kiri untuk tau selisihnya. Tapi tetep sama, tensinya rendah. Hiks.

Selanjutnya dites darah di lab puskemas. Oiyah, sekarang tuh walau namanya puskesmas tapi udah bagus loh pelayanan dan fasilitasnya. Jadi nggak usah ragu buat periksa ke sana yaa. Apa mungkin karena ini di kota besar ya? Tapi semoga ini berlaku untuk semua daerah karena Pemerintah sudah mulai sadar untuk lebih memperhatikan kesehatan masyarakatnya. Aamiin.

Yak, jarum suntik mulai menembus lenganku. Ini juga karena aku nggak tau golongan darahku apa. Atau mungkin pernah tau tapi lupa. Selanjutnya, disuruh tes urin. Emmh..agak gimana itu. Hehe. Puskesmas udah mulai sepi karena mendekati jam istirahat. Nunggu hasil tes, lalu dikasih amplop hasil tesnya oleh petugas lab. Balik lagi ke ruang Ibu dan Anak nyerahin amplop tersebut.

Lanjut ke bagian gigi, buat diperiksa giginya. Cuman disuruh mangap aja. Lalu dibilang giginya bagus, tinggal bersihkan karang giginya nanti setelah melahirkan. Periksa gigi harus 6 bulan sekali. Oke, setelah operasi gigi kemarin jadi males periksa lagi.

Sampai di ruang Ibu dan Anak lagi, dikasih wejangan bla bla. Hasil pemeriksaan kita telah tertulis dalam buku khusus (foto bukunya menyusul), yang wajib kita bawa ke puskesmas tiap kali kontrol. Sebulan lagi kembali ke sana, dan jangan lupa untuk datang lebih pagi.

Dan beneran aku lupa, karena keburu pulang dan emang udah sepi pada istirahat. Lupa nggak ambil resep obatnya. Owalah. Obatnya berupa vitamin asam folat dan penambah darah. Asam folat masih punya sisa bulan kemarin, kalo penambah darah ini nggak ngerti yang aman buat Ibu hamil yang mana.

Friday, April 8, 2016

Tentang Trimester Pertama

Cuman pengen ngedokumentasiin apa-apa yang terjadi selama trimester pertama. Walau mungkin suram, tapi karena pengalaman pertama hamil, pastilah punya kesan tersendiri. Ini nggak terpoin perminggu, melainkan secara acak aja deh. Lupa lupa inget juga kalo mesti dirinci perminggu.

Sejak melihat garis dua minus pada testpack. Mulai lah berancang-ancang ini itu demi bayi dan kehamilan yang sehat. Misaaal, rajin beribadah, olahraga ringan, melakukan aktifitas yang bisa merangsang otak bayi, juga memakan makanan sehat. Tapi benarkah seperti itu? Benarkah sesuai rencana?

Ibadah
Shalat malam dan tilawah di awal baru tahu hamil, dijalankan dengan gigih. Terkadang seperti alarm tubuh yang secara alami terbangun dini hari. Sempat khatam di minggu ke 9. Tapi setelah itu..abu-abu. Bangun pagi terasa tak bertenaga. Bahkan pernah shalat dengan posisi duduk, karena tidak kuat berdiri sempurna. Mengaji pun sempat berhenti, karena tak kuat jika harus bersuara. Mengaji dalam hati rasanya kurang plong. Jadi sempat terhenti beberapa minggu. Yah, padahal hamil menjadi momen tepat untuk lebih dekat kepada Allah. Saat itu yang bisa dilakukan hanya berdoa, supaya keadaannya kembali normal.

Olahraga
Minggu-minggu awal hamil, masih bisa jalan kaki sepanjang gang rumah di pagi hari. Tapi karena lemas, juga pola tidur yang kacau, waktu pun jadi molor. Dan hilanglah hasrat untuk menghirup udara segar di luar. Adanya bersembunyi di kamar. Hanya keluar ketika bekerja saja, berangkat kerja pun seringnya agak telat dari biasanya. Karena memang tak sebebas seperti biasa dalam beraktivitas. Lemaaass sekali. Terkadang ada satu hari pada beberapa minggu, yang ijin tidak masuk kerja.

Aktifitas pendukung
Seperti ngisi-ngisi tts. Tapi itu nggak lama. Karena kurang greget sama males juga. Hahaii.

Makanan sehat
Pas awal emang gigih mau makan sehat. Sempet bikin tumisan bawang putih dan bayam kukus. Memperbanyak asam folat. Lalu kemudian era eneg dimulai, langsung traumaaa makan bayam kukus. Hiyeks. :(

Ngidam
Sempat kepikiran dengan bakdabak. Feuh. Ini sih walo nggak hamil pun pasti mau mau dong yaa. Apa bakdabak? Makanan bertepung yang dicampur ikan terus digoreng. Rasanya gurih dan kenyel-kenyel seru. Biasanya dicocol dengan sambel petis dan tomat. Tidak ditemukan di tempat lain, melainkan hanya di Prenduan sana. Ya, ini jajanan waktu di Pondok dulu. Secara teknis mirip pempek. Tapi walaupun makan pempek pun tak tergantikan loh. Pernah juga nyobain cireng sebagai tombo ganti. Nasibnya sama seperti pempek. Heuu. Akhirnya iseng-iseng cari di Instagram, di dunia serba cyber gini apa sih yang nggak dijual? Haha. Dan ketemu beneran, yes! Lokasinya di Malang, langsung deh ngubungi suami demi tuntasnya kengidaman sang istri. Rupanya yang jual juga masih adek angkatan suami. Alhamdulillah, suami beli adonannya untuk dibawa ke rumah.

Dan hal-hal random terjadi ketika Trimester Pertama Hamil:
  • Pernah mimpi betapa maknyusnya Bubur Kepiting yang dijual salah satu resto di Bali.
  • Mulai sembuh eneg dan nafsu makan di saat suami udah bawakan bakdabak. Sebenernya bukan karena bakdabaknya sih, tapi timingnya emang udah berlalu. Terus juga sempet nyambangi adek yang mondok, kita bawakan makanan buatnya. Aku ikutan ngicipiin. Trus juga nyeruputin es Dawet Jepara. Rasanya segeeer, gula merahnya enaaak banget.
  • Sempet mbliyur dan nyaris pingsan waktu antar Ibu ke pasar.
  • Ngebis ke Malang karena ada panggilan interview. Siap amunisi roti coklat dan susu uht.
  • Mual kalo cium aroma tumisan bawang goreng. Padahal malah suka laper dulu-dulunya kalo udah kecium tumisan bawang goreng.
  • Nggak suka makanan pedas, dan nggak selera sama makanan asin gurih. Padahal kaaan?
  • Doyan baca buku kriminal atau yang agak horor. Ini semacam obat pengalih eneg, selain tidur.
  • Kena sembelit dan muka jerawataaan!
  • Karena eneg dan nggak nafsu makan sekitar sebulanan lebih, bb turun 3 kilo. Uwow!
  • Kepengen makan nasi pecel dengan telur dadar tebel.
  • Nggak lupa juga. Kepikiran sama sayur daun kelor alias "gengan maronggih kella konce", nase' bukbuk, juko' paes atau palappa rojek (ikan laut brengkes atau bumbu rujak) dan sambel petis mix timun tomat. Pokoknya kepingin makan ala Maduraan yang sederhana itu.