Monday, June 20, 2016

Hamil dan Puasa

Hamil saja, bagiku adalah berkah. Apalagi sambil berpuasa di saat bulan Ramadhan. Supeeerr dupeeerr!

Melewati pertengahan Ramadhan, alhamdulillah hingga saat ini kami berdua (aku dan Dedek mungil) diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah di bulan penuh berkah ini. Baik itu berpuasa, maupun ibadah-ibadah lainnya. Bahkan di hari ke 12 Ramadhan, kami pun mengkhatamkan Al-Quran. Semoga bisa mengkhatamkan lagi, paling tidak 3 kali. Kalau tidak malas-malasan. Hehe.


Karena sempat setelah khatam, dua hari bolos ngaji karena sedang khusyu' menyelesaikan buku bacaan Gone Girl. Btw, sudah dua buku juga loh kami namatin buku bacaan sepanjang Ramadhan ini. Sebelumnya ada The Tales of Beedle The Bard. Untuk bacaan tak ada target sih, hanya untuk selingan. Semampu dan sesempatnya saja.

Hari petama Ramadhan kami sempatkan mengaji di Sunan Ampel. Berangkat setelah Subuh, dan kembali ke rumah menjelang Dhuhur. Suami dapat juz 5, sedangkan aku juz 4. Panasnya ketika pulang, benar-benaaarr bikin cenat cenut. Mana jalanan juga sudah ramai, jadi kecepatan tersendat untuk segera sampai di rumah. Sorenya masih segar, tapi ketika menggoreng tempe sambil berdiri untuk persiapan buka, mulai terasa pusing. Aku memang bermasalah dengan darah rendah, makanya tidak betah jika berdiri lama.

Sekali dua kali, ada juga merasakan perut melilit. Pertama ketika Ashar, dan yang kedua menjelang Dhuhur di hari yang berbeda. Yang terakhir lumayan agak lama. Sampai-sampai hanya duduk saja tak melakukan apa-apa, melihat teman-teman kerja kompak mengeset atlas. Mungkin si Dedek protes karena Ibunya ke sana kemari catat ini itu. Tapi setelah itu, sembuh-sembuh sendiri. Yang paling penting kami masih tetep lanjut puasa. Suami juga khawatir dan menyarankan supaya membatalkan puasa. Untungnya kami masih sehat wal-afiat. Rencananya minggu ini kontrol ke Puskesmas, penasaran juga pengen tahu keadaan si Dedek selama menjalankan puasa bareng.

Untuk aktifitas ataupun bekerja juga berjalan seperti biasa. Bahkan minggu pertama Ramadhan, kami berdua sempat lembur di saat wiken. Diajaklah suami juga untuk menemani.

Asupan makanan menjadi poin penting untuk puasa kali ini. Karena keadaan sudah berbeda, sekarang sudah berbadan dua. Sebisa mungkin sayur buah jadi menu wajib untuk buka dan sahur. Porsi minum juga.

Ada keanehan yang kutangkap untuk Ramadhan kali ini. Aku bukanlah termasuk orang yang doyan dengan kurma. Tapi sejak berpuasa, kurma menjadi idola buatku. Biasanya dulu kalau ada kurma, aku ambil sebutir dua butir saja, itupun kalau ingat dan ingin sekali. Untuk sekarang? Bisa makan lebih dari 5 butir kurma. Aku mencurigai si Dedek mungil yang membuat minatku pada kurma berubah.

Kemarin ketika hari pertama ke Ampel, kami sempat keliling pasar yang menjual aneka baju, tasbih, termasuk makanan-makanan yang berbau Arab. Tak ketinggalan, kurma yang makin hits di kala Ramadhan. Sebelum kami berangkat, Mama memang meminta kami untuk membeli kurma. Berburulah kami di sana. Dari yang harga paling mahal dengan kualitas bagus, hingga kurma curah yang tak menarik minat. Untung suami lumayan paham soal buah satu ini, jadi aku tidak kesulitan untuk memilih kurma yang berkualitas tapi dengan harga terjangkau. Nah, karena berkeliling itulah melihat kurma yang dipajang terutama yang kualitas bagus, lumayan menggugah selera. Sampai-berandai-andai memborong kurma hingga berkilo-kilo terutama yang mulus-mulus mengkilat kecoklatan, terlihat lezzaaat. Kenyataannya, kami hanya membeli dua tray kurma Tunis yang beratnya masing-masing 250 gr. Haha.

Karena Dedek yang doyan sama kurma ini. Aku pun mulai berburu kurma dengan merek sama tapi dengan harga lebih murah. Kebetulan ada supermarket yang mengadakan promo untuk produk kurma, tak terkecuali kurma yang kuincar. Suami pun sangat-sangat mendukung, karena manfaat dan gizi kurma tak diragukan lagi. Bahkan kami juga berencana membawakan oleh-oleh untuk Emak, ibu mertuaku yang juga senang dengan kurma nanti ketika mudik.

Ada saja rejeki yang berhubungan dengan buah favorit Dedek ini, mimggu lalu Pak Bos juga memberikan kami kurma premium seharga lumayan dengan berat 500 gr. Baru kemarin juga aku dapat uang tambahan, yang akan kugunakan untuk membeli stok kurma, paling tidak hingga lebaran nanti.

Kurma jadi perbincangan di kalangan medsos semenjak Ramadhan, terutama teman-temanku yang sedang menyusui dan masih ingin berpuasa. Resep yang beredar adalah susu kurma. Kurma yang sebelumnya direndam, diblender bersama susu. Katanya sih mampu membuat para Busui tidak lemas ketika berpuasa, dan menjaga ketersediaan asi sehingga kegiatan menyusui tetap berjalan lancar.

Makinlah menjadi obsesi dengan kurma. Kemarin malah suami membuatkan kami susu kurma yang disimpan di kulkas. Diminum ketika buka dan sahur, rasanya enaaak, segar. Efeknya memang seharian bikin tidak lemas. Biasanya, Dedek paling senang jedat-jedut di dalam perut, terutama di waktu yang sudah kuhapal, karena mungkin lapar. Tapi setelah minum susu kurma tadi, pergerakannya jadi berkurang dan cenderung anteng malah. Waaah, cocok banget dia sama susu kurma. Haha. Tapi jadi kangen sebenernya sama gerakan-gerakannya yang lucu, karena sudah biasa berisik di waktu Ashar. Kalau Dedek sudah ngulet-ngulet, biasanya aku elus-elus sambil kubisikkan untuk bersabar dulu.

Alhamdulillah, tinggal separuh perjalanan lagi Ramadhan tahun ini. Agak sedih juga sebenarnya. Karena merasa begitu cepat Ramadhan akan meninggalkan kami. Ya Allah, semoga kami serta keluarga kami dilancarkan dan dimampukan untuk menjalankan ibadah-ibadah di Ramadhan-Mu ini dengan khusyu'. Aamiin.



1 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar