Tuesday, February 28, 2017

[Review Buku] Keluarga Cemara

Ahmada menjadi 'cameo' dalam foto ini :D
Judul Buku : Keluarga Cemara #1
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2013
Tebal : 288 halaman

Acara rutin di televisi yang dulu kita kenal di area 90-an, yang asalnya berasal dari cerita karangan Arswendo Atmowiloto ini. Mengisahkan keluarga dari gadis kecil bernama Cemara yang biasa dipanggil Ara. Keluarga ini terdiri dari; Abah sebagai kepala keluarga yang sehari-harinya bekerja sebagai penarik becak, Ema sang ibu yang membuat Opak untuk dijajakan putri sulungnya, Euis yang kelas 6 SD,  juga Ara sendiri yang baru masuk TK serta Agil si bungsu.

Dahulunya, keluarga ini sangat berkecukupan. Mereka tinggal di Jakarta, hidup dengan rumah yang lengkap dengan perabotannya, mobil dan segala kemewahannya. Pada saat itu, di antara ketiga anaknya, hanya Euis yang sempat merasakan kehidupan serba berada. Sebelum akhirnya mereka ‘jatuh miskin', karena usaha Abah yang ditipu rekannya sendiri. Akhirnya mereka pindah dan tinggal di rumah yang sangat sederhana di desa.

Sekalipun hidup mereka kurang beruntung secara materi, tapi hubungan antar anggota keluarganya erat sekali. Terkadang ada pertengkaran-pertengkaran kecil antar kakak beradik ini, yang membuat Abah perlu turun tangan untuk menyelesaikan. Mereka pun kembali akur dan saling menyayangi. Euis sebagai kakak tertua yang melindungi adik-adiknya dengan caranya sendiri. Ara yang lugu dan polos. Serta Agil, si bungsu peniru yang selalu mengiyakan tiap apa yang diceritakan oleh Ara. Abah sebagai sosok Ayah yang menjadi idola buat anak-anaknya. Ema yang sangat sabar, tak pernah mengeluh pada keadaan, selalu patuh kepada suaminya yang mengingatkan bahwa dalam hidup ini tak perlu menyesali hal yang telah lalu. Hubungan Ema dan Abah pun terlihat harmonis dalam cerita ini. Suguhan tentang keluarga yang patut diteladani, karena pondasi pertama yang membentuk karakter anak-anak adalah interaksi erat dalam keluarganya.

Dalam mendidik, Abah selalu menjelaskan alasan kepada anak-anaknya jika melarang sesuatu. Abah juga pandai membahagiakan anak-anaknya meski berada dalam keterbatasan, misal membuat puisi di ulang tahun Guru TK Ara, becak yang dijadikan helikopter untuk perayaan karnaval, membuat akuarium dari toples opak.

Buku ini memang telah ditulis lama oleh sang penulis. Tapi nilai-nilai di dalamnya sangat relevan di jaman sekarang. Dimana kejujuran menjadi barang langka. Padahal seperti yang dilakukan Abah dalam mendidik anak-anaknya, kejujuran mulai ditanam dan disemai dari lingkup terkecil yakni keluarga.

Membaca buku ini membuat kita berkali-kali berurai air mata. Bukan hanya karena kemiskinan mereka, tetapi banyak kesempatan dan keberuntungan yang nyaris mereka genggam lalu lenyap begitu saja. Tapi mungkin benar kata sang penulis. Jikalau air mata bisa menjadi simbol kebahagiaan, inilah kisah itu.

Friday, February 24, 2017

(Super) Mada Usia 4 Bulan

Tentang Ahmada yang sudah berusia 4 bulan :
  • Udah imunisasi DPT 2. Polio nya dari dinas masih kehabisan katanya. Kemungkinan bakal cari sendiri ke klinik deket rumah. Beratnya ditimbang 6.1 kilo.
  • Mulai digundul dikarenakan ada kerak seperti ketombe di kulit kepalanya. Hal yang wajar terjadi pada bayi sih. Tapi kok gemes aja pengen bersihkan. Dan dengan dicukur lebih gampang bersihkannya loh. Tukang cukurnya tak lain; Mbah dan Ibunya sendiri. Hehe. Mada belum sempet dicukur sebelumnya, karena susah cari tukang cukur buat bayi apalagi anak bayi ini aktifnya warbiyasak. Kami aja nyicilin nyukurnya. Cari waktu malam. Karena kalo siang, jangan harap deh. Itupun hasilnya nggak rapi karena si dedek bayi gerak-gerak terus, terutama pas ngeriknya. Kalo cuman potong kasaran, lebih gampang. Apalagi rambutnya memang cukup lebat. Dan sekarang udah mulai tumbuh kok.
  • Karena udah mahir mengkurep dengan gampilnya. Dia mulai coba-coba nungging dan angkat badannya bagian depan. Gerakannya udah kayak mau push up gitu. Haha.
  • Bisa muter dan mindahin posisi tubuhnya pake kekuatan tangan dan kakinya, juga dengan dada sambil mengkurep. Pernah dapet satu putaran malah. :D
  • Suka narik-narik bajunya. Atau apapun yang bisa dia jangkau.
  • Hobi masukin semua benda ke mulutnya, atau yang ada di dekatnya.
  • Abis masukin ke mulut, selanjutnya jadi Rajanya ngemut tangan deh. Kalau dilarang atau diambil tangannya langsung marah. *anak bayi udah tau marah ye. 
  • Udah mau dipakein topi. Alhamdulillah.
  • Disangka matanya dikasih celak. Padahal sih nggak. Emang bulu matanya si boncil ini lebat dan panjang.
  • Doyan jejeritaaan. Heboooh. Teriak-teriaknya dengan sepenuh hati kayak mau keselek malah. Sampe ngeri aja kalau tetangga depan/sebelah nyangka diapa-apain gitu sama emboknya. Haa. Dan pernah semenit setelah jejeritan, tetiba anteng, pas diliat eh udah bobok nyenyak ternyata! Mungkin saking capek dan ngantuknya.
  • Beberapa kali Mada memang pernah tidur tanpa perlu dimimiki dulu. Seperti kasus di atas. Cukup menggembirakan kalau itu memang tandanya dia bisa mandiri.
  • Kalau main sama guyon, waduh jangan ditanya. Ayahnya paling jago soal ginian. Makanya tiap wiken, aku sebagai sumber ASI-nya jadi nggak laku. :D
  • Menang giveaway berupa buku dongeng Charles Dickens terbitan BIP, dalam rangka Giving Books International Day yang diselenggarakan oleh Toko Buku Binta. Lumayaaan, irit 65 ribu plus ongkirnya dari Jombang. Haha. Alhamdulillah. Rejeki anak bayi.



Tuesday, February 21, 2017

Hubby's Quotes

Kalau ada kutipan suami yang menarik lagi, mungkin akan ada postingan-postingan selanjutnya. :D

Pada suatu siang kami makan bareng di rumah. Iya, karena kami sedang menjalani LDM, tiap kebersamaan menjadi sangat berarti. Termasuk makan bareng. Waktu itu kami makan seperti biasanya, masakan ala rumahan sederhana. Aku masak sayur, lauk seadanya dan sambel bikinan suami. Suami memang tidak repot soal makan, beliau bisa sangat mandiri sekali. Nggak harus ini itu, asal ada nasi dan lauk ya dimakan saja. Kalaupun improvisasi, yaa..bikin-bikin sendiri lah. Contohnya sambel itu.

Sedang asyiknya makan, tiba-tiba beliau nyeletuk; "Hidup itu ya kayak gini, Sayang.Cukup-cukup aja."
Aku bertanya, "Maksudnya?"
Beliau menjawab, kurang lebih seperti ini, "Iya,cukup. Bagi saya, hidup cukup itu kita sudah mampu bantu orang lain. Nggak perlu lauk dan makanan mahal."

Can get the point? ^_^

Untuk urusan bijak-bijakan dalam hidup, suami memang andelannya. Mungkin karena sudah lama merantau apalagi di negeri orang (bahkan benua lain), bertemu banyak orang dengan warna kulit, mata, usia, tingkat pendidikan, jabatan, asuhan kedua orangtua serta kerasnya hidup tlah menempa suami menjadi pribadi yang seperti ini. Mau rekan kerja, rekan biasa, junior atau senior, jujukannya pasti suami. Bahkan keluargaku sendiri juga mulai mempercayainya, selain menyerahkan aku pastinya. :D

Lantas yang kedua ini kami sedang ngobrol di chat, andalan pasangan LDM. Hehe.

Waktu itu suami membagikan lowker menggiurkan yang berada satu kota dengan suami. Ngiler dooong pastinya. Karena lowker ini pernah aku lepas taun lalu, dikarenakan masih hamil. Lalu sekarang? Apa kabar? Suami tentunya tidak setuju. Dan jawabannya bikin terhenyak.

"Saya nggak mau Mada jadi nggak terurus karena urusan nyari duit. Saya lebih kuat lapar daripada anak terbengkalai..."

Uwuuwuuuw. Suami dakuuh. :') Lucky me, having you in my life! :*

Dipotret tunangannya waktu sebelum nikah, perut masih tipis loh :P

Friday, February 3, 2017

(Super) Mada Imunisasi DPT 1

Kenapa imunisasi yang ini sampe ditulis? Denger -denger banyak pengalaman horor setelah bayi diimunisasi, terutama DPT ini.

Harusnya, berdasarkan buku Pink (buku pedoman wajib dari Puskesmas buat Ibu dan Anak) Mada perlu diimunisasi DPT di umur 2 bulan mau ke 3 bulan. Gitu yang ku periksa di buku tersebut. Tapi sebelumnya, ketika Mada imunisasi BCG, nakesnya nyaranin supaya datang kembali buat imunisasi DPT kalau dia udah 3 bulan. Mada tepat usia 3 bulan di hari Selasa, sedangkan jadwal DPT adanya hari Jumat. Berarti plus 3 hari doong. Oke lah, kami turuti.

Maka datanglah Ayah-Ibu nya nganterin dia buat diencus sesuai saran nakes tersebut. Dan apakabar kata nakes yang lebih senior dari yang sebelumnya? Beliau negur aku, harusnya Mada diimun sebelum usia 3 bulan, sesuai di buku petunjuk. Hrrrr. Akhirnya Mada dapet posisi tanda ijo deh tiap waktu imunisasi. Karena jaraknya harus sebulan tet kaaan? Huuuuh. Padahal yang BCG itu awal bulan Desember, dan DPT (yang disarankan nakes junior) selanjutnya di ujung akhir Januari.Yasudalaaah. Katanya sih, kotak ijo masih dalam batas aman waktunya. Dadahbabaiii kotak putih.

Mulai siap-siap dienjus deh anak bayi ganteng, yang sebelumnya dia musti ditimbang dulu. Bbnya 5.5 kilo. Abis disuntik, Mada nangis kejer. Langsung deh disumpal mimik dari Ibunya. Nakes senior juga meresepkan obat penurun panas, kalau nanti si bayi demam. Beliau juga menyarankan untuk mengompres bekas suntikan dengan air matang, bukan dengan air hangat. Oke. Setelah dapat obatnya kami pulang.

Sampai di rumah, Mada masih bersikap seperti biasanya. Aktif tingkahnya. Drama dimulai ketika Ayah nya pergi cukur rambut. Mada mulai demam, tapi masih wajar geraknya. Sepulang ayahnya dan mulai siap-siap berangkat Jumatan. Si kecil bayi mulai rewel-wel. Malah nangis nyaris menjerit. Mungkin badannya mulai nggak nyaman karena panas tersebut. Diukur pake termometer suhu badannya 37.8 derajat C. Digendong-gendong lah, ditimang-timang lah, dipeluk-peluk skin to skin untuk menyalurkan panasnya. Dan nggak mau kalau digeletakin di kasur. Itu berlanjut sampe Ayahnya berangkat dan pulang dari Jumatan. Pasti kalau udah ada tanda mau digeletakin, si bayi ini langsung jerit histeris. Digendong pun masih tetep rewel. Ohlaalaaa.

Barulah ketika kami makan siang, bergantian gendong, Mada mulai tenang tapi anteeeeng sekali. Nggak segesit dan secerewet biasanya. Badannya masih panas sih, tapi kami belum ngasih dia obat. Mungkin kalau rewelnya lebih hebat, barulah dikasih obat. Apalagi kalo nanti malam sampe nggak bisa tidur. Mada juga tetap aku susukan, lebih siaga malah. Supaya rewelnya akan haus dan lapar nggak terlalu merisaukan dia. Lantas menjelang siang, sang bocah mulai kembali bawel ngoceh-ngoceh dan ketawa. Ahh..leganya. Malah kami berdua yang tepar setelah bergantian menggendong untuk menenangkannya. Matanya juga mulai awas dan aktif, serta kembali ceria lagi si jagoan kami ini. Alhamdulillah.

Hingga sore dan malam badannya masih tetap panas. Ketika Maghrib juga seperti biasa aku susukan karena itu memang jadwal tidurnya Dan lagi-lagi alhamdulillah Mada mau tidur seperti biasa. Walau kami tetap siap siaga dengan obat dari Puskesmas, kalau nanti Mada bangun, rewel, dan susah tidur. Ternyata tidurnya pun nyenyak sampe keesokannya. Palingan bangun untuk minta mimik saja seperti malam-malam biasanya. Obat penurun panasnya pun masih utuh segelnya, belum sempat kami buka.

Jadi intinya, tetap tenang dan siap siaga menghadapi bayi setelah imunisasi. Kalaupun dia panas, memang hal yang wajar sih. *btw katanya ada imunisasi yang nggak bikin panas ye? Yetapi saya pilih yang dari Pemerintah aja deh yaa. Yang nggak bikin panas, malah musti diinjeksi berkali-kali, kasiaan si kecil* Mungkin memang agak lebih rewel, tapi pastikan dia nyaman. Yah seperti menenangkan dengan cara menggendongnya, memeluknya, serta tetap dapat ASI yang cukup. Syukur-syukur kalau bisa melewatinya tanpa obat penurun panas. Keesokannya Mada malah kami bawa jalan-jalan ke Palapa. Dia enjoy-enjoy aja tuh.