Friday, February 3, 2017

(Super) Mada Imunisasi DPT 1

Kenapa imunisasi yang ini sampe ditulis? Denger -denger banyak pengalaman horor setelah bayi diimunisasi, terutama DPT ini.

Harusnya, berdasarkan buku Pink (buku pedoman wajib dari Puskesmas buat Ibu dan Anak) Mada perlu diimunisasi DPT di umur 2 bulan mau ke 3 bulan. Gitu yang ku periksa di buku tersebut. Tapi sebelumnya, ketika Mada imunisasi BCG, nakesnya nyaranin supaya datang kembali buat imunisasi DPT kalau dia udah 3 bulan. Mada tepat usia 3 bulan di hari Selasa, sedangkan jadwal DPT adanya hari Jumat. Berarti plus 3 hari doong. Oke lah, kami turuti.

Maka datanglah Ayah-Ibu nya nganterin dia buat diencus sesuai saran nakes tersebut. Dan apakabar kata nakes yang lebih senior dari yang sebelumnya? Beliau negur aku, harusnya Mada diimun sebelum usia 3 bulan, sesuai di buku petunjuk. Hrrrr. Akhirnya Mada dapet posisi tanda ijo deh tiap waktu imunisasi. Karena jaraknya harus sebulan tet kaaan? Huuuuh. Padahal yang BCG itu awal bulan Desember, dan DPT (yang disarankan nakes junior) selanjutnya di ujung akhir Januari.Yasudalaaah. Katanya sih, kotak ijo masih dalam batas aman waktunya. Dadahbabaiii kotak putih.

Mulai siap-siap dienjus deh anak bayi ganteng, yang sebelumnya dia musti ditimbang dulu. Bbnya 5.5 kilo. Abis disuntik, Mada nangis kejer. Langsung deh disumpal mimik dari Ibunya. Nakes senior juga meresepkan obat penurun panas, kalau nanti si bayi demam. Beliau juga menyarankan untuk mengompres bekas suntikan dengan air matang, bukan dengan air hangat. Oke. Setelah dapat obatnya kami pulang.

Sampai di rumah, Mada masih bersikap seperti biasanya. Aktif tingkahnya. Drama dimulai ketika Ayah nya pergi cukur rambut. Mada mulai demam, tapi masih wajar geraknya. Sepulang ayahnya dan mulai siap-siap berangkat Jumatan. Si kecil bayi mulai rewel-wel. Malah nangis nyaris menjerit. Mungkin badannya mulai nggak nyaman karena panas tersebut. Diukur pake termometer suhu badannya 37.8 derajat C. Digendong-gendong lah, ditimang-timang lah, dipeluk-peluk skin to skin untuk menyalurkan panasnya. Dan nggak mau kalau digeletakin di kasur. Itu berlanjut sampe Ayahnya berangkat dan pulang dari Jumatan. Pasti kalau udah ada tanda mau digeletakin, si bayi ini langsung jerit histeris. Digendong pun masih tetep rewel. Ohlaalaaa.

Barulah ketika kami makan siang, bergantian gendong, Mada mulai tenang tapi anteeeeng sekali. Nggak segesit dan secerewet biasanya. Badannya masih panas sih, tapi kami belum ngasih dia obat. Mungkin kalau rewelnya lebih hebat, barulah dikasih obat. Apalagi kalo nanti malam sampe nggak bisa tidur. Mada juga tetap aku susukan, lebih siaga malah. Supaya rewelnya akan haus dan lapar nggak terlalu merisaukan dia. Lantas menjelang siang, sang bocah mulai kembali bawel ngoceh-ngoceh dan ketawa. Ahh..leganya. Malah kami berdua yang tepar setelah bergantian menggendong untuk menenangkannya. Matanya juga mulai awas dan aktif, serta kembali ceria lagi si jagoan kami ini. Alhamdulillah.

Hingga sore dan malam badannya masih tetap panas. Ketika Maghrib juga seperti biasa aku susukan karena itu memang jadwal tidurnya Dan lagi-lagi alhamdulillah Mada mau tidur seperti biasa. Walau kami tetap siap siaga dengan obat dari Puskesmas, kalau nanti Mada bangun, rewel, dan susah tidur. Ternyata tidurnya pun nyenyak sampe keesokannya. Palingan bangun untuk minta mimik saja seperti malam-malam biasanya. Obat penurun panasnya pun masih utuh segelnya, belum sempat kami buka.

Jadi intinya, tetap tenang dan siap siaga menghadapi bayi setelah imunisasi. Kalaupun dia panas, memang hal yang wajar sih. *btw katanya ada imunisasi yang nggak bikin panas ye? Yetapi saya pilih yang dari Pemerintah aja deh yaa. Yang nggak bikin panas, malah musti diinjeksi berkali-kali, kasiaan si kecil* Mungkin memang agak lebih rewel, tapi pastikan dia nyaman. Yah seperti menenangkan dengan cara menggendongnya, memeluknya, serta tetap dapat ASI yang cukup. Syukur-syukur kalau bisa melewatinya tanpa obat penurun panas. Keesokannya Mada malah kami bawa jalan-jalan ke Palapa. Dia enjoy-enjoy aja tuh.






0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan Komentar